
Ratih dan kekasihnya yang bernama Seno masih menunduk malu didepan Sari, Bagas, dan Doni. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
Sementara Sari sendiri bingung, kenapa hantu itu menunjukkan ke arah bangunan tua dan bahkan memberitahu tentang keberadaan Ratih.
Apa Ratih ada hubungannya dengan Tante Danique? Atau hanya kebetulan saja? Apa mungkin yang dimaksud Ratih bisa membantu menemukan Tante Danique?
Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benak Sari. Ia masih belum memahami maksud dari hantu penari itu. Telinga Sari berdengung, ruang hampa seolah mengelilingi dirinya menekan dirinya dengan kuat.
Sosok itu kembali muncul tepat di belakang Seno. Wajahnya menunjukkan amarah yang meluap, tangannya yang menghitam dengan kuku panjangnya seolah ingin mencekik Seno. Wajah hantu itu tampak semakin menyeramkan dengan darah segar yang masih terus mengalir diantara retakan topeng.
Sari memperhatikan apa yang dilakukan sosok gaib itu. Hantu itu menatap lekat wajah pria manis di depannya lalu beralih menatap Sari. Mulutnya terbuka lebar suara lengkingan terdengar begitu menyakitkan seolah menyayat hati Sari.
Sari menutup telinganya, tidak sanggup mendengarkan lengkingan itu. Dan ketika ia membuka matanya hantu penari itu telah berdiri tepat di depannya dengan menyisakan jarak sejengkal saja dari wajahnya. Sari menjerit karena terkejut harus berhadapan muka dengan wajah hantu itu. Mengerikan.
Hantu itu berjalan memutari Sari dan menunjuk ke arah Sena. Ia kembali melengking, Sari bingung dan menutup telinganya.
Tiba-tiba sebuah kenangan berkelebat begitu saja. Sari melihat Seno dalam kenangan itu. Seno berada satu mobil dengan seorang pria yang Sari lihat dari mimpi sebelumnya.
Ini petunjuk, hantu itu mengarahkan ku bukan pada Ratih tapi Seno!
Sari memahami maksud sosok gaib yang kini telah menghilang. Waktu seolah membeku ketika Sari kembali membuka matanya. Ratih masih terisak menahan tangisnya. Sementara Seno masih berada pada posisinya.
"Sudahlah mbak jangan nangis terus, kita bukan polisi atau satpol PP yang bakal nggelandang mbak Ratih ke KUA eh Dinas Sosial."kata Bagas menenangkan mereka berdua.
"Iya mas, saya cuma malu."
__ADS_1
"Heem, sekarang inget malu tadi ah … uh … ah … kagak ada malu malunya mba?!" Ujar Doni kesal.
"Ssst ...Doni!" Sari segera menutup mulut sahabatnya dan memberi kode diam.
Ratih semakin menunduk dengan penuh sesal. Perbuatan tidak pantasnya itu harus berakhir dengan dramatis. Seno mendekati Ratih dan berusaha menenangkannya.
Sari menatap lekat wajah Seno dan ia yakin bahwa Seno yang ia lihat dalam kenangan penari tadi.
"Mas Seno, saya mau nanya boleh?"
Seno memandang ke arah Sari dengan rasa was-was, "Silahkan mba."
" Mas Seno kerja dimana?"
"Saya di galeri seni mbak, di Cirebon."
"Saya asli sini, iya lagi cuti mbak." Jawabnya sedikit malu
"Bisa minta nomor handphone?"
"B-bisa mbak."
Dengan gugup ia mengeluarkan ponselnya lalu memberikan nomor pada Sari. Setelah bertukar nomor handphone dan berjanji akan saling menghubungi, Sari pun mengajak Bagas dan Doni untuk pergi dari sana. Mereka meninggalkan Ratih dan Seno berdua.
"Mereka nggak apa-apa ni ditinggal berdua Sar?" Tanya Bagas ketika baru saja menjalankan mobil.
__ADS_1
"Lah ya kagak kenapa-kenapa kali Gas, paling juga dilanjutin lagi begituannya!" Sahut Doni.
Sari menoleh ke arah Doni dengan raut wajah tidak suka, ia lalu membela Ratih.
"Jangan begitu Don, kamu seperti menilai Ratih tu jelek banget. Dia nda salah sepenuhnya, mereka berdua salah!"
"Sar, gue nggak nyalahin Ratih cuma kesel aja kenapa begituan di bangunan horor, di rumah kek, nyewa hotel kek?!"
Sekarang ganti Bagas yang menatap Doni aneh, "Heh, lo kok jadi urusan ma dia Don terserah dialah mo gituan dimana. Curiga gue, lo pengen juga yak?"
Bagas dan Sari tertawa apalagi melihat ekspresi wajah Doni yang ditekuk kusut bagai pakaian yang belum dilicinkan setrika.
"Ledek aja terus mpe kalian puas, nasib gue gini amat udah jomblo punya temen kagak ada akhlak baiknya bener!"
"Derita lo, Don!" Sahut Sari dan Bagas bersamaan.
Bagas kemudian menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan hantu penari yang dilihat Sari digedung tua itu.
"Eh Sar, gimana tadi kamu lihat hantu itu lagi nggak?"
"Iya, aku lihat dia lagi dan dia kasih aku petunjuk."
Bagas bertanya lagi pada Sari, "Petunjuk apa tuh, berhubungan dengan Ratih kah?"
Sari menggelengkan kepalanya, ia menatap lurus ke depan dan berkata, "Seno, hantu itu kasih tahu sesuatu tentang Seno?!"
__ADS_1
Bagas dan Doni bingung dengan jawaban Sari, mereka pun saling berpandangan menunggu penjelasan Sari.