
Hoaaaammm....''
"Ayo sayang kita tidur yuk,'' bujuk Arin kepada Aurel yang sedari tadi terlihat menguap menandakan kalau dirinya sudah mengantuk namun gadis kecil itu terlihat masih engan untuk tidur.
Hari sudah siang mungkin sekitar jam 14.00, matahari terasa begitu menyengat di kulit. Udara sudah semakin panas di kulit.
Aurel mengelengkan kepalanya menolak permintaan sang Mama yang menyuruhnya untuk tidur.
"Aku belum ngantuk ma," protes Aurel dengan mata yang sudah sayu karena merasa mengantuk.
Arin terkekeh melihat wajah sang anak. Arin membiarkannya saja, toh kalau Aurel sudah tertidur pulas nanti Arin bisa meminta salah satu dari bodyguard yang menjaganya untuk mengendong sang anak nantinya.
Gadis kecil itu berkali-kali tertunduk ke bawah kala tangannya tak sanggup menopang kepalanya yang sudah terasa berat kehilangan keseimbangan.
Arin terkekeh gemas melihat tingkah anaknya itu, yang tengah mencoba menahan rasa kantuk di matanya dari tadi. Biasanya Aurel sudah tertidur di kamarnya mengingat jam tidur siang Aurel.
Ya Abraham dan keluarga kecil sudah pulang ke mansion sedari tadi karena Andra yang sudah rewel, mungkin kangen dengan suasana kamar nya yang nyaman itu.
Brrrummmm.....
Terdengar suara mobil di sekitar sana. Ya yang tak lain adalah suara deru mobil Tio itu terdengar menggema sampai ke dalam mansion Abraham, Aurel yang sedari tadi tengah bermain di halaman luar mansion terlonjak kaget mendengar suara mobil Tio.
Mata gadis kecil yang tadi terlihat sayu dan sedikit terpejam itu berubah langsung terang, seperti tidak ada rasa kantuk yang tertinggal di sana.
"Ha om Tio," Aurel langsung berteriak memanggil nama Tio dengan kencang. Aurel pun tersenyum lebar saat mendengar suara mobil yang dia yakini adalah milik Rio sang paman yang sering dia jahili.
Gadis itu langsung berlari menuju garasi mobil mencari keberadaan mobil berserta pemiliknya yang tak lain adalah Tio.
Arin menghela nafas panjang setelah itu Arin beralih menatap ke arah pengasuh Andra, " mbak tolong bawa masuk Andra ya," pinta Arin kepada pengasuh Andra.
Andra tadi sempat rewel tidak mau tidur di kamar jadi Arin meminta pengasuhnya itu untuk membawanya sekalian keluar menemani Aurel bermain di taman.
Memang sedari tadi Aurel tengah bermain di taman bersama pengasuhnya di bawa teduhnya pohon mangga, diatas tikar itu ada berbagai macam permainan Aurel bawa ke sana, ada boneka dan mainan masak memasak. Mau tak mau Arin harus menemani Aurel.
"Baik nya," jawab mbak nya itu dengan patuh sambil membungkuk merai Andra untuk di gendong.
__ADS_1
Arin pun bergegas berlari mengikuti bocah itu. Arin tak habis pikir bagaimana tidak, tadi Aurel terlihat mengantuk dan sekarang wajah anak perempuannya itu sudah cerah secerah sinar matahari, tak ada raut wajah lelah ataupun tanda-tanda rasa mengantuk di wajahnya sama sekali.
Akhirnya Arin pun bisa menghampiri sang anak yang tak jauh darinya.
"Aurel sayang, om Tio mungkin sudah tidak akan tinggal di sini lagi," kata Arin memberi pengertian kepada anaknya itu.
"Kenapa ma? Tadi Aurel dengar kok suara mobil om Tio ma," rengek gadis kecil itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks,"
Arin pun berjongkok menyamakan posisinya dengan sang anak.
"Sttt jangan menangis, om Tio tidak akan sering datang ke rumah kita karena om Tio sudah punya rumah sendiri tetapi Aurel jangan sedih karena rumah om Tio ada di sana," kata Arin menarik sang anak untuk keluar dari pintu gerbang dan menunjukkan sebuah rumah bercat putih dengan pagar berwarna putih juga yang menjulang tinggi seperti dengan kediaman mereka.
"Jadi om Tio pindah di sana," kata Aurel menunjuk ke arah rumah tadi yang di tunjukkan oleh Arin.
"Hmmm, om Tio sekarang tinggal bersama dengan Tante Amanda terus Oma sama om Rio masih tinggal dengan kita kan?" Tanya Aurel dengan tatapan polosnya
"Kalau Oma tentunya tinggal dengan kita sedangkan om Rio juga akan tinggal di rumahnya sendiri tuh ada di samping rumahnya om Tio," kata Arin menunjukkan rumah yang terletak tidak jauh dari rumah Tio.
"Tentu dong, ayo kalau Aurel mau main ke sana mumpung mereka baru saja datang," ajak Arin menarik tangan sang anak.
"Asyikkk...."
"Eh kalian mau apa?" Tanya Arin menoleh ke arah 2 pria berbadan tegap yang bersiap mengikuti langkah nya.
"Kamu hanya ingin memastikan keselamatan nyonya dan nona muda," jawab bodyguard tersebut.
"Kalian jangan lebay seperti tuan kalian, aku hanya mau kesana saja, jaraknya dekat begitu masih saja di kawal," protes Arin sambil menggerutu kesal karena mereka pasti akan mengekor kemanapun Arin melangkah sesuai dengan perintah suami posesif nya.
Glekkk...
'Nasib jadi bawahan,' batin kedua bodyguard itu.
"Maaf nyonya tetapi ini semua perintah tuan muda Abraham, kalau ada ingin protes silahkan anda menghubungi tuan Abraham sendiri," jawab bodyguard itu menunduk apalagi tatapan mata nyonya mereka seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Ya sudah mana ponsel kalian karena aku tidak membawa ponsel," Arin mengadahkan tangannya untuk meminta ponsel milik bodyguard di depan nya saat ini.
"Ini nyonya," dengan ragu-ragu bodyguard itu menyerahkan ponselnya.
"Halo, mas aku mau kerumahnya Tio sebentar. Aku risih sedari tadi di ikuti bodyguard mu jadi aku minta tolong agar mereka tidak mengikuti ku,"
Belum sempat Abraham menyahuti Arin, Arin sudah mengeluh atau mengomel di sebrang sana.
"Terus Abrian sama Andra di mana?" Tanya Abraham.
"Oh mereka mungkin di kamar, karena tadi aku sempat meminta pengasuh Andra untuk membawanya ke dalam kamar," jelas Arin.
"Oh ya memang mas dimana?" Tanya Arin heran karena setahu dirinya sang suami hari ini libur dan mungkin tidur di kamar karena tadi saat meninggalkan suaminya itu masih terlelap di atas tidur.
"Aku sedang di ruang kerja, tadi Hendra mengirim beberapa laporan yang harus segera ku cek," jelas Abraham.
"Oh ya sudah, jangan lama-lama. Ajak salah satu pengasuh dan satu bodyguard saja takutnya nanti Andra rewel dan mencari kamu jadi keduanya bisa menjaga Aurel di sana," jelas Abraham.
"Terima kasih sayang," jawab Arin dengan manis.
"Hmmm...."
Tut....
Sambungan telephon itu terputus.
'Ck dasar suami kulkas ku,' grutu Arin tentunya di dalam hati nya saja.
"Ayo kalian ikut aku satu dan tolong panggilkan Mbak Narsih suruh nyusul ke rumah Tio ya," pinta Arin.
Setelah berbicara seperti itu, Arin pun mengandeng tangan mungil itu ke arah rumah baru Tio.
Bersambung....
Alur slow ya jangan terburu-buru ya.
__ADS_1