
Keesokan harinya sesuai kesepakatan kemarin akhirnya Rio berhasil membujuk sang istri.
Rio masih ingat kata-kata yang ampuh untuk membujuk istrinya itu.
~Flash back on~
Setelah selesai melakukan kegiatan panas itu.
Rio menatap sang istri dengan penuh kelembutan.
'Terima kasih karena kamu sudah menyerahkan hati mu untuk ku miliki sepenuhnya,' guman Rio di dalam hatinya.
Nisa menggeliat karena baru saja ingin memejamkan matanya dia terusik dengan sentuhan dari Rio.
"Aku mengantuk," lirih Nisa mencoba memejamkan matanya yang sudah nampak sayu itu.
__ADS_1
"Tidurlah, karena besok kita akan melanjutkan perjalanan," jelas Rio.
"Perjalanan?" Tanya Nisa yang sudah membuka matanya karena kaget mendengar ucapan dari suaminya itu.
"Iya. Apa kamu tidak kasihan dengan kak Arin dan kak Abraham yang sudah memberikan tiket liburan kepada kita," kata Rio mencoba merayu istrinya itu.
"Bukannya kita naik pesawat pribadi milik tuan Abraham jadi tidak perlu tiket kan," kata Nisa mengerutkan keningnya merasa binggung saat ini.
"Ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih istriku ini. Iya pesawat itu gratis tetapi kak Abraham sudah menyiapkan hotel untuk kita liburan selama 1 Minggu, dan kak Abraham juga menyiapkan rumah untuk kita tempati nanti setelah dari hotel kita bisa pergi ke sana. Apa kamu lupa kalau kak Abraham meminta kita liburan di sini selama satu bulan, selama di sini juga kak Abraham sudah menyiapkan seseorang untuk memandu untuk kita nanti dan semua gratis. Jadi kalau kita tidak berangkat ke negara P semua itu akan sia-sia saja," jelas Rio panjang lebar agar Nisa setuju melanjutkan perjalanan menuju negara P.
Nisa termenung sejenak, dirinya berfikir merenungkan apa yang diucapkan suaminya itu ada benarnya, bagaimana baiknya kedua kakak iparnya itu telah menyediakan semuanya tanpa mereka minta. Keduanya bahkan tak pelit untuk liburan Rio dan dia. Jadi benar kata Rio, intinya semua akan sia-sia saja kalau Rio dan dirinya tidak jadi liburan di negara P.
"Maaf karena aku, kita harus berada di sini."
Nisa saat ini menunduk merasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah jangan merasa bersalah, ini semua takdir. Kalau kita tidak singgah di negara ini tentunya aku tidak akan bisa merasakan liarnya istriku karena salah memesan minuman," kata Rio menggoda Nisa membuat pipi Nisa bersemu merah.
"Isshhh..." Nisa mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Nisa begitu merutuki kecerobohannya, dia tak ingin membahas hal memalukan itu lagi namun suaminya itu selalu saja menggunakan itu sebagai senjata untuk menggoda dirinya.
Melihat wajah sang istri yang cemberut, Rio pun langsung membawa Nisa ke dalam pelukannya.
"Ayo kita tidur, besok kamu perlu tenaga lebih untuk melawan rasa takut mu,"
Nisa tak menolak, dia mencari posisi ternyaman sebelum menutup matanya yang sudah mengantuk.
~Flash back off~
Saat ini Nisa dan Rio sudah berada di dalam pesawat, tentunya pesawat pribadi milik Abraham.
__ADS_1
"Apa kamu lelah? Kita bisa beristirahat di dalam, ada tempat tidur dan di sana kamu bisa menonton film," ajak Rio untuk mengurangi rasa takut Nisa.
Bersambung...