
Prosesi ritual diulang kembali. Pak Koswara tampak menggeleng gelengkan kepalanya, mungkin ini kali pertama dan dalam sejarah hidupnya sebuah pagelaran sintren gagal karena ulah seorang anak kecil.
Dan penyebabnya adalah Pandji, bocah kecil lucu dan tampan yang menggemaskan. Tidak ada yang menyangka anak sekecil itu memiliki aura magis yang sangat kuat bahkan sekelas Pak Koswara pun dibuat penasaran dengan Pandji.
Al berjalan mendekati Bagas dan Sari. Dengan ramah ia menyapa mereka berdua. Meski Sari masih bisa membaca raut wajah kesal yang masih tersisa akibat kelakuan putranya.
"Siang Mas, Mbak … mbak Sari, maaf saya pulang dulu ya terimakasih atas bantuan mbak Sari."
"Lho kok pulang mas, acaranya juga belum selesai lho?" Tanya Sari sekedar berbasa basi
"Iya nih kami pulang aja gak enak sama Pak Koswara dan yang lainnya kalo tetap disini." Jawab Al datar
"Mas Pandji ya?" Tanya Sari sambil tersenyum
Al menanggapi pertanyaan Sari dengan senyumnya.
"Mari saya antar?!"
"Bentar Gas, aku mau pamitan juga ke mbak Selia ma Pandji." Kata Sari pada Bagas yang di sambut dengan jawaban Bagas memakai isyarat tangan.
"Mas Pandji hebat banget ya mas, nda ngira anak sekecil itu punya kekuatan luar biasa." Kata Sari
"Mbak Sari terlalu berlebihan, Pandji cuma anak kecil biasa kok sama seperti anak kecil lain seusianya." Sahut Al
"Iya memang biasa mas tapi mainannya luar biasa, maung bodas belum lagi teman gaib lainnya yang suka ngajak dia bermain … iya kan?" Kata Sari dengan tertawa kecil
"Lho, kok tahu? Udah bisa percaya nih sama hal seperti itu, nda pake logika lagi?" Tanya Al sedikit menyindir Sari
"Pandji sempat berbisik kemarin kalo temannya Dalbo juga datang kemari, awalnya saya gak percaya but after see with my own eyes, i believe it."
"Dalbo? Yeah, He's Pandji's favorite friend." Ujar Al membenarkan perkataan Sari.
Selia menyambut kedatangan Sari dengan hangat, lalu memanggil Pandji yang sedang asyik bermain dengan maung bodasnya. Sari yang mulai bisa melihat hal-hal gaib setelah pertemuannya kali pertama dengan Pandji hanya tersenyum melihat kelakuannya.
"Mas Pandji … ayo minta maaf sama Tante Sari!" Pinta Selia pada anaknya Pandji
"I am sorry." ( Aku minta maaf )
Sari mendekati Pandji, dan sedikit mengacak rambutnya
"Hai boy, what are you doing?"
( Hai nak, apa yang sedang kamu lakukan? )
"Just playing with my big cat, do you want to see them, Miss?" tanya Pandji polos.
( Bermain dengan kucing besar, kau ingin melihatnya Miss? )
"Sure … but I am scared."
( Tentu, tapi saya takut.)
__ADS_1
"No, don't be scared, they are nice cats. No scratch and no bite ... I think my big cat likes you too. Let's touch it now!"
( Tidak jangan takut, mereka kucing yang baik tidak mencakar dan menggigit … aku rasa mereka menyukai kamu juga. Ayo sentuh mereka sekarang! )
Pandji menarik tangan Sari dan memandu untuk menyentuhkan telapak tangannya pada kepala harimau putih yang paling dekat dengan Pandji.
Ekspresi Sari tidak lagi menunjukkan rasa takut ia bahkan merasa takjub melihatnya "Mas Pandji suka kucing?"
Pandji menatap Sari keheranan,
"Oh … now you speak Indonesian,"
( Oh … kau bicara dengan bahasa Indonesia )
"Pandji sangat suka kucing, i have a little one at home."
( Saya punya satu dirumah.)
Sari tersenyum mendengar perkataan Pandji yang heran dirinya bisa berbahasa Indonesia.
"Mommy Tante Sari itu orang Indonesia, Sayang. Oh ya, Tante punya something buat Mas Pandji. Your Mom tell me that you will like it,"
( Tante punya sesuatu buat kamu, ibumu mengatakan kamu akan menyukainya.)
Pandji membuka tas kecil yang diberikan Sari kepadanya dan ia berteriak kegirangan seperti layaknya anak kecil yang menemukan harta karun.
"Whoa … fruit chip. My favorite snacks. Ini banyak sekali, terima kasih, Tante."
"Sama-sama, Tante juga terima kasih sudah dibantu Mas Pandji mengusir monster penari kemarin. Mas Pandji nanti kalau besar pasti hebat seperti Daddy," ucap Sari mengusap kepala Pandji.
Pandji kembali berceloteh layaknya seorang anak kecil pada umumnya,
"You are nice and beautiful, Miss. Om Cakra nggak punya girlfriend,"
( Anda baik dan cantik nona, om Cakra nggak punya pacar.)
Sari mengerutkan keningnya berusaha memahami perkataan Pandji, sementara Cakra dibuat salah tingkah dengan perkataan Pandji.
Maksudnya apa ni, nawarin Cakra buat jadi pacarku? Hadeeh ni anak pinter banget siih … ngidam apa ibunya dulu … batin Sari
"Kami pulang dulu mbak, terima kasih atas bantuan mbak Sari maaf jika kedatangan kami telah merepotkan mbak Sari dan yang lainnya." Kata Selia berpamitan
"Sama-sama mbak, senang bertemu dengan kalian juga. Ndak bikin repot kok mbak cuma bikin bingung dan deg-degan." Sahut Sari yang dibalas dengan senyuman hangat dari Selia.
"Tapi deg-degan nya nda bikin kamu sakit jantung kan?" Tanya Cakra menimpali perkataan Sari
"Mas Cakra bisa aja nih, mang kalo bikin saya jantungan mas Cakra mau nolongin?" Tanya Sari balik
"Boleh, saya bisa nolongin kamu dijamin langsung sembuh lho." Jawab Cakra sedikit serius
"Eeh, pake apa dong nyembuhin nya?" Tanya Sari penasaran.
__ADS_1
"Jadi pacar saya mbak, langsung saya bawa ke KUA."
Sari terkejut dan tertawa, begitu juga dengan Selia yang spontan berseru bersamaan dengan Sari.
" Modus …"
Sari dan Selia saling bertukar nomor telepon sebagai tanda persahabatan.
"Kami pulang dulu mbak Sari, sukses ya liputannya." Kata Selia berpamitan sambil mencium pipi Sari dan berpelukan
"Ya mbak hati-hati dijalan, mas Pandji … a big hug for me?"
( Mas Pandji … sebuah pelukan untukku? )
Pandji tersenyum dan mengangguk, Sari kemudian memeluknya dengan lembut dan mencium kening Pandji.
" Be a good boy okey, take care your brother and Mommy Selia for me."
( Jadi anak baik oke, jaga adik lelakimu dan mommy Selia untukku.)
"Raksa and my sister too?"
( Raksa dan adik perempuanku juga? )
Sari sedikit bingung, tapi kemudian menyadari mungkin Pandji tahu bahwa calon adiknya adalah perempuan
"Sister? Aah yaa, your sister too."
( Adik perempuan? Aah yaa, adik perempuanmu juga.)
Sari melepaskan pelukannya, dan Pandji pun segera masuk ke dalam mobil menyusul Selia, ia kemudian melambaikan tangan pada Sari,
"See you Miss!"
( Sampai jumpa lagi nona! )
Sari menatap kepergian keluarga kecil itu sampai kendaraan mereka menghilang. Pertemuan mengejutkan yang telah diatur alam untuknya. Pertemuan yang membuka hatinya untuk mulai menerima hal-hal ganjil serta perlahan membuka mata batinnya.
Eh, tadi kenapa aku gak minta ke.mas Al buat urunan ganti rugi ya? Hadeeh terpesona aku sama Pandji sampai lupa ngomong tadi … triplet to apese, liputan yang bikin luput judule ki ...
...****************...
Selamat siang to all readers, terimakasih atas support dan dukungannya pada beberapa chapter kolaborasi kami. 🥰
Thank u to mas Al yang sudah mengijinkan saya menjajal teknik kolab yang lumayan bikin dag dig dug spot jantung but finally we did it dan mengakhirinya dengan manis🤭🥰
Special thanks juga untuk fans mas Al yang berkenan mampir di karya kolab kami.
Doakan kami sehat selalu yaaa, biar bisa menghasilkan karya-karya yang lebih hebat lagi.
Salam sehat selalu, jangan lupa makan siang biar kuat menghadapi kenyataan hidup😋😋🙏
__ADS_1