
Sari berangsur membaik, memar di tubuhnya mulai memudar. Sari pulih lebih cepat dari perkiraan dokter, ini karena luka yang sebenarnya telah dipulihkan di dimensi lain. Setelah dua hari dirawat Sari diperbolehkan pulang.
Bagas dan Doni membantu mom Adeline mengurus kepulangan Sari. Rencananya lusa mereka berdua akan kembali ke Semarang bersama pak Adit. Liputan terakhir tentang tari topeng dan galeri seni sudah mendapatkan ijin dari pak Koswara.
"Jadi kalian pulang ke Semarang lusa?" tanya Mom Adeline.
"Iya Tante, laporan dulu sama pak Arya. Lagian kami sudah lama ninggalin kantor, waktunya buat berbenah laporan juga cari bahan buat next." jawab Bagas sambil membantu Sari untuk turun dari ranjang pasien.
"Tante juga mau ke Semarang setelah Sari pulih. Sambil nunggu hasil tes DNA Kania."
"Oh iya, tes DNA ya? Kapan mom?" tanya Sari
"Sehari setelah kamu dirawat, Hendra kesini. Selain ngobatin kamu dia juga ambil sampel DNA Dad. Mom sih mintanya cepet keluar tapi yaaah … kita ikuti prosedur nya aja gimana." Mom Adeline menjelaskan pada Sari.
"Temen Dad yang di kedutaan emang nggak bisa bantu mom biar cepat keluar hasilnya?" tanya Sari.
"Hei, itu lain soal sayang … mommy nggak mau manfaatin koneksi begitu, kecuali urusan sama legalitas hukum."
"Iya … iya, terserah mom ajalah."
Pintu ruangan diketuk Dad Barend datang bersama Doni. Mereka baru saja selesai mengurus administrasi kepulangan Sari.
"Kunnen we nu naar huis?" tanya Sari pada dad Barend.
(Apa kita bisa pulang sekarang?)
"Ja, het is allemaal gedaan. Laten we naar huis gaan." jawab Dad Barend.
(Ya, semuanya sudah selesai. Ayo kita pulang.)
Baru saja Sari berdiri dari duduknya, sesuatu seperti menarik tangannya. Dingin dan halus. Sari terkesiap, ia perlahan menoleh ke arah kiri.
Tante Danique …,
__ADS_1
Danique Van Leeuwen muncul lagi di hadapan Sari, tapi kali ini dia menampakkan diri seperti dirinya dulu. Cantik dan berpakaian seperti biasa. Dengan rambut coklat terurai mengenakan gaun kesayangannya. Jika dibandingkan dengan Sari, wajah Danique Van Leeuwen tentu saja lebih mencitrakan ciri khas wanita Belanda, meskipun keduanya juga tampak mirip.
Telinga Sari seolah berada diruang hampa dan mendengung. Ruangan tiba-tiba berubah terasa sepi tanpa suara. Danique Van Leeuwen berdiri dan menatap Sari.
"Terimakasih, sudah membebaskan saya."
"Sudah kewajiban saya Tante."
"Sempurnakan saya, Sari!"
"Tunjukkan dimana Arjuna menguburkan Tante."
Danique meraih tangan Sari, ia menggenggamnya dengan erat memberikan kenangan terakhirnya dan lokasi tempat Arjuna menyimpan jasadnya.
Arjuna memerintahkan Dika untuk mengambil jasad Danique di dasar jurang. Ia dibantu oleh salah satu karyawan galeri. Sari melihat dengan jelas wajah karyawan itu sebagai petunjuk baginya.
Tubuh kaku Danique dimasukkan ke dalam kantong hitam besar dan diikat tali. Sari berpindah tempat, ia berada disebuah rumah yang letaknya sedikit terpencil. Di kanan kiri rumah terdapat hamparan kebun, Sari tidak bisa melihat jelas dimana letaknya.
Dika menurunkan tubuh Danique dari mobil dibantu karyawan galeri. Sebuah lubang dengan ukuran cukup telah disiapkan mereka. Jasad Danique dimasukkan begitu saja ke dalam lubang dan ditimbun. Mereka kemudian merapikan lagi tanah yang terbuka dan menutupnya dengan rumput serta menanam bibit bunga mawar diatasnya.
Sari kembali ke tubuhnya, keadaan kembali seperti semula. Danique telah membawanya kembali sebelum Sari sempat bertanya lebih jauh.
"Sar, sadar … kenapa Lo?" tanya Doni.
"Eh, Don tadi …"
"Tante Danique?"
"Iya, dia kasih lihat aku tempat dia dikuburin."
"Dimana?"
"Dia nggak kasih tau, cuma aku lihat tempatnya aja."
__ADS_1
"Kamu lihat dia, Don?" tanya Sari keheranan.
Doni hanya melengkungkan senyumnya, ia mengambil tas yang berisi pakaian Sari.
"Yuk, balik! Kita cari Tante Lo besok pagi." Doni meraih tangan Sari mengajaknya keluar dari ruangan.
Bagas, mom Adeline dan dad Barend sudah menunggu di mereka di mobil. Bagas yang melihat mereka datang berdua dibuat kesal dengan Doni.
"Hhm, biasa deh Lo cari kesempatan mulu Don?!"
"Lah kan sesuai kata Tante Adeline, Lo lelet gue sikat. Ya kan Tan?!" sahut Doni mengerlingkan matanya pada mom Adeline.
Mereka pun tertawa dan membiarkan Bagas menggerutu di depan. Perdebatan dua lelaki sahabat Sari itu terjadi di sepanjang jalan membuat Sari harus terus menenangkan mereka.
"Udah kalian berdua nih berantem terus, nggak malu apa sama mom and dad?!" kata Sari kembali melerai.
"Schat, je bent geweldig, je kunt twee mannen op hun knieën krijgen!" Dad Barend mengatakannya sambil tertawa.
(Sayang, kamu luar biasa bisa membuat dua lelaki bertekuk lutut!)
"Zullen we ze gewoon allebei nemen dus schoonzoon papa?" Mom Adeline tiba-tiba saja memberikan ide gila yang membuat Sari membelalakkan mata.
(Apa kita ambil saja mereka berdua jadi menantu Dad?)
"Mam … pa … dat is niet grappig!"
(Mom … dad … itu nggak lucu!)
Mereka berdua tertawa melihat wajah Sari yang merona. Sementara Sari kesal karena Bagas dan Doni yang semakin menjadi. Sekelebatan bayangan muncul di sudut mata Sari, Tante Danique tiba-tiba saja memberinya petunjuk. Ia berdiri di sebuah rumah dan masuk menembus dinding.
Sari bingung, apa yang dimaksud Danique Van Leeuwen. Rumah itu tampak tidak terawat. Sari memperhatikan rumah itu dari dalam mobil sampai mereka melewatinya. Sebuah tulisan tertera di depan rumah itu. Dikontrakkan.
Apa maksudnya ini? Tante kenapa sih nggak bikin semua ini mudah, pake bikin misteri lagi?!
__ADS_1
Je maakt me duizelig! (Kau buat aku pusing!)