
Sari tidak memperdulikan panggilan mereka, ia terus berlari seolah mengejar sesuatu. Sari mencari keberadaan penari bertopeng itu, ia kehilangan jejak. Doni dan Bagas mendekati Sari dengan nafas tersengal.
"Ngapain kesini sih, bikin ngeri aja?!" tanya Doni.
"Hantu penari tadi ada disini." jawab Sari sambil terus mencari sosok gaib
Bagas dan Doni saling berpandangan, mereka ngeri mendengar Sari membicarakan hantu penari di sore hari.
"Sar, jangan ngadi-ngadi Lo bikin gue merinding aja nih. Serius Lo liat hantu, ni masih terang lho!" tanya Doni sambil menyentuh leher belakang nya.
"Dia disini!" jawab Sari yakin
Rasa itu kembali muncul, sosok itu kembali hadir dan menunjukkan ke arah dalam bangunan. Sari mencoba memahami dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan hantu penari bertopeng itu.
Bagas dan Doni mengikuti Sari dari belakang. Mereka memasuki bangunan tua yang sudah mulai hancur termakan usia. Atapnya mulai berlubang, genting jatuh berserakan di beberapa tempat, kaca jendela yang buram dan pecah di beberapa sisi, belum lagi hawa pengap dan lembab yang tercium dari dalam bangunan.
"Sar, ngapain kita masuk?" bisik Bagas
Sari hanya menjawab dengan isyarat tangan untuk diam di mulutnya.
"Kalian dengar sesuatu nggak?" tanya Sari
Mereka bertiga menajamkan pendengarannya. Samar-samar terdengar suara rintihan dan erangan sepasang pria dan wanita seperti sedang memadu kasih. Mereka mencari sumber suara itu dan berjalan perlahan.
__ADS_1
"Gila, gue nggak salah dengar kan?" tanya Doni
"Aku juga denger Don, Sar kamu juga denger kan?" tanya Bagas pada Sari yang berada di depannya. Sari mengangguk.
"Eh gue ngeri nih, jangan-jangan itu demit yang lagi indehoy … jangan nekat deh!" kata Doni gemetar
"Iya juga ya, mana ada coba orang bener gituan disini. Nggak takut apa demitnya ikutan?!" Bagas berbisik menimpali Doni
"Sssttt … kalian bisa diem nggak sih!"
"Namanya juga takut Sar!" sahut Doni
Perlahan mereka semakin mendekati sumber suara. Jeritan dan erangan wanita jelas terdengar menggema di ruangan kosong. Bagas dan Doni menelan salivanya jiwa lelaki mereka seolah terpanggil ketika mendengar nya.
"Sialan, bikin keki gue!" bisik Doni
Sari menoleh ke arah mereka berdua dan memberi kode untuk membuka pintu bersamaan.
"Satu … dua … tiga …"
Pintu terbuka lebar, mereka terkejut bukan kepalang melihat apa yang terpampang nyata didepan mereka.
"Ratih … "
__ADS_1
Ratih dan kekasihnya pun tak kalah terkejut ketika perbuatan mesum mereka dipergoki Sari dan yang lainnya. Ia buru-buru mengenakan kembali pakaiannya yang hampir terlepas seluruhnya begitu juga dengan kekasihnya yang hanya menyisakan pakaian atasnya saja.
"Astaghfirullah … mata suci gue ternodai!" seru Doni.
Ratih gugup, bingung dan ketakutan bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa yang terlintas dibenaknya hanya satu, malu.
"Mbak Sari, tolong jangan bocorkan hal ini ke pak Koswara?!"
Ratih mendekati Sari dengan ragu, ia menyentuh tangan Sari dengan gugup.
"Tolong saya mbak!"
Sari masih terdiam, ia tidak habis pikir pada Ratih. Setahu Sari penari sintren terikat adat istiadat yang mengharuskan kesucian penarinya terjaga. Ia menatap Ratih yang mulai menangis. Sari juga menatap pemuda berwajah manis kekasih Ratih. Mereka berdua menunduk dan menyesali perbuatannya.
"Saya cuma bisa diam mbak Ratih. Kami nggak akan bilang ke pak Koswara, cuma saya menyayangkan ini terjadi."
Ratih terus menangis dengan suara tertahan, ia kemudian bertanya.
"Boleh saya nanya, Mbak Sari kok tahu saya disini?"
Sari bingung harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mengikuti arahan dari sosok hantu.
"Itu … ehm, saya tadi … "
__ADS_1
"Kebelet pipis dia mbak, dah nggak tahan jadi kita melipir dah dimari!" Doni menyambar jawaban Sari, berusaha membantu Sari menutupi yang sebenarnya.
Sari tersenyum masam pada Doni tapi dalam hatinya ia bersyukur Doni membantunya. Mereka bertiga saling berpandangan, bingung harus bersikap bagaimana.