Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 21


__ADS_3

Menjelang sore, rombongan kembali tiba di kediaman Tante Kurnia. Sari segera membersihkan dirinya untuk menenangkan dan menyegarkan pikirannya. Sementara yang lainnya asik bercerita sambil memilah milah gambar untuk liputan.


Mang Aa menghampiri Sari yang baru selesai mandi,


" Sar, nanti air ini diminum sebelum tidur yaa... jangan lupa." kata Mang Aa sambil menyerahkan sebotol kecil air mineral.


Meski Sari belum bisa mempercayai hal-hal seperti itu, tapi kejadian hari ini lumayan membuatnya kembali berpikir tentang hal-hal gaib yang tidak bisa dinalar dengan logika.


Mas Hendra yang sedang berdiri di dekat Sari untuk mengambil air minum juga ikut menimpali,


" Makanya kalo dibilangin orang tua manut, ngeyel aja si...diliatin dah tuh."


Sari melempar senyuman nyinyir kepada Mas Hendra,


" Besok jam berapa kita berangkat mas?" tanya Sari


" Mungkin sore, mas harus meeting dulu di kantor...mbak Diah juga harus serah terima tugas ke asistennya dulu buat jaga apotek." jawab Mas Hendra


Mas Hendra bekerja sebagai supplier obat merk ternama di Indonesia jabatannya sebagai supervisor senior membuatnya sedikit sulit untuk mengatur jadwal sementara Mbak Diah, istrinya memiliki apotik kecil disebelah rumah mereka di kawasan Kejaksan.


Sari ikut bergabung dengan mereka sambil membawakan minuman dan cemilan yang sudah disiapkan Tante Kurnia.


" Gimana, lumayan kan dapat tambahan beritanya?" tanya Sari


" Lumayan, bisa buat episode awal sambil nunggu episode sintren kita." jawab Bagas yang tengah asyik bermain dengan laptopnya.

__ADS_1


" Besok sore Mas Hendra baru bisa antar kita kesana." kataku memberitahu Bagas


Bagas tidak menjawab hanya memberikan kode oke dengan tangannya. Pak Adit yang juga bergabung bersama mereka, berpindah tempat dan duduk di sebelah Sari.


Aroma tubuh maskulin menyeruak dari tubuh Pak Adit. Ia mengambil secangkir kopi yang baru saja dibawakan oleh Sari,


" Semoga besok berjalan lancar, saya agak khawatir sebenarnya," Kata Pak Adit sambil meminum kopinya


" Khawatir gimana pak?" tanya Sari


" Takut kita tidak bisa on schedule, kamu harus bisa memberikan jaminan pada saya lho Sar," jawab Pak Adit


" Jaminan gimana ni pak maksudnya?" tanya Sari kebingungan


" Jaminan kalau perubahan konsep ini bisa menutupi kerugian saya kemarin." jawab Pak Adit dengan tatapan tajamnya seolah menusuk langsung ke dada Sari.


...----------------...


Malam semakin larut, Bagas dan yang lainnya masih asyik melakukan proses editing dan mastering awal. Sari dan Rara mencari bahan tentang sintren dan lokasi yang akan mereka kunjungi besok.


Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari, Sari mengajak Rara untuk tidur, lelah dan kantuk telah menyerang dirinya. Mereka meninggalkan Doni dan Bagas yang masih asyik berkutat dengan laptop.


Sepeninggal Sari dan Rara, Bagas justru merasakan kantuk yang mendalam. Ia berinisiatif membuat kopi untuk yang ketiga kalinya demi menahan kantuk. Doni rupanya sudah terlelap dengan layar ponsel yang masih aktif. Bagas hanya bisa menggaruk kepalanya melihat tingkah Doni, dan membetulkan posisi tidur Doni serta meletakkan ponselnya di meja.


Bagas masih asyik memainkan jarinya diatas keyboard, rasa kantuk kembali menyerangnya. Kali ini Bagas benar-benar sudah tidak mampu lagi menahannya. Ia terlelap tidur di depan laptop nya yang masih menyala.

__ADS_1


...----------------...


Bagas tersentak kaget dan terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.


Astaghfirullah...aku ketiduran rupanya, tadi apa ya kayak ada yang pegang tanganku tapi kok nda ada apa-apa...kata Bagas dalam hati


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dan mengindahkan perasaan tidak enak yang dialaminya. Matanya kembali tertuju pada layar laptopnya, tetapi anak matanya menangkap sekelebat bayangan yang berjalan disisi kirinya.


Bagas menoleh dan memicingkan matanya berusaha mencari tahu apa itu, tapi nihil tidak ada apa pun disana. Seketika bulu kuduk Bagas meremang merasakan dingin yang ganjil.


Apa tadi, aku mengkhayal sepertinya...kenapa rasanya mulai aneh gini sih, mana sendiri lagi...tidur aja deh, ngeri ngeri sedap saya..


Bagas pun segera mematikan dan menutup laptop nya. Ia hendak merapikan berkas yang dibawanya dari Semarang, karena terburu buru beberapa kertas pun berserakan. Dengan kesal ia memunguti satu persatu kertas yang jatuh dilantai, hingga pada kertas terakhir ia mendapati seseorang berdiri di depannya.


Bagas merasakan sesuatu yang aneh, bau anyir darah dan busuk yang menusuk hidungnya. Sepasang kaki dengan warna membiru berada didekat kertas yang jatuh. Ia gemetar tidak berani mendongakkan kepalanya keatas.


Sesuatu atau seseorang tengah berdiri sempurna di depannya. Bagas memberanikan diri melihat ke atas dengan perlahan, ketakutan menyelimuti dirinya. Dan benar saja, di depannya telah berdiri seorang wanita dengan wajah mengerikan.


Bagas menjerit ketakutan, ia berusaha menjauhi wanita itu dan memanggil manggil Doni tapi nihil Doni seolah tidak mendengar suara Bagas. Wanita itu menatap Bagas dengan mata terbelalak.


Wajahnya tertutup topeng yang retak tak beraturan dan hanya menutupi wajahnya sebagian. Sementara sebagian lagi tampak hancur tidak karuan dan menyisakan darah yang masih segar menetes membasahi pakaian penari yang dikenakannya.


Wanita penari itu berjalan perlahan mendekati Bagas dengan matanya yang merah, seolah memendam amarah mendalam. Bagas terus berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya. Ia terus merangkak menjauh dan hingga menjatuhkan tas miliknya.


Isi tas pun berserakan keluar termasuk buku milik Sari yang disimpannya. Wanita penari berwajah menyeramkan itu berhenti mendekati Bagas ketika melihat buku tua itu, kemudian beralih menatap Bagas yang pucat pasi. Dengan secepat kilat wanita menyeramkan itu menerjang ke arah Bagas dan menancapkan kuku panjangnya yang mengerikan pada tubuh Bagas.

__ADS_1


" Aaaaarrggh...tolong...!"


__ADS_2