
Sari geram, matanya terus menatap ke arah Arjuna. Rasa marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu dalam hatinya. Siapa sangka dibalik pria tampan yang sangat ramah itu ada iblis yang tersembunyi dan siap mencabut nyawa siapa pun yang menjadi sasarannya.
Kemarahan Sari membuatnya lupa bahwa dirinya memiliki khodam pendamping yang siap menjaganya baik dalam keadaan bahaya ataupun tidak. Aura antara Sari dan Arjuna berbenturan, kemarahan Sari membangkitkan salah satu penjaganya.
Nafas Sari semakin berat dan memburu, tanpa ia sadari Sari mengeluarkan suara geraman lirih bak seekor macan. Arjuna merasakan sesuatu yang mengancamnya. Ia langsung mengetahui arah energi besar yang mengganggunya.
Arjuna menghentikan pembicaraan dengan Bagas. Ia terus menatap ke arah mobil dimana Sari berada. Di matanya seekor macan putih sedang mengawasi dirinya dan bersiap menerjang kapan saja saat Arjuna lengah. Ia terkejut melihat kehadiran macan putih yang tiba-tiba saja berada disekitar lingkungan galeri.
Bagas yang khawatir dengan perubahan sikap Arjuna langsung memberi kode pada Doni dan Ahmad agar segera melindungi Sari. Ia pun mengalihkan pandangan Arjuna dengan mengajaknya bicara meski hanya sebentar saja,
"Ada apa mas Juna kok ngeliatin ke arah sana? Itu mobil kami, maklum namanya inventaris mobilnya nggak bagus?"
"Eh, itu … bukan saya cuma sedikit penasaran aja kok mas?!" jawab Arjuna tergagap.
"Penasaran gimana ya maksud mas Juna? Mas mau beli mobil itu, walah nggak dijual lho mas itu punya kantor kalo punya saya pasti saya lepas deh. Lumayan buat modal nikah!" sahut Bagas sambil melirik ke arah Ahmad dan Doni yang sedang membuka pintu mobil.
Arjuna kembali melihat ke arah Sari, ia tampaknya penasaran dengan kehadiran macan putih yang terus berjalan mengelilingi mobil dan sesekali berhenti menatapnya. Arjuna berjalan sedikit mendekati mobil seolah mencari sesuatu, membuat Bagas dengan sigap meraih tangan Arjuna untuk bersalaman.
"Kalau begitu saya pamit ya mas, sampai ketemu besok!" Bagas memaksa Arjuna untuk menatapnya dan mengalihkan pandangan dari mobil tempat Sari bersembunyi.
"Ooh, iya maaf saya agak nggak konsentrasi. Sampai ketemu besok mas Bagas." balas Arjuna sedikit tergagap karena kaget Bagas meraih tangannya tiba-tiba.
__ADS_1
Bagas bergegas menuju mobil, melambaikan tangan pada Arjuna dan segera masuk ke dalam. Ia melirik ke arah Sari yang dalam posisi menunduk dilindungi Doni. Ahmad segera melajukan mobilnya meninggalkan galeri.
Arjuna terus menatap ke arah mobil, matanya tak lepas dari macan putih yang berlari mengikuti mobil hingga menghilang. Ia yakin seseorang dengan kekuatan besar ada di dalam mobil bersama tamunya.
Dika mendekati Arjuna yang masih termangu di depan galeri. Ia ikut menatap ke arah pandangan mata Arjuna.
"Ada apa kang?" tanya nya pada Arjuna.
"Ada yang aneh sama mereka, sepertinya ada yang disembunyikan. Besok, awasi mereka aku nggak mau kecolongan!" jawab Arjuna tanpa menoleh sedikitpun.
"Siap kang, oh ya semuanya sudah siap kang tinggal kita eksekusi aja." kata Dika memberitahukan sesuatu pada Arjuna.
"Bagus, pastikan semuanya berjalan lancar. Nanti malam bulan purnama ada dalam fase puncaknya, jangan sampai ada kesalahan!" Perintah Arjuna sambil berlalu meninggalkan Dika.
Bagas memperhatikan Arjuna dari kaca spion, matanya tidak berkedip sedikitpun mengawasi Arjuna. Ia baru lega setelah mobil berbelok dan Arjuna tidak terlihat lagi. Bagas dan yang lain bernafas lega, seolah melepas beban berat dipundaknya.
"Edyaaaan, jantung gue rasanya mau copot!" seru Doni setengah berteriak.
"Nyaris aja ketauan kita!" sahut Ahmad.
"Gila tu orang, cakep tapi ngeri gue liatnya. Asli tegang banget berasa lagi main film horor!" kata Bagas menimpali.
__ADS_1
Sari menegakkan punggungnya dan kembali duduk dengan normal.
"Gimana, ceritain dong. Berhasil kan lobinya?!"
"Berhasil, besok kita mulai liputan. Tapi … " jawab Doni, sejenak ia ragu untuk mengatakannya pada Sari.
"Tapi kenapa Don?" Sari dibuat penasaran dengan sikap Doni.
"Lo harus hati-hati Sar, Arjuna … bahaya banget, apalagi buat Lo!" jawab Doni serius
"Sekuat itulah dirinya?" gumam Sari
"Dia punya sesuatu yang buat semua orang terutama wanita tunduk sama perkataannya!" jawab Doni
"Hhhmm, sepertinya aku butuh bantuan Mang Aa. Jangan khawatir Don, aku bisa kok ngatasin dia?!"
Doni meraih tangan Sari tiba-tiba membuat Sari terkejut. Ia menggenggam erat tangan Sari.
"Lo, harus janji ke gue Sar! Jangan terluka, ok!"
Sari yang masih kebingungan, hanya bisa mengangguk sambil menatap Doni. Bagas yang tidak sengaja menoleh ke belakang juga ikut terkejut melihat sikap Doni.
__ADS_1
"Tangan, tangan … tolong dikondisikan itu! Segala dipegang, pinter amat cari kesempatan Don! Mau gue mutasi ke Papua?!"
"Khilaf …" sahut Doni cengengesan.