
Drap drap drap drap drap.... Langkah kaki terdengar menggema.
Dia berjalan cepat sesekali sambil berlari kecil dengan tangannya mengendong perempuan cantik yang tengah tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat begitu khawatir saat melihat perempuan yang dia cintai masih menutup matanya.
"Nisa bertahanlah," lirih pria itu dengan wajah khawatir.
"Kenapa dia ada di sini? Apa yang membuatnya berada di rumah sakit? Terus kanapa dia tadi menghindari suaminya (Rio)." Batin pria itu bertanya-tanya dalam hati nya saat ini. Ada sedikit rasa binggung dari nadanya.
Raut wajah cemas terlihat begitu kentara di wajah dan matanya tak henti-hentinya menatap ke arah perempuan dalam gendongannya saat ini.
Dia semakin mempercepat langkah kakinya.
Drap drap drap drap drap....
Terdengar langkah kaki begitu cepat, pria itu berlari sambil sesekali menatap ke arah wajah cantik yang masih terpejam dalam gendongannya saat ini berharap perempuan itu segera membuka matanya.
"Suster tolong bantu saya membuka pintu ini," pinta pria itu dengan nada keras bercampur rasa panik saat melihat salah satu suster melintas di depannya. (Anggap saja berbicara dalam bahasa negara P ya gaes)
Suster pun bergegas menghampiri dan membantu pria itu.
Ceklek...
Dokter menyergit saat pintu ruangannya di buka seseorang dari luar, padahal dia berfikir dia tidak mempunyai janji dengan pasiennya.
Suster pun membantu pria tadi saat melihat pria itu sedikit kesusahan. Setelah pintu terbuka lebar, pria itu bergegas menaruh Nisa ke atas ranjang.
Setelah itu dokter mengusir suster keluar mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan prakteknya.
"Dokter Reno tolong teman saya," kata pria itu sedikit berteriak karena panik kepada dokter yang sepertinya cukup akrab dengan nya.
"Siapa dia?" Tanya sang dokter menyergit heran, saat melihat temannya itu datang mengendong seseorang perempuan yang sepertinya pingsan.
"Sudah jangan banyak tanya, cepat kamu periksa saja dia," jawab pria itu datar tak menanggapi pertanyaan dari dokter tampan yang masih dilanda penasaran.
"Tolong periksa dia cepat, aku takut terjadi apa-apa dengan nya," kata pria itu dengan panik.
"Ck sabar, aku ambil alat ku dulu," kata dokter Reno kembali ke meja mengambil stetoskop miliknya.
Setelah itu dokter Reno memeriksa Nisa dengan hati-hati, beberapa kali dia menyergit kan keningnya sambil melirik ke arah pria di depannya dengan pandangan rumit.
"Dia kenapa?" Tanya pria itu dengan raut khawatir apalagi melihat reaksi dokter itu yang membuatnya semakin khawatir.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa dia?" Bukannya menjawab justru Dokter Reno malah bertanya kepada dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia? Apa dia menderita penyakit yang berbahaya?" Tanyanya dengan panik.
Dokter Reno mengelengkan kepalanya membuat pria itu bernafas lega.
"Terus kalau bukan, dia kenapa?" Tanya pria itu langsung beralih menatap ke arah Nisa dengan prihatin.
"Sepertinya dia hamil," jawab dokter Reno dengan singkat.
"Apa...." Pria itu berteriak kaget.
"Hamil? Tidak mungkin kamu pasti bohong," Pria itu tercengang lalu mengelengkan kepalanya sebagai tanda tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dokter yang sudah lama menjadi sahabatnya itu.
"Hmmm ....." Dokter Reno berdehem sambil menepuk pundak temannya itu dengan tatapan rumit.
Melihat temannya yang kaget membuat mulut sang dokter terasa gatal untuk tidak bertanya.
"Ansel jangan bilang kalau ini anak mu terus kamu menyangkalnya?" Tanya dokter Reno dengan pandangan menyelidik.
Pria yang dipanggil Ansel hanya bisa mengelengkan kepalanya dengan lemas, menatap nanar wanita yang namanya masih segar di ingatannya itu dengan kecewa.
Sedangkan di tempat berbeda...
Bruuuuuakkk....
Pyarrr.....
"Ahhhh......" Rio menjambak rambutnya kasar, setelah beberapa jam menunggu ternyata Nisa belum juga kembali.
"Nisa di mana kamu?"
"Hiks hiks hiks hiks hiks, sayang kembalilah,"
"Nisa jangan tinggalkan aku,"
Tiba-tiba Rio tersadar seperti ada sesuatu yang janggal.
"Kenapa Nisa bisa berada di sana? Pasti ada seseorang yang merencanakan semua ini," guman Rio memikirkan semua kemungkinan bahkan orang-orang yang bisa melakukan semua ini.
"Apakah dia Ansel? Tuduh Rio.
__ADS_1
Rio pun mengirimkan pesan kepada seseorang untuk menyelidiki Ansel hari ini, Rio hanya mencurigai satu orang mengingat dia dan Nisa saat ini berada di negara orang tentunya musuh tidak ada yang tahu karena mereka juga datang menggunakan pesawat pribadi milik Abraham. Selama berada di sini hanya satu nama saja yang pernah mengusik mereka.... ANSEL HARVIS.
Rio pun bergegas menuju ruang kendali untuk melihat cctv namun niat itu dia urungkan mengingat sang kakak ipar (Abraham) tidak memasang cctv di setiap kamar karena itu adalah privasi.
"Ahhh....." Rio mengeram kesal.
"Ah kenapa aku bisa lupa begini, aku kan bisa retas ponsel Nisa untuk melihat pesan apa saja yang masuk di ponselnya," guman Rio dengan wajah sedikit lega.
Rio pun mengambil laptop miliknya namun dan melakukan aksinya, Rio menyergit heran saat melihat lokasi di mana ponsel itu berada.
"Kenapa lokasinya berada di sini?" guman Rio dengan lirih.
Bruak....
Rio mengebrak meja kala membaca pesan yang di kirim oleh nomor saja kepada Nisa jadi Rio tahu kalau Nisa bahkan tak mengenal pengirim pesan itu.
"Ardimas sialan, kamu mengirimkan foto ku kepada Nisa," guman Rio mengertakkan giginya dengan kuat penuh emosi.
"Pasti Nisa kecewa kepada ku saat melihat foto ku,"
"Ahhh Rio kamu memang brengsek karena sudah membuat Nisa kecewa,"
Tak henti-hentinya Rio meracau tak jelas.
"Aku harus mencari di mana ponsel Nisa saat ini.
Rio pun mematikan laptop miliknya dan bergegas menyusuri tiap sudut kamar guna mencari keberadaan ponsel istrinya.
"Di mana ponsel Nisa," guman Rio saat tak menemukan ponsel di dalam kamarnya.
Rio pun keluar dari kamarnya dan meminta salah satu bodyguard untuk mendekat.
"Kamu suruh yang lainnya untuk mencari keberadaan ponsel istri ku, karena lokasi ponselnya ada di sekitar sini," perintah Rio.
Bodyguard itu menangguk dan menyuruh semua temannya untuk mencari keberadaan ponsel nona Nisa.
Rio pun kembali ke dalam kamar, merenung memikirkan di mana keberadaan istrinya sekarang.
"Sayang, di mana kamu saat ini? Pasti kamu sedang sedih sekarang," guman Rio membayangkan sang istri pasti sedang menangis karena nya.
Bersambung....
__ADS_1