Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 64


__ADS_3

Malam semakin larut, Sari dan yang lainnya memutuskan untuk segera beristirahat karena besok mereka harus bersiap dan membuat liputan kedua. Mang Aa duduk ditemani Mas Hendra, ia kembali menyesap kopi hitam pahit miliknya dan ini adalah cangkir ketiganya.


"Hen, gimana Sari selama disini?" Tanya Mang Aa


"Ya gitu deh Mang, dia sering ngalamin gangguan berkali kali dia juga kehilangan kesadaran semacam trance gitu. Saya sih udah ngingetin dia untuk mencoba terbuka dengan hal-hal gaib di sekitarnya tapi ya itulah tau sendiri Sari gimana kan?" Kata Mas Hendra menjelaskan.


"Susah banget buat bikin dia menerima kondisinya."


"Eh, tapi kemarin ada yang aneh lho Mang," Mas Hendra kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu.


"Ada apa, hantu penari lagi?" Tanya Mang Aa


"Bukan mang, tempo hari ada keluarga dari Jogyakarta minta bantuan Sari buat narik pusaka. Mereka juga bawa anak kecil lucu banget namanya Pandji, nah Sari rupanya mulai terbuka dan mau nerima setelah berinteraksi sama keluarga itu Mang." Mas Hendra menjelaskan


"Uhuk...uhuk...pusaka? Sari, narik pusaka apa?" Tanya Mang Aa terkejut sampai ia terbatuk-batuk saat meminum kopinya


"Semacam kujang Mang, saya juga heran kenapa keluarga itu bisa tau kalo Sari salah satu keturunan Siliwangi. Mereka cuma bilang diberitahu oleh seseorang untuk kemari."


"Bayu …" gumam Mang Aa

__ADS_1


"Eeh apa mang, siapa Bayu?"


"Kamu lupa yang ditemui Sari waktu di Kasepuhan?"


"Yang hilang dari foto Sari?"


"Iya."


" Tapi kenapa harus Sari Hen?" Tanya Mang Aa 


"Saya juga kurang paham mang, mereka cuma minta ijin mau minta bantuan Sari buat Nerima pusaka itu katanya cuma Sari yang bisa bantu mereka." Kata Mas Hendra menjelaskan pada Mang Aa


"Bisa Mang, Sari mpe amazing katanya liat mereka sekeluarga dari bapak, ibu mpe anaknya punya kemampuan semua." 


"Sayang mereka nggak bisa mampir ke rumah Cirebon ya, jadi Sari bisa semakin amazing dan mau belajar biar jadi kayak mereka itu." Sesal Mang Aa.


Tiba-tiba Mang Aa terdiam sejenak seperti sedang mendengarkan sesuatu, ia lalu memandang ke arah Mas Hendra,


"Kamu sudah awasi orang itu?" 

__ADS_1


"Sudah Mang, sepertinya dia memang mengincar Sari saya juga sudah suruh orang buat ngikutin dia." Jawab Mas Hendra menurunkan suaranya


"Lalu?"


"Buruk, dia ke rumah Ghani!" Jawab Mas Hendra


"Ghani? Sari dalam bahaya kalo gitu Hen, kita harus bisa jauhin tu orang dari Sari." Ujar Mang Aa


"Saya dah berusaha njagain Sari semampunya, sejauh ini sih masih aman mang."


"Heem, coba besok abis liputan kedua ini selesai saya buka mata batin Sari sepenuhnya. Ada yang harus dia selesaikan Hen, kita cuma bisa jagain dia dari jauh. Keturunan Siliwangi punya penjaga masing-masing, biar Sari yang urus itu sisanya." Kata Mang Aa sambil menatap tajam lurus ke depan.


Mas Hendra mengangguk, Mang Aa kembali diam matanya seolah menerawang jauh ke depan. 


"Kamu sudah cerita tentang Danique belum?" Tanya Mang Aa


"Belum Mang, masih nunggu waktu yang tepat." Jawab Mas Hendra


"Kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan. Jika tidak Mamang takut akan melebar kemana mana. Bibimu, Adeline sudah minta tolong ke mamang buat jaga Sari selama disini, semoga yang saya khawatirkan nggak bakal terjadi." Ujar Mang Aa sambil menatap Mas hendra.

__ADS_1


Mang Aa benar kesalahpahaman memang harus diluruskan sebelum memakan korban yang tidak bersalah. 


__ADS_2