
Sari bingung, seumur hidupnya dia belum pernah bersentuhan dengan hal-hal aneh seperti sekarang. Semenjak buku tua itu datang secara misterius Sari terus menerus mengalami mimpi dan kejadian ganjil lainnya. Membuatnya mau tidak mau membiasakan diri untuk menerima dan memahami hal-hal baru yang berada di luar akal sehatnya.
Mang Aa menerima bunga yang dipesannya dari Mas Hendra. Sari yang penasaran pun bertanya.
"Eh, itu bunga buat apaan Mang?"
"Buat keperluan kamu!" Jawab Mang Aa singkat.
"Lha kok buat saya, memang saya nyemilin bunga apa?" Sahut Sari sedikit kesal
"Heh, ni anak minta diapain sih ya … iya buat cemilan kamu itu biar manut nggak ngeyel bae!" Seru mas Hendra
"Iiisssh, kan nanya mas … tapi serius itu buat cemilan Sari?" Tanya Sari lagi sambil memperlihatkan barusan gigi putih indahnya
"Sari!" Mas Hendra menahan teriakannya sambil melayangkan jitakan kecil di dahi Sari
Mang Aa tertawa melihat tingkah keponakannya itu,
"Ini buat buka mata batin kamu Sar, buat bantu kamu untuk segera mecahin misteri yang sedang kamu hadapi."
"Mata batin ya, serius ini Mamang mau buka mata batin Sari. Kalo Sari nda kuat gimana?" Tanya Sari sedikit ketakutan.
Meski Mang Aa sempat membahas hal ini dengan Sari sebelumnya tetap saja Sari merasa belum siap untuk melakukannya.
__ADS_1
"Awalnya memang sulit Sar, tapi nanti terbiasa kok … atau kamu mau semua masalah berlarut-larut?"
Sari pun menggelengkan kepalanya, ia kemudian bertanya lagi pada Mang Aa.
"Sari bingung dari tadi Mamang belum jelasin tentang Pak Adit lho?"
Mang Aa memandang Mas Hendra sejenak lalu menjawab, "Kamu tahu siapa Pak Adit?"
"Dia sponsor utama acara Sari, tapi belakangan Sari curiga Pak Adit berubah sikap sehabis membaca buku tua punya Sari tempo hari. Perubahan sikap Pak Adit jelas banget Mang bikin Sari bingung juga takut!" Kata Sari sedikit menjelaskan.
"Trus apa lagi yang kamu tahu?" Tanya Mang Aa lagi
"Kemarin Sari sempat mergokin Pak Adit datang ke rumah dukun, ngeri Mang kata warga sekitar dukun santet!"
"Trus?"
Mas Hendra tertawa, "Nah kan mang gini ini lho yang suka bikin saya kesal, ditanya serius dianya ngabanyol aja. Serius dikit bisa nggak sih Sar?"
Mang Aa tersenyum, "Like a mother and like her daughter … persis Adeline, giliran kejadian bingung."
Sari hanya bisa tersipu malu. Mang Aa melanjutkan kembali pertanyaannya.
"Jadi Kamu sudah tahu si Adit pergi ke dukun santet?"
__ADS_1
Sari mengangguk, "Makanya Sari, Bagas juga Doni sedikit jaga jarak dengan Pak Adit. Kita ngeri liatnya biarpun gak boleh suudzon dulu ke orang sih, yah sekedar jaga-jaga aja!"
Mang Aa menghela nafas panjang, ia lalu bercerita. Menceritakan sesuatu yang merupakan rahasia keluarga Sari.
"Pak Adit itu adiknya Imran, pacar tantemu Danique!"
Sari tidak terkejut mendengarnya karena ia dan Bagas memang telah menebak hal itu kemarin. Sari masih terdiam dan mendengarkan cerita Mang Aa dengan seksama.
"Sewaktu dia datang bareng kalian, Mamang juga Tante Kurnia sudah menduga kalo Pak Adit itu adiknya Imran karena kemiripan muka mereka."
"Siapa Imran mang?" Tanya Sari
"Tunangan Tante Danique, tapi dia sudah meninggal 15 tahun lalu karena kecelakaan hebat di Palimanan sepulang dari mencari Danique di Cirebon." Jawab Mang Aa memutar kembali kenangannya.
"Imran nyari Tante kamu seperti orang gila selama hampir satu tahun sejak menghilangnya Danique. Dia sampai bikin sayembara berhadiah tapi nihil sampai ajal menjemput Danique belum juga terdengar kabarnya." Kenangnya lagi.
"Sebenarnya Tante Danique pergi kemana Mang, apa nda pernah pamit sama Mamang juga Tante Kurnia kan dulu sempat menginap disana?"
"Mamang juga nggak tahu kemana dia, yang Mamang bisa rasakan Danique seperti ditutupi sesuatu dan Mamang nggak bisa buka tabir itu meski berkali kali dicoba." Jawab Mang Aa
"Maksudnya gimana nih, ditutup sesuatu apa?" Tanya Sari lagi.
"Aura jahat, Mamang belum bisa membuka nya dan itu sekarang jadi tugas kamu?!"
__ADS_1
Wat is dit in godsnaam voor een grap, het is te veel, Mang Aa!
( Apa apaan ini, Mang Aa bercandanya keterlaluan! )