
Doni datang dengan muka kusutnya, dengan langkah malas ia berjalan menuju kubikelnya. Sari yang baru saja keluar dari ruangan pak Arya dibuat terheran-heran dengan Doni.
"Eeh, siangan kamu Don? Kenapa tuh muka dah kayak benang bundet gitu? Rambut ngejibrok gitu, nggilani?!" kata Sari menyambut datangnya Doni.
Doni tidak menjawab, ia hanya melirikkan matanya ke arah Sari dan memijat keningnya.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Sari lagi.
"Semalam kagak bisa tidur? Capek gue Sar?"
"Kenapa emangnya?" Sari penasaran.
"Biasa diajak begadang ma demit."
"Sejak kapan kamu diajak begadang ma demit, kebiasaan baru?!"
"Ccck, udah dari dulu lagi Sar. Kalian aja yang kagak ngerti!" jawabnya sambil menguap.
Sari menyandarkan dirinya di meja Doni. "Eh Don, Lo kok bisa pinter begituan sih? Udah lama ya?"
Doni membuka matanya lalu menatap Sari, "Gue itu sama kayak Lo, bedanya gue nerima itu sebagai gift nggak kayak Lo yang terus terusan nolak. Bokap gue dah ngajarin itu semua dari gue kecil buat jagain gue juga emak gue, Sar!"
"Oh gitu, terus kenapa kamu selama ini pura-pura nggak bisa Don?" tanya Sari lagi.
"Ccck, bukan pura-pura nggak bisa cuma gue bukan tipe orang yang show off dengan hal seperti itu. Padahal gue dah kasih clue ke kalian … kalian aja yang nggak paham." jawabnya sambil memejamkan matanya.
"Waaah, kurang ajar kamu Don … jadi pas di dalam mobil tempo hari kamu liat hantu wanita itu?!" tanya Sari kesal
"Liat, gue pura-pura ajaah. Biar seru Sar?!" jawabnya cengengesan.
"Dasar jahil kamu, aku dah panik mau nyelamatin kamu ternyata. Kamu dah tahu, jahil ih?!" Sari memukul lengan Doni dengan map file yang masih digenggamnya.
Doni tertawa bahagia, setidaknya apa yang dia lakukan tidak merugikan orang lain seperti halnya yang dilakukan Arjuna dan Mang Usep. Doni hanya tidak ingin orang lain mengetahui kelebihan yang dimilikinya dan juga ia menganggap itu adalah hal yang tidak perlu untuk tunjukkan.
...----------------...
Pak Adit mengajak Sari turun, lima belas menit lagi waktunya untuk mengetahui hasil tes DNA. Mereka menuju tempat yang sudah disepakati bersama. Perwakilan dari kedutaan juga hadir menjadi saksi serah terima jenazah Danique Van Leeuwen.
"Jadi … hasilnya?" Mom Adeline menatap dad Barend yang nampak masih mempelajari dokumen ditangannya. Dad Barend mengangguk, tangis Mom Adeline pecah.
Tadinya ia berharap semuanya adalah mimpi, meski sudah berusaha menerima kenyataan tentang Danique tetap saja mom Adeline shock mengingat ia begitu dekat dengan adik iparnya itu. Sari menguatkan mom Adeline dan memeluknya erat.
"Wees geduldig mom, wees oprecht."
(Sabar mom, ikhlaskan.)
"Satu lagi, ini hasil tes milik Kania." Kang Yana menyodorkan dokumen lain yang membuat semua orang disana tegang.
Kania dan pak Koswara juga hadir disana. Pak Adit ikut tegang dan berharap penuh bahwa Kania adalah putri Imran. Dad Barend mulai membuka hasilnya, sejurus kemudian ia sudah tidak mampu lagi meneruskan membaca. Ia begitu sedih dan menangis.
Sari mengambil dokumen dari tangan dad Barend, dan membacanya. Sejenak ia mengerutkan keningnya lalu menghela nafas panjang.
"Bagaimana mbak Sari, apa hasilnya?" tanya pak Koswara.
"Kania adalah benar putri kandung dari Danique Van Leeuwen dan …. "
"Siapa Sar, cepetan baca saya nggak sabar ini!" seru Pak Adit.
__ADS_1
"Ehm, maaf pak Adit. Kania 98,8% putri Arjuna." jawab Sari datar.
Pak Adit lemas, harapannya bahwa Kania adalah putri kakaknya sirna sudah. Tapi ia bisa memahami keadaan yang terjadi. Dan sekali lagi semuanya adalah kehendak Yang Kuasa.
"Tolong jangan ada lagi dendam diantara kita. Semua ini terjadi diluar kuasa kita sebagai manusia. Pak Adit tolong maafkan Tante Danique ya? Bisa kan?!" pinta Sari.
Pak Adit mengangguk, ia menatap sendu pada Kania. Gadis yang beranjak remaja itu bahkan tidak mengerti apa-apa. Ia juga tidak mengenal siapa ibunya. Yang ia tahu hanyalah pengasuhnya dan Arjuna adalah ayahnya.
"Boleh saya peluk Kania?" tanya Pak Adit.
Pak Koswara, menganggukkan kepalanya dan menyuruh Kania mendekati Pak Adit.
"Kamu cantik sekali persis seperti Danique, jadilah putrinya yang bisa dibanggakan. Your mother must be watching from up there." kata Pak Adit dengan mengusap lembut rambut kecoklatan milik Kania.
Semua yang ada disana terharu. Mom Adeline memeluk Kania erat, begitu juga dengan Dad Barend. Kehilangan mereka pada Danique seolah terbayar dengan kehadiran Kania.
Setelah melakukan obrolan panjang tentang prosedur dan yang lainnya, jenazah Danique akan dikremasi terlebih dahulu dan Kania sepakat untuk diboyong ke Belanda menemui Oma dan Opa nya di Amsterdam.
Pak Koswara menerima dengan lapang dada keputusan bersama itu. Dengan pertimbangan Kania yang memang harus mengetahui dan mengenal asal usul kedua orangtuanya. Untuk selanjutnya keputusan ada di tangan Kania setelah ia genap berusia 21 tahun.
Tanggal keberangkatan telah disiapkan. Minggu depan mereka dijadwalkan terbang dengan penerbangan pertama membawa abu kremasi Danique. Tentu saja Sari juga ikut bersama kedua orang tuanya untuk mengantarkan Danique Van Leeuwen ke peristirahatan terakhirnya.
Satu Minggu waktu yang cukup singkat untuk menyiapkan dokumen bagi Kania. Tetapi Kang Yana sudah mengantisipasi semuanya. Sejak awal nama Kania mencuat sebagai putri Danique, ia sudah meminta data dan mulai mengurus hal yang berhubungan dengan dokumen negara yang dibutuhkan.
...----------------...
Hari yang dinanti tiba, kepulangan Danique ke Amsterdam. Bagas dan Doni membantu keluarga Sari menuju ke bandara internasional Ahmad Yani. Satu jam sebelum keberangkatan mereka ke Jakarta sebelum menuju Belanda.
"Sar, bisa kita bicara sebentar?" pinta Bagas dengan menarik tangan Sari.
"Kenapa sedih gitu sih, aku kan cuma seminggu pergi. Abis tu balik lagi." kata Sari
"Sar, aku memang sedih kamu tinggalin tapi aku juga seneng karena akhirnya dapat kesempatan ini."
"Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti deh."
Bagas menatap mom Adeline dan mendapat anggukan darinya. Sari bingung, "Ada apa ini?"
"Sar, didepan orang tua kamu, ijinkan aku buat melamar kamu sekarang. Sebelum kamu pergi. Sari Anneliese Van Barend, bersediakah kamu menjadi istriku? Dalam suka dan duka dalam tawa dan sedih selamanya denganku?" tanya Bagas seraya merendahkan tubuhnya dan bertumpu pada salah satu kakinya.
Sari terkejut dan menatap hari pada Bagas yang masih memegang erat kedua tangannya. Ia tidak percaya Bagas akan melamarnya diruang terbuka dan tepat disaksikan kedua orangtuanya.
"Ja ik wil!" jawabnya dengan penuh haru.
(Ya aku mau)
Bagas tersenyum lalu berbisik, "English please, aku nggak ngerti bahasa Belanda Sar?"
Sari pun tertawa, Doni yang juga ikut tertawa mendengarnya langsung menyahut, "Yaelah, gegayaan Lo Gas. Belajar dong bahasa Belanda. Calon makmum Lo kan blasteran sono! Malu maluin aja sih Lo?!'
"Cckk, diem Lo main samber aja. Gagal romantis lagi kan! Siniin bunganya!"
Doni yang masih tertawa mengambil bunga yang sengaja disembunyikan Bagas di mobil.
"Will you marry me?" tanya Bagas sekali lagi pada Sari.
Sari mengangguk dan tersenyum, "Yes,I will."
__ADS_1
"Yes … jadi dah gue kawin Don?" seru Bagas.
"Kawin! Nikah kali Gas! Lo mah sengaja salah mulu, curiga gue?!"
Ia menyematkan cincin yang telah ia siapkan bersama mom Adeline beberapa hari sebelumnya tanpa sepengetahuan Sari. Cincin itu tampak cantik menghiasi jari lentik Sari.
"Cepat pulang ya Beib, aku nunggu kamu disini."
Bagas memeluk Sari dan tak lupa memberikan kecupan kecil di puncak kepalanya. Mom Adeline and Dad Barend ikut terharu dan bahagia menyaksikan keduanya. Sari melepaskan pelukan Bagas karena suara panggilan untuk melakukan checking dan boarding pass bagi penumpang menuju Jakarta kembali diumumkan.
"Sampai ketemu lagi ya, doakan semua berjalan lancar." pamit Sari.
Bagas rupanya belum bisa melepas Sari, ia kembali menarik Sari dan pelukannya dan memberinya ciuman lembut di bibir yang begitu manis. Itu ciuman pertama mereka selama berteman. Ciuman hangat yang dalam dan hangat.
"Yaelah … gue berasa liat film Ada Apa dengan Anu live ini?! Nasib … nasib, jomblo akut dah!" seru Doni memalingkan wajah dari adegan mesra keduanya.
Pesawat yang ditumpangi Sari berhasil take off dengan sempurna. Bagas dan Doni masih memandang ke arah pesawat Sari.
"Don, apa rencana kita abis ini?"
"Mandi, pulang, tidur!"
"Bukan itu maksud gue, Don! Liputan kita kemana?!"
Doni terdiam, berpikir lalu mengatakan dengan mantap. "Kita ke Banyuwangi!"
Mereka saling berpandangan dan tersenyum.
"Baiklah, Banyuwangi we will come for you dude!"
...🍁🍁🍁END 🍁🍁🍁...
...selamat malam semuanya......
...terimakasih atas dukungan teman2 dari awal sampai akhir....
...petualangan Sari akan berlanjut di next season yaa...tunggu dilolosin sama NT 🤭...
...sambil nungguin silakan mampir ke...
..." Jodoh Warisan Leluhur"...
...buat yang belum mampir yaa...ikuti kisah cinta unik dokter Thalia yang berbalut campur tangan gaib....
...atau,...
...saya rekomendasikan buat teman2 baru saya rekomendasikan karya penulis horor lain, kak Al Orchida...
...kisah Mbah Priyo yang menempati rumah yang sebelumnya ditempati dukun terhebat pada masanya. Rumah yang menjadi saksi bisu kekalahan Pakde Karman yang notabene mendapat bantuan dari siluman buaya terhebat oleh Dinara keponakannya sendiri....
Ikuti kisahnya setelah menempati rumah angker itu dalam, Paranormal Story:
...Kidung Kegelapan...
...Al Orchida...
jangan dibaca saat malam kalo kamu takut dengan kegelapan😁
__ADS_1