Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 104


__ADS_3

Mas Hendra datang menjelang magrib bersama mbak Diah dan juga dokter Fajar. Sesuai janjinya dokter Fajar memeriksa kondisi Sari setelah mengalami serangan santet kemarin. 


"Gimana dok, Sari baik-baik aja kan?" tanya Tante Kurnia dengan wajah tegang.


Dokter Fajar yang masih memeriksa perut Sari dengan tangannya, hanya tersenyum.


"Sepanjang nggak ada keluhan dari mbak Sari berarti baik-baik aja kok. Iya kan mbak?" tanya dokter Fajar pada Sari.


"Iya dok, Sari dah enakan kok Tante jangan khawatir."


"Makannya aja dijaga karena ini ada gejala maagnya kambuh. Saya kasih vitamin sama jaga-jaga untuk lambungnya. Jangan stres, hindari terlalu banyak konsumsi yang mengandung kafein. Cukup tidur, oke?!" Dokter Fajar berpesan sambil menuliskan resep untuk Sari.


Mas Hendra menerima resep dan membacanya. 


"Aku pulang dulu Hen, kalo ada apa-apa tinggal telepon aja seperti biasa." pamit dokter Fajar.


"Oke makasih ya dah bantuin aku."


Mas Hendra mengantarkan dokter Fajar ke depan rumah. Bersamaan dengan keluarnya mobil dokter Fajar, Mang Aa datang dengan motor kesayangannya.


"Baru pulang Mang?" sapa Mas Hendra


"Iya, gimana wis pada kumpul bli?" tanya Mang Aa


"Udah tinggal tunggu Mamang aja."

__ADS_1


"Mamang mandi heula, suruh kumpul di pendopo aja!" perintah Mang Aa.


Mas Hendra mengekor Mang Aa masuk ke dalam. Sesuai permintaan Mang Aa, Bagas dan yang lainnya begitu juga dengan Tante Kurnia dan Om Bambang berkumpul di pendopo.


"Jadi gimana apa kalian besok siap?" tanya Mas Hendra.


"Insyaallah siap mas! Tinggal Sari ini gimana?" jawab Bagas sambil menatap Sari.


"Sari siap kok, tinggal les privat sama Mang Aa malam ini." jawab Sari santai.


"Sebenarnya mas nggak setuju sama keputusan kamu Sar, tapi gimana lagi kamu juga harus nyelesain masalah keluarga ini. Maaf ya sudah membebani kamu sama masalah ini?!" kata Mas Hendra


"Udah kewajibannya Sari mas, ini salah satu wujud baktinya Sari juga ke Daddy. Kasihan Daddy bertahun tahun nyari tante Danique nggak ketemu."


"Iya mas tahu, mas masih inget Daddy kamu sedih banget waktu nyari adiknya. Mom kamu yang terus dampingi juga besarkan hatinya biar ikhlas, kalo nggak tau dah. Danique itu adik kesayangannya Daddy kamu Sar." kata mas Hendra mengenang saat-saat sulit saat kehilangan jejak Danique.


Doni menjelaskan detail rencana pada Mang Aa dan Mas Hendra. Ketegangan tampak di wajah mereka, ini bisa jadi misi tergila yang pernah mereka lakukan. Menantang pemuja setan.


Mang Aa menghela nafas panjang setelah mendengarkan penjelasan Doni. Ia mematikan rokoknya dalam asbak. Mang Aa menatap Sari lalu bertanya,


"Kamu siap Nok? Ini bukan main-main atau sedang bikin liputan, ini nyata!" tanya Mang Aa.


"Sari dah bilang berkali-kali, Sari siap!"


"Oke, saya setuju sama rencana Mas Doni. Kita ikuti rencananya, tapi tolong semuanya juga harus berhati-hati jangan sampai kita ketahuan. Buat semua senormal mungkin! Sedikit saja salah nyawa Sari bisa melayang?!" 

__ADS_1


Semua yang ada di pendopo hanya terdiam. Menunggu kata yang meluncur berikutnya dari Mang Aa. 


"Sar, kamu kuat kan melek sampe pagi?" tanya Mang Aa


"Eeh, harus mpe pagi ya mang bisa minta diskon mpe jam 2 nggak? Takutnya ngantuk besok pas liputan, masa mo ngadepin si Juna Sari ngantuk mang?" 


"Hadeeeeh, ni anak kambuh lagi dah miringnya! Sar, mas mo nanya kalo hidup kamu di diskon mau juga?" tanya balik mas Hendra dengan kesal.


"Eeeits, nggak mau dong Sari masih muda belum nikah lagi!"


"Nah ya udah belajar nanti malam sama Mamang, kalo kamu pinter bisa ngikutin jam 2 dah kelar." kata Mas Hendra lagi.


"Kok berat kayaknya nih, Mamang yakin Sari bisa?" tanya Sari sedikit ragu.


"Kok plinplan banget kamu, tadi katanya siap kenapa sekarang ragu?" tanya mas Hendra.


"Ehm, bukan gitu … iya deh Sari bisa!" 


"Nah gitu, yakin dulu kalo kamu bisa. Itu bisa bantu kamu mbangun percaya diri!"


"Tenang Sar, kamu pasti bisa kok. Aku yakin!" ujar Bagas menenangkan Sari


"Iya Sar, gue juga yakin Lo bisa. Kalo nggak mana mungkin aku pasang kamu jadi umpan. Tugas Lo emang berat besok tapi … tidak seberat rasa sayangku padamu Sar?!" kata Doni membuat yang lain terkejut dan tertawa.


"Apaan tadi Don, gue nggak salah denger yak … niat bener ni mutasi Papua!" sahut Bagas memasang tampang garang.

__ADS_1


"Eeh, khilaf lagi dah gue … sayang sebagai teman Gas, sensi amat sih Lo! Tapi, kalo Sari mau nggak nolak gue?!"


" … "


__ADS_2