
Paginya Bagas dan yang lainnya terbangun dari tidur dengan kondisi yang baik-baik saja. Mereka sama sekali tidak menyadari apa pun hanya sedikit merasa aneh karena semua tertidur dengan setumpuk pekerjaan di depan mereka.
Doni yang sejak semalam merasa ada sesuatu yang aneh akhirnya buka suara pada yang lainnya.
"Lho kok, kita tidur disini semua. Ada yang tau kita tidur jam berapa semalam?"
"Ehm, jam berapa ya aku juga lupa kamu inget nggak Mad?" Tanya Rara
"Tau dah, semalem ngantuk bener tau-tau dah traveling gue ke alam mimpi." Jawab Ahmad.
"Sama semalem kayak gimana gitu berat banget ni mata, mungkin kita semua kecapean juga stres kali ngadepin deadline!" Ujar Bagas sambil mengacak-acak rambutnya.
Doni hanya terdiam, ia merasa yakin sesuatu telah terjadi semalam. Matanya mencari keberadaan Sari, ia pun berinisiatif mencarinya sendiri.
"Mbak, Sari kemana kok nggak keliatan?" Tanya Doni pada Mbak Diah yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Masih tidur, kenapa ada perlu sama Sari?" Tanya Mbak Diah dengan tenang.
"Oh tidur ya? Nggak mbak, cuma ada perlu dikit. Ya udah deh nanti aja kalo dia dah bangun." Jawab Doni.
Doni pun kembali bergabung dengan yang lain melanjutkan pekerjaannya. Meski pikirannya masih tertuju pada perasaan aneh semalam ia berusaha untuk tetap fokus dan bersabar sembari menunggu Sari bangun.
Yang ditunggu tidak muncul juga, Sari bahkan melewatkan sarapan dan matahari sudah berada di titik tertingginya. Doni gelisah menanti Sari bangun dari mimpinya. Ia pun memutuskan untuk keluar sejenak sambil menghisap sebatang rokok untuk menghilangkan kegelisahan hatinya.
Tanpa disengaja Doni mendengar pembicaraan kedua asisten Pak Adit.
"Gimana semalem, sukses nda?" Tanya asisten Pak Adit yang berbadan tambun.
__ADS_1
"Sssstt… meneng Ndol, ojo banter-banter nek ono sing krungu piye nggawe bubrah Kowe!" Jawab asisten yang lainnya.
( Sssstt...diam Ndol, Jangan keras-keras kalo ada yang dengar bagaimana bikin kacau aja kamu! )
"Oh he-eh lali aku, sorry … njuk piye critane?" Tanyanya lagi sedikit berbisik.
( Oh he-eh lupa aku, maaf … terus gimana ceritanya? )
"Gagal Ndol, parah sasarane jebul sekti … pak Adit Saiki lagi nggletak, tepar, mbalik kabeh nang awake dekne?!"
( Gagal Ndol, parah sasarannya ternyata sakti … pak Adit sekarang terkapar, kembali semua ke badannya sendiri?!" )
"Walah, lha njuk piye kok ngeri men ora mati to pak Adit?"
( Walah, lha terus gimana kok ngeri banget nggak mati kan Pak Adit?)
( Mulutmu itu lho minta dijahit apa gimana, kalo pak Adit mati kamu juga dibawa buat nemenin dia di kuburan.)
"Semprul kowe dab, aku digowo kowe yo tak geret no … enak wae aku dhewekan!"
( Semprul kowe dab, aku dibawa kamu juga kubawa … enak aja aku sendirian! )
"Ssstt, udah cabut yuuuk takut ada yang denger berabe kita. Kita bantuin pak Adit dulu deh, jangan mpe dia koit bisa nggak bayaran bonus kita!"
"Bener itu urusan dosa belakangan dah yang penting bayaran kita gede!"
Dua asisten Pak Adit lalu pergi begitu saja menggunakan mobil pribadi pak Adit. Doni yang sedari tadi sembunyi dan mendengar semuanya pun geram. Ia tidak menyangka pak Adit begitu tega melakukan hal yang tidak sepantasnya. Meski ia belum yakin pasti siapa yang menjadi tujuan santet kiriman pak Adit.
__ADS_1
"S***, Gedeg banget gue dengernya. Tega bener ngelakuin hal serendah itu, apa coba alasannya. Gue harus bicara ma Sari nih secepatnya!"
Doni beranjak dari persembunyiannya dan kembali ke dalam rumah. Sari rupanya baru saja bangun dari tidurnya dan sedang menikmati segelas teh herbal buatan Mbak Diah.
"Ini dia orangnya, Sar gue ada berita mengerikan!" Seru Doni yang langsung saja berlari dan duduk di sebelah Sari membuat Sari terkejut.
"Iiish apaan sih Don, bikin kaget orang aja kecilin dikit tu suara bikin kepalaku tambah pusing aja!" Keluh Sari sambil memijat kepalanya yang memang sakit sejak semalam.
Sar, Pak Adit … " Doni menghentikan perkataannya, ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi setelah dirasa aman dia membisikkan sesuatu di telinga Sari.
Sari diam dan mendengarkan cerita Doni. Ia sungguh tak menyangka Pak Adit pelakunya. Meski semalam Mang Aa dan Mas Hendra sudah memberitahukan tentang hal ini Sari masih berharap itu tidak benar.
Sari kecewa dengan sikap pak Adit. Ia menatap Doni dengan tajam membuat Doni kebingungan.
"Kenapa liatin gue gitu Sar?"
"Aku mau bicara dengan pak Adit, temani aku cari dia!"
Doni hanya bisa memandang sahabat cantiknya dengan perasaan campur aduk.
Gila ni anak kagak ada takut takutnya semalem abis makan apa dia, ngemil kembang kali yak …,
...****************...
...selamat beristirahat semua....have a nice weekend 🥰🥰...
...terimakasih atas dukungannya love u all😘😘...
__ADS_1