
Hujan deras mengiringi perjalanan Sari dan tim menuju lokasi desa Kroya Kabupaten Indramayu. Sari ikut ke dalam mobil Mas Hendra menemani mbak Diah yang masih rindu dengan sepupu nya.
Bagas dan Doni terpisah di mobil lain. Kendaraan mereka berjalan beriringan dalam derasnya hujan. Lebatnya hujan membuat jarak pandang sedikit terganggu belum lagi adanya pasar tumpah di daerah Losari yang menimbulkan macet.
" Heem...baru juga berangkat, alam tidak bersahabat gini Sar," kata Mas Hendra yang kesal karena harus berkali kali berhenti akibat macet dan banjir di beberapa ruas jalan
Sari tersenyum kecut menanggapi perkataan mas Hendra yang seolah menyindir nya.
" Kan biasa pah, jalan disini mah gitu macet nda usah dikaitkan ma yg aneh-aneh lah," sahut Mbak Diah
" Iya sih, cuma ni istimewa mah," kata Mas Hendra
" Eeh, kenapa gitu istimewa?" Tanya Sari keheranan
" Lah bawa kamu, ya istimewa...kamu tau gak pas kita semua tahu kamu mau Dateng heboh sekeluarga berasa kaya mo menyambut tamu agung," jawab mas Hendra
" Waaah, saya terhura mas." Sahut Sari
" Terharu Sar, sempet ngelawak segala kamu...nti disana mas minta tolong hati-hati ya jaga sikap sama ucapan kamu, disana tu orangnya agak susah maklum masih di desa." Terang mas Hendra
" Emang desa banget ya mbak?" Tanya Sari pada Mbak Diah
__ADS_1
" Desa banget sih nda juga Sar, cuma beberapa orang disana masih memegang adat aja... ibarat nya masih kuno lah, tapi banyak juga sih kaum mudanya yang sudah milenial." Jawab Mbak Diah
" Ya pokoknya dimanapun kamu jadi tamu tempatkan diri kamu dengan semestinya, jangan asal jangan sembrono dan tidak punya sopan santun, yang muda harus bisa menghormati yang sepuh biarpun gak sepaham sama kita."Kata Mas Hendra menambahkan
" Iya mas, Sari paham kok."
Hujan deras turun secara merata, belum ada tanda-tanda menunjukkan akan reda.
Mas Hendra memilih untuk memejamkan matanya, dan membiarkan sang sopir menjalankan tugasnya sendiri tanpa harus di navigasi oleh majikannya.
Sari memilih memasang headset untuk mendengarkan musik kesayangannya. Suara air hujan yang menerpa kaca mobil dan sejuknya udara malam membuat Sari terlelap tidur.
...----------------...
Seseorang melambaikan tangannya dari kejauhan pada Sari
Sari berusaha memicingkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya. Hujan cukup deras dan angin yang bertiup sedikit kencang membuatnya harus ekstra memegang payungnya agar tidak terlepas.
" Sari...sini, ikut saya."
Seseorang itu kembali memanggil namanya, itu suara perempuan. Tapi siapa?
__ADS_1
Sari kembali berusaha mengenali pemilik suara itu dan berjalan mendekatinya, semakin dekat...dan dekat lagi. Akhirnya dia bisa melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya.
Sari tercekat, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuhnya kaku seperti batang kayu yang sulit digerakkan. Ia menatap perempuan yang memanggilnya dengan tatapan tidak percaya,
" Ta-tante Danique…?"
Perempuan yang disapa Sari sebagai Tante Danique itu tersenyum. Ia berdiri di sana dengan pakaian penarinya yang basah kuyup, wajah cantiknya tampak sedikit mengerikan dengan riasan yang luntur karena hujan.
" T-tante...kenapa?" Tanya Sari memberanikan diri untuk bertanya
Perempuan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia terus menatap sayu pada Sari seolah hendak mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.
Sejurus kemudian senyumannya menghilang dan berubah menjadi ketakutan saat ia menoleh ke arah kanan.
Sebuah bayangan hitam berkelebat ke arah perempuan yang serupa dengan Tante Danique dan menyambar tubuhnya. Membawanya pergi, wajahnya jelas menyiratkan ketakutan teramat sangat dan menyisakan jerit kengerian yang melengking di telinga Sari.
Sari terkejut melihat hal itu tapi tidak bisa berbuat apapun kecuali berteriak,
" Tante Danique…!"
Tiba-tiba terdengar suara decit rem mobil yang cukup keras,
__ADS_1
Ciiiit...braaaak…,