
Malam menjelang, semua persiapan telah dilakukan. Dua buah kamera terpasang dan siap merekam setiap kegiatan di kediaman Pak Koswara. Doni, Ahmad dan Rara tinggal menunggu kedatangan Sari dan Bagas.
Pendopo rumah Pak Koswara digunakan untuk membuat ranggap yaitu kurungan yang terbuat dari bambu yang diselimuti kain putih dan bagian atasnya ditutup dengan kain kuning. Tidak lupa untaian rocean melati menghiasi bagian luar ranggap.
Sang pawang melakukan ritual terlebih dahulu sebelum proses pembuatan ranggap. Ia menaburkan kemenyan di atas anglo dari tembikar serta merapalkan beberapa mantra yang telah diwariskan secara turun temurun.
Doni tidak ingin melewatkan kesempatan itu, beberapa kali jepretan foto dari kamera kesayangannya diarahkan pada sang pawang.
Beberapa saat kemudian sang pawang selesai melakukan ritualnya dan meletakkan ranggap bersama sesaji lain yang telah disiapkan.
Jam menunjukkan pukul delapan malam, para penari, penabuh dan sang pawang berkumpul bersama disisi lain pendopo. Pak Koswara selaku ketua paguyuban memberikan arahan untuk acara besok kepada mereka.
Sari yang telah tiba di lokasi sengaja tidak mendekat ke arah mereka, untuk menghormati privasi.
"Sar, lo gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Doni sedikit khawatir
"Gak kok, tenang masih bisa aku atasi Don." Jawab Sari enteng
"Asli gue takut nih, malem-malem gini pake bakar kemenyan pula berasa horor banget ditambah khawatir ma lo Sar, takut kesambet kan repot gak ada Mang Aa." Ujar Doni
"Berdoa saja semoga kita semua selamet deh, gue juga takut Don." Sahut Ahmad
Suasana memang agak sedikit mencekam bagi Sari dan yang lain mengingat mereka belum pernah menjalani liputan mistis.
Ahmad sedikit menaikkan kerah bajunya, bulu kuduk nya terasa berdiri ketika mencium aroma bunga dan kemenyan yang beradu terbawa angin malam.
__ADS_1
"Iiiisssh… gue takut Don, ni bulu kenapa merinding semua yak?" Kata Doni seraya merapatkan tubuhnya ke Doni
"Bulu mana tuh, bulu ketek bulu dada apa bulu yang lain?" Tanya Doni cuek sambil mengecek kamera yang sedang merekam kegiatan Pak Koswara
Ahmad memukul lengan Doni,
"Bulu semuanya dah, puas lo… mang lo nda kerasa apa-apa Don?"
"Mad, jangan lo turutin perasaan gitu lawan aja… semakin lo turutin malah semakin menjadi, inget kita manusia lebih kuat dan tinggi derajatnya dari bangsa jin dan kawan-kawan." Jawab Doni
"Eeh, tumben lo ngomong bener Don abis makan apa lo tadi?" Tanya Bagas keheranan mendengar Doni bicara
"Heeem, gini-gini juga gue paham begitu kali Gas pan diajarin juga di pengajian makanya sekali kali datang ke pengajian jangan nge-game mulu." Jawab Doni
Sari yang melihat mereka bertiga terus bicara pun menengahi,
"Sssst… diem, perhatiin mereka nti ada info yang kelewat lagi."
Mereka akhirnya terdiam dan kembali fokus pada liputan.
Pak Koswara yang telah selesai memberikan arahan pada anak buahnya mendekati Bagas.
"Gimana mas, ada yang bisa saya bantu lagi atau perlu bahan lain?"
"Kalau ditanya kurang apa ya banyak kurangnya pak." Jawab Bagas sambil tersenyum
__ADS_1
"Iya juga sih, silahkan kalau mau bertanya lho saya malam ini khusus nemenin kalian besok sudah gak mungkin lagi saya temani karena harus mengawal para penari." Kata Pak Koswara menawarkan
Bagas dan Sari saling berpandangan, lalu Sari berinisiatif untuk mengajukan pertanyaan terlebih dahulu.
"Kenapa pagelaran sintren diadakan siang pak, bukannya dulu itu dilakukan malam hari ya?"
"Jawabannya karena kami mengikuti perkembangan jaman dan permintaan dari yang nanggap saja mbak, dulu memang diadakan pada malam hari saat bulan purnama karena mengandung unsur magis yang membutuhkan kesunyian dan ketenangan untuk memasukkan roh pengganti ke dalam tubuh penari."
"Sekarang tidak terpatok pada waktu ya pak?"
" Betul mbak, tergantung yang menyewa kita saja." Jawab Pak Koswara
"Besok mulai jam berapa pak?" Tanya Bagas
"Jam enam kami sudah bersiap, paling siang jam sepuluh kami mulai."
"Butuh berapa lama pak dari awal sampai akhir acara?" Tanya Bagas lagi
"Ya tergantung mas kadang jika ada kesalahan dalam hal ritual bisa memakan waktu lebih banyak, tapi biasanya jam empat sore semuanya sudah selesai." Jawab Pak Koswara
"Pasti jam empat pak?" Tanya Sari
"Iya, saya mematok jam segitu mbak sesuai aturan leluhur, karena ada waktu tertentu yang tidak boleh kami langgar." Jawab Pak Koswara.
Mereka kompak menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Meski dalam hati mereka juga bingung ada apa dengan angka empat yang sepertinya menjadi pantangan bagi Pak Koswara.
__ADS_1