
"Maaf tuan, ini ada tuan Abraham sedari tadi menghubungi anda berkali-kali namun anda tidak mengangkat panggilan tersebut," kata kepala pelayan berlari tergopoh-gopoh ke arah Rio dan Nisa sambil memegang telephon yang masih menyala.
"Iya ponselku berada di kamar," jelas Rio dengan singkat setelah itu telepon tadi berpindah ke tangan Rio dengan cepat.
"Ha...." Rio belum sempat menyelesaikan ucapannya namun dia sudah di semprot Abraham dengan kemarahan dari seberang sana.
"Kamu sedari tadi di hubungi berkali-kali kenapa tidak diangkat hah....! Bunda dan kakak mu (Arin ) mencemaskan mu karena semalam bunda bermimpi sesuatu yang aneh," entah kenapa Abraham yang biasanya irit berbicara berubah bawel mengomel seperti ini.
Rio di sampai menganga di buat nya, bagaimana tidak baru kali ini dia diomelin sang kakak ipar panjang lebar begini, padahal biasanya Abraham cuek terlihat cool .
"He he he he he he, sabar kak. Nafas dulu," ledek Rio sambil cengengesan. Berbeda dengan Rio justru Nisa di sampingnya mengerutkan keningnya saat melihat sang suami justru cengengesan tak jelas seperti ini. Apa penyebabnya? Padahal yang menghubunginya adalah Abraham sang kakak ipar yang terkenal lebih dingin dan pendiam serta auranya lebih kejam dan dingin di bandingkan Rio dan Tio.
"Kenapa?" Bisik Nisa bertanya di telinga Rio dengan rasa yang begitu penasaran.
"Dasar anak nakal kamu, kakak dan bunda dari tadi khawatir dengan kamu justru kamu sekarang di sana cengengesan begini,"
Saat ini ponsel sudah berpindah ke tangan sang kakak yang tak lain adalah Arin.
"Maaf kak, tadi aku lupa membawa ponsel ku karena sibuk mencari Nisa," jelas Rio keceplosan berbicara dan menyebut nama Nisa sebagai alasan.
"Ha?? Nisa kenapa? Hilang? Ah jangan-jangan kamu menyakitinya?" Tanya Arin beruntun.
"Bu bukaaan begitu kak," buru-buru Rio menyangkal ucapan sang kakak secepatnya, dia tak ingin kakaknya itu salah paham dan berfikir aneh-aneh.
Nisa dengan cepat merebut ponsel itu saat namanya di sebut, Nisa tahu kalau di seberang sana bukan Abraham melainkan Arin sang kakak perempuan Rio yang baik.
"Halo kak Arin? "Sapa Nisa.
__ADS_1
"Eh...." Arin terlonjak kaget karena bukan Rio yang menjawab justru Nisa.
"Em hai, bagaimana kabar mu saat ini?" Tanya Arin karena Rio maupun Nisa sudah lebih dari satu bulan tak memberi mereka kabar.
"Alhamdulillah baik kak, kalau kak Arin, bunda, Amanda dan si kembar juga bagaimana kabarnya?" Tanya Nisa dengan semangat menanyakan kabar semua yang dia ketahui.
"Satu-satunya dong tanyanya?" Kata Arin terkekeh di sebrang sana.
"Kak aku ada kabar bahagia, tetapi aku ingin lihat wajah kalian semua," kata Nisa dengan cemberut.
"Nak ini bunda, bunda kangen sama kalian," kata bunda mengambil alih ponsel dari tangan Arin.
"Sama bunda, kamu juga kangen," jawab Rio dan Nisa bersamaan.
"Hai Nisa kapan kalian pulang?" Teriak Amanda dari jauh dan terdengar sampai ke Nisa dan Rio.
Rio pun meminta kepala pelayan untuk mendekat, dia membisikkan kata di telinga kepala pelayan tersebut.
Dengan cepat kepala pelayan itu melakukan perintah dari Rio.
Nisa pun mengobrol dengan sang bunda tak menyadari apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
Tak butuh waktu lama, Mr Albert kepala pelayan itu datang membawa barang yang di minta oleh Rio.
"Ini tuan,"
"Terima kasih,"
__ADS_1
Rio dengan gesit merebut ponsel di tangan Nisa.
"Ish apaan sih," protes Nisa karena sedang asyik-asyiknya berbicara dengan keluarga Rio justru ponsel itu di ambil paksa oleh suaminya.
"Sttttt...." Rio mengintruksikan kepada Nisa untuk diam dengan memberi kode bibirnya di taruh di depan mulutnya.
"Kak Arin, ku matikan dulu telephon ini. Ku hubungi lagi pakai ponsel ku, kita bisa video call agar Nisa bisa melihat wajah kalian," usul Rio dan Arin pun setuju.
Tut..... Panggilan telephon itupun terputus.
"Ayo cepat sayang, aku sudah tak sabar ingin melihat mereka semua," kata Nisa menggoyangkan lengan Rio dengan bahagia.
Ah mood bumil satu ini benar-benar membuat Rio sering gemas di buatnya.
Rio dengan cepat melakukan panggilan video call.
Tut....
"Haiiiiii Nisa sayang,"
Saat panggilan itu terhubung, suara Amanda jadi yang pertama bicara dengan berteriak senang saat melihat wajah Rio dan Nisa terpampang di layar persegi itu.
"Hai Amanda, aku kangen," teriak Nisa juga dengan heboh di sebrang sana.
Ponsel berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain.
Bersambung.....
__ADS_1