Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 45


__ADS_3

Sedangkan di tempat berbeda....


"Kenapa kamu sedih?" Tanya perempuan yang bernama Rena.


"Ah tidak kok, ayo tidur," ajak Denis.


Denis mengelus kepala Rena dengan lembut, sesekali tangannya mengusap perut wanita itu dengan penuh kasih sayang.


'Nak maaf karena papa baru datang,' lirih Denis di dalam hati.


Selepas perempuan itu tertidur, Denis membuka pintu kamar dan pergi menuju ke teras samping sambil menghela nafas panjang, dia mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celana nya.


"Mengapa hatiku begitu sesak mendengar kalau kamu menikah dengan Rio, kenapa aku tak tahu kalau kalian sedekat itu," lirihnya dengan wajah sendu.


"Mungkin kita tak di ditakdirkan untuk bersama," lirih Denis, sakelebat bayang wajah cantik Nisa bermunculan.


"Huu kenapa sesakit ini, aku harus melupakan Nisa karena dia sudah resmi menjadi milik Rio. Aku juga harus memperhatikan Rena apalagi sedang mengandung anak ku," guman nya dengan pelan namun seakan hari Denis begitu berat melupakan Nisa wanita yang baru beberapa bulan dia kenal.


"Besok aku harus mengurus semuanya, agar pernikahan ku dan Rena bisa di percepat," kata Denis kepada dirinya sendiri.


Di tempat berbeda....


Namun dengan suasana canggung bercampur romantis.


Tio dan Amanda tengah berbaring dalam satu ranjang.


Keduanya masih belum tertidur, entahlah apa yang sedang di pikirkan keduanya saat ini.


'Duhhh bagaimana ya cara ngajak Amanda,' batin Tio binggung harus mulai dari mana.


Deg deg deg deg deg....


'Duh jantung ku receh banget sih sedari tadi deg-degan terus kalau dekat dengan Tio,' batin Amanda.


"Ehemmm ......" Deheman Tio memecah suasana sepi di antara keduanya.


"Apaan sih," sahut Amanda melirik ke arah Tio yang tengah menatap ke arahnya. Jangan lupakan kedipan mata Tio yang membuat Amanda jengah sedari tadi.


"Yang main yuk," kata Tio dengan senyum mesum nya.


"Ck kalau mau main ya sana, ajak Aurel saja tuh anak kan suka main boneka," jawab Amanda enteng.


Tio di buat menganga mendengar jawaban dari sang istri.


'Ck begini amat ya punya istri polos, sedari tadi diajak main kuda-kudaan gak paham-paham. Sabar Tio, ayo usaha lagi kalau gagal langsung sikat aja yang penting halal. Hi hi hi hi hi hi.....' Grutu Tio di dalam hati namun diakhiri dengan Tio menahan tawa nya.


'Kenapa tuh, aneh banget masa ke tawa sendiri. Ah jangan-jangan suami ku ketempelan makhluk di hotel ini,' batin Amanda bergidik ngeri membayangkan nya.


"Aku pengen nya main kuda-kudaan sama kamu yang," pinta Tio memelas.

__ADS_1


"Kok main kuda-kudaan malam-malam begini sih, seperti anak kecil saja sih yang. Main game saja di ponsel biar enak," usul Amanda.


'Hiks hiks hiks hiks hiks hiks,' Tio menangis di dalam hatinya, melihat kepolosan sang istri.


Tio melampiaskan nya kepada selimut, dia menggigit selimut itu berkali-kali.


'Untung sayang kalau tidak, sudah ku lempar ke kandang maung,' grutu Tio di dalam hati nya saat ini.


Tio yang sudah bad mood pun langsung tidur membelakangi sang istri, jangan lupakan wajah nya yang cemberut di tekuk seperti cucian yang belum kering.


Amanda yang melihat pergerakan Tio membelakangi nya pun di buat heran.


'Kenapa dia?' Batin Amanda bertanya-tanya.


Amanda pun mengambil ponselnya, dan melakukan pencarian mengenai perilaku suaminya yang aneh tadi, mata Amanda melotot saat melihat artikel tentang rumah tangga.


'Ha ternyata sedari tadi Tio mengkode aku untuk hal itu, aisss mana aku ngerti dasar Tio aneh seharusnya kan dia bilang langsung jangan muter-muter tak jelas. Ah iya mungkin dia malu,' guman Amanda di dalam hati nya.


Setelah menemukan jawaban pasti, dia pun mengembalikan ponselnya.


'Ayo Amanda semangat buat suami mu tidak ngambek lagi,' batinnya.


Amanda pun berbalik dia menatap ke arah punggung Tio.


"Sayang...." Amanda menggoyang-goyangkan lengan Tio.


"Aku pengen peluk," kata Amanda dengan manja namun sedikit menahan malu.


'Ha peluk?? Ah kesempatan bagus nih tetapi jangan-jangan dia cuma PHP in aku aja, nanti kalau sudah di peluk dia langsung tidur terus aku harus gigit jari, ah malas mending tidur aja lah,' batin Tio memikirkan semuanya.


"Peluk saja guling, aku ngantuk,'' jawab Tio dengan suara pelan.


"Gak mau, aku mau nya kamu," Amanda mengeluarkan jurus nya yaitu merengek manja kepada sang suami.


Tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir Tio.


"Ha dia tidur, kok bisa," kata Amanda mengelengkan kepalanya.


'Maaf ya sayang, aku harus pura-pura tidur karena aku takut tak bisa menahan nya nanti aku sendiri yang tepat harus mandi air dingin,' batin Tio.


Sedangkan di kamar Arin dan Abraham.


"Sayang kenapa kamu masih di sini?" Tanya Abraham kepada gadis kecilnya.


"Ya Aurel kan mau bobok sama papa dan mama," jawab bocah itu dengan ceria.


'Ck nih bocah lama-lama ngeselin banget sih, untung anak ku kalau tidak sudah ikat di pohon jambu,' grutu Abraham di dalam hati nya.


"Enakan tidur di sana rame, ada kak Abrian sama adik Andra," bujuk Abraham.

__ADS_1


"Isss ngak mau pa, di sana tuh ya kalau Aurel berisik nanti di marahin kak Abrian apalagi tuh adik Andra sering ngerusakin mainan aku," protes Aurel.


Abraham memijit keningnya, bagaimana harus membujuk nih anak. Bagaimana pun hari ini Abraham ingin menghabiskan waktu berdua bersama Arin.


Sedangkan Arin mengelengkan kepalanya melihat sang suami yang tengah membujuk putri kesayangannya.


"Aurel kalau mau tidur di sana sama kak Abrian dan adik Andra nanti papa belikan mainan yang buaaanyyyyaaaakk," bujuk Abraham.


Kedua mata bulat kecil itu menerjang lucu, tatapan nya langsung berbinar. Jari mungil itu mengetuk dagunya berkali-kali mencoba menimbang tawaran dari sang papa.


"Aurel mau boneka sama rumahnya ya pa," pinta Aurel.


"Baik papa belikan besok, ayo sekarang Aurel pindah ya," bujuk Abraham.


"Ok deh pa," jawab gadis kecil itu langsung turun berjalan menuju ke luar pintu kamar tentunya di temani oleh Abraham.


Abraham harus memastikan nih bocah sampai di kamar sebelahnya.


Ceklek.....


Arin menoleh saat melihat Abraham sudah masuk ke dalam kamar.


"Benar Aurel mau tidur di sana?" Tanya Arin memastikan.


"Tentu dong," jawab Abraham dengan bangga.


"Ayo sayang kita mulai," ajak Abraham.


"Ck ingat umur sudah tua," ejek Arin.


"Aku bukan tua tetapi matang," protes Abraham tak suka kalau berbicara umur.


"Bentar lagi busuk," ceplos Arin langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Apa kamu bilang,"


Abraham mendekat ke arah sang istri.


"Awas ya,"


Abraham langsung menarik sang istri dan menggelitik pinggangnya.


"Ha ha ha ha ha ha, ampun geli,"


"Ha ha ha ha ha ha,"


Arin berguling-guling di kasir menggeliat mencoba melepaskan diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2