Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 128


__ADS_3

Bayu menjelaskan pada Sari siapa yang akan dihadapinya. Makhluk yang telah berusia ribuan tahun ini hidup dari nyawa manusia yang ditumbalkan padanya. Lawan Sari kali ini tidak main-main, Bayu berpesan padanya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. 


Kemampuan Sari belum terasah sempurna tapi sebagai salah satu trah Siliwangi, Sari memiliki potensi yang tersembunyi. Bayu meyakini jika Sari bisa menghadapi jin jahat yang bersemayam di kaki gunung Ciremai.


"Apa kamu yakin aku bisa ngadepinnya?"


"Yakinlah sama kemampuan dirimu sendiri!"


"Entah deh, aku belum sempat belajar banyak dari Mang Aa." Sari menyesal karena tidak serius dalam belajar.


"Aku bisa bantuin kamu, tapi dengan syarat?!" Bayu menatap tajam Sari membuat Sari sedikit ketakutan.


"Eeh, itu namanya nggak ikhlas lho. Masa bantuin dengan syarat sih?!" 


"Ini hanya sebuah penawaran yang adil karena aku akan membantumu." ujar Bayu dengan serius.


"Syaratnya apa dulu nih? Kalo aneh saya nggak mau ah!" 


"Kamu harus jadi istri aku!" jawab Bayu tanpa berkedip pada Sari.


"Eeh, nah lho kok pake acara istri istrian gitu! Wah nggak deh, saya belajar sendiri aja kalo gitu!" Sari menolak permintaan Bayu mentah mentah.


Gila aja kali aku punya suami makhluk gaib, waaah bisa rusak generasi turun temurun saya kalo gini. Ganteng sih tapi demit lho, iiish ngeri saya bayanginnya! 


Bayu yang semula serius kemudian tertawa, ia bisa mendengar suara hati Sari.


"Saya bercanda kok, tapi kalo kamu setuju saya jauh lebih senang!" 


Sari hanya menanggapi dengan senyuman masam, "Makasih dah tawarannya, tapi saya masih normal nggak pengen punya suami demit yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Ribet kalo kangen pake nyediain kembang dulu." 


Tawa Bayu kembali meledak mendengar perkataan Sari. Untungnya dia bisa memahami penolakan Sari. Bayu kemudian kembali menceritakan tentang makhluk yang akan Sari hadapi.

__ADS_1


"Sar, yang akan dihadapi besok memang kekuatannya jauh lebih besar dari kamu, tapi saya yakin kamu bisa. Mang Aa sudah menitipkan kekuatannya sedikit sama kamu."


"Kekuatannya? Sari nggak ngerti?!"


Bayu menunjuk pada cincin merah delima yang tersemat cantik di jari manis Sari.


"Ada di cincin yang kamu pakai. Dalam keadaan terdesak kamu bisa memakainya." 


Sari kagum pada Mang Aa, ia tidak menyangka paman kesayangannya itu telah memperhitungkan segalanya. Termasuk menjaganya untuk menghadapi kemungkinan terburuk.


"Jadi apa nih yang harus Sari lakuin dulu?"


"Kita ke tempat pemujaannya. Kemungkinan yang kita hadapi cuma anak buahnya aja, tapi itu lebih baik daripada berhadapan langsung dengan pemimpinnya." jawab Bayu seraya menatap ke satu arah.


"Setidaknya Sari bisa bebasin Tante Danique dulu, biar dia bisa beristirahat dengan tenang."


Bayu mengangguk kemudian ia berkata pada Sari, "Sebaiknya kamu pulang sekarang, terlalu lama disini bisa menguras energi kamu."


...----------------...


Sari terbangun saat mendengar alarm di ponselnya berbunyi. Badannya yang lelah masih malas untuk beranjak dari tempat tidur. Dengan mata terpejam ia mencari ponselnya. Belum lagi ia menemukan ponselnya, sebuah tangan dengan lembut menyentuhnya.


"Sari, bangun sayang. Dah siang?!"


Sari mengenali suara mom Adeline, ia mengusap rambut Sari dengan lembut.


"Sari masing ngantuk mom, capek!"


"Mom tahu, tapi kamu tetap harus bangun nggak baik anak perempuan bangun siang begini." saran Mom Adeline.


Sari masih terpejam dan memeluk tangan ibundanya. Ia sangat rindu pada mom Adeline. "Bentar lagi mom, Sari tidur sebentar lagi." rengeknya

__ADS_1


"Jangan lupa kamu punya janji sama Pak Koswara kan?!"


"Iya, tapi nanti siang. Sari masih capek setelah pertarungan kemarin." jawab Sari masih dengan mata terpejam.


"Saya tahu, makasih sudah membunuh mereka! Mereka pantas mati dengan hina!"


Suara mom Adeline perlahan berubah menjadi parau dan berat, tangan yang dipeluk Sari pun terasa lebih dingin. Sari merasakan sensasi aneh menjalar di tubuhnya. Perlahan ia membuka matanya.


"Mom, gaat het goed met mama?"


(Mom, apa mom baik-baik saja?)


Mom Adeline diam tidak menjawab, Sari curiga. Ia melirik ke arah tangan yang dipeluknya begitu dingin dan membiru bahkan kukunya panjang kehitaman, mengerikan.


Sari terperanjat, ia segera bangun dan mendapati sosok hantu penari duduk disebelahnya. Ia dengan topeng kelananya yang retak dan hanya tersisa separuh saja.


"Nee, ik ben niet goed, ik moet verfijnd worden Sari. Tante alsjeblieft?!"


(Tidak, saya tidak baik-baik saja. Saya butuh disempurnakan. Tolong Tante Sari?!)


Sari terbelalak, nafasnya memburu. "Tante Danique …" gumamnya


Pintu kamar Sari terbuka, sebuah panggilan dari Mom Adeline ia dengar jelas di telinganya.


"Sari lieve kom op wakker worden!"


(Sari sayang ayo bangun!)


Sari bingung, ia beralih melihat ke arah pintu mendapati mom Adeline berada tepat di pintu kamar. Ia beralih pada hantu penari lagi, tapi hantu itu telah menghilang. Yang ia dengar selanjutnya hanya bisikan,


Vind mijn lichaam, Sari!

__ADS_1


(Cari tubuh saya , Sari!)


__ADS_2