
"Riset? Dimana Tante Danique melakukan riset … di kota inikah atau tempat lain?" Tanya Sari penasaran
"Di sini aja risetnya, ia sama beberapa rekannya menginap disini selama … sebulanan kayaknya sebelum tantemu itu menghilang." Kata Tante Kurnia mencoba mengingat ingat kembali.
"Sebulan? Lama juga ya." Sahut Sari
"Waktu itu kamu kayaknya baru umur 9 atau 10 tahun deh Tante lupa, Daddy kamu yang menyarankan Tante Danique untuk menginap disini."
Jadi begitu rupanya, kenapa aku jadi yakin kalo hantu penari itu adalah Tante Danique tapi kenapa nakutin aku sih kan bisa aja dia itu datang tanpa muka nyeremin gitu. Tante, kalo bener itu Tante je bent zo gemeen tegen je lieve nichtje … batin Sari
( Kamu jahat sekali pada keponakanmu yang manis ini )
Usai shalat Maghrib berjamaah mereka kembali berangkat menuju Indramayu. Bagas memberitahukan kepada anggota tim lain untuk menyiapkan keperluan besok. Pagelaran akan dimulai pukul 8, tapi seperti biasa selepas subuh mereka akan berkumpul di kediaman Pak Koswara.
Mang Aa mengambil alih kemudi, ia membiarkan Bagas dan Doni untuk beristirahat selama perjalanan.
"Hei, kalian nggak mau turun nih kita dah sampai lho?!" Kata Mang Aa membangunkan ketiganya.
Perlahan Bagas dan Doni membuka mata, perjalanan kembali terasa begitu cepat bahkan tak terasa sedikitpun.
"Eeh, kok dah nyampe aja nih berasa naik pesawat jet baru juga merem dah nyampe!" Kata Doni seraya menggeliatkan tubuhnya.
Bagas juga merasakan hal yang sama, selama perjalanan ia tidak sedikitpun bergerak dari posisinya. Sementara Sari hanya tersenyum melihat mereka berdua.
__ADS_1
Selama perjalanan Mang Aa sengaja menidurkan Bagas dan Doni agar ia bisa berbicara leluasa dengan Sari yang menemaninya di depan.
Mang Aa banyak bercerita tentang hal gaib dan menjelaskan apa yang ia alami selama ini. Mang Aa juga bercerita sedikit tentang Tante Danique. Ia juga berencana membuka mata batin Sari sepenuhnya untuk membantu Sari memecahkan misteri buku tua. Dan semua itu adalah rahasia mereka berdua.
Mas Hendra dan Mbak Diah menyambut kedatangan mereka. Kopi pahit kesukaan Mang Aa beserta cemilan pendampingnya juga sudah disiapkan. Bagas, Sari dan Doni segera pergi membersihkan diri. Mandi dengan air hangat menjadi pilihan Sari untuk menyegarkan tubuh yang lelah.
Malam belum terlalu larut, Bagas dan timnya berkumpul untuk sekedar berbicara santai. Tentu saja Mang Aa dan Mas Hendra ikut menemani.
"Semua sudah siap kan?" Tanya Bagas pada Ahmad.
"Beres bos tinggal angkut aja semua." Jawab Ahmad.
"Besok kita bagi jadi 2 tim seperti biasa ok, pastikan kali ini semua lancar." Kata Bagas memberikan perintah pada anggotanya.
"Besok jam berapa kalian berangkat?" Tanya Mang Aa
Mang Aa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, itu milik Pak Adit.
Mang Aa memandang ke arah pak Adit dan kedua asistennya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, ia menghisap dengan dalam rokok yang ada di mulutnya. Sari menyadari gelagat Mang Aa. Sesuatu sedang dilakukan oleh Mang Aa.
Pak Adit tersenyum ramah pada Mang Aa dan menyapanya,
"Lho kapan datang Mang?"
__ADS_1
Mang Aa tersenyum, ia menghembuskan asap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan Pak Adit.
"Baru aja nih, saya kangen sama Sari jadi nyusul kemari."
Pak Adit menatap Sari dengan sorot mata penuh tanda tanya. Sari hanya tersenyum.
"Baru pulang pak?" Tanya Sari sekedarnya
"Uhm, iya gimana besok jadi meliput lagi?" Tanya Pak Adit pada Sari
"Iya pak jam 8 acara dimulai di desa sebelah, paling telat jam 6 kita kumpul di rumah Pak Koswara." Bagas menjawab pertanyaan dari Pak Adit hingga ia mengalihkan pandangan kepadanya.
"Pak Adit ikut besok?" Tanya Bagas
Pak Adit tidak menjawab dia hanya berjalan mendekati Sari dan menempatkan dirinya di sisi kiri Sari.
"Mungkin, maaf saya sedang banyak urusan jadi jarang nemanin kalian tapi saya dukung kalian terus kok." Ujar Pak Adit berusaha menjelaskan.
"Ada urusan di Cirebon pak?" Tanya Bagas lagi berpura-pura
"Ehm, bisa dibilang begitu." Jawabnya sambil tersenyum.
Dia pandai sekali menutupi, aku jadi penasaran apa maksudnya trus ngapain dia datang ke dukun itu? Batin Bagas.
__ADS_1
Mang Aa tersenyum mendengar jawaban Pak Adit. Sesekali ia melirik ke arah Sari seolah memberikan kode untuk menjaga jarak, dan Sari memahaminya.