
Ciiiit...braaaak…,
Suara mobil berhenti mendadak seolah menabrak sesuatu. Sari menjerit kesakitan karena kepalanya terantuk jok kursi di depannya.
" Aaaaw...sakit,"
Sari yang belum tersadar betul mendengar suara mas Hendra,
" Lho ada apa Wak, kita nabrak?" Tanya Mas Hendra pada Wak Usep sopirnya
" Nda tau ni pak, kayaknya gitu deh ujan nda kliatan." Jawab Wak Usep
" Coba kita keluar, mah mana payung?" Tanya Mas Hendra pada Mbak Diah
Mbak Diah mengulurkan payung kecil dari kantong jok mobil. Mas Hendra dan Wak Usep segera turun untuk memeriksa kondisi mobil dan apa yang ditabrak Wak Usep barusan.
Sari dan mbak Diah menunggu di dalam mobil. Dari dalam Sari juga melihat Bagas dan Ahmad serta dua asisten Pak Adit yang ikut turut serta melihat apa yang terjadi.
Hujan deras masih mengguyur malam. Rombongan Sari telah tiba di perbatasan kota Cirebon dan Indramayu saat Wak Usep sopir Mas Hendra menabrak sesuatu. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, cuaca buruk dan minimnya lampu jalan membuat perjalanan semakin lama.
Wak Usep mengecek kondisi depan mobil, ia terkejut tidak mendapati apa pun disana. Mas Hendra yang menyusul di belakangnya bertanya pada Wak Usep,
__ADS_1
" Gimana Wak, nabrak apa kita...parah nda?" Tanya nya
" Nda ada apa-apa pak, ni lihat utuh nda ada penyok apalagi yang ditabrak juga nda ada," jawab Wak Usep kebingungan
" Hah, serius...tadi keras banget lho, saya pikir nabrak orang?" Tanya mas Hendra sekali lagi
" Iya pak beneran, saya kira juga nabrak tapi ko nda ada ya...heran?" Sahut Wak Usep yang malah balik bertanya pada mas Hendra
" Wak Usep ngantuk ni pasti," kata Bagas yang sudah berada di sebelahnya
" Nda mas, beneran tadi saya cuma liat ada yang lewat aja tapi kan hujan deras banget jadi liatnya juga burem di kaca." Jawab Wak Usep
Namun mereka tidak menemukan apa pun dan telah memastikan hal itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Desa Kroya telah berada di depan mereka sekitar satu kilometer lagi.
Mas Hendra dan Wak Usep kembali masuk ke dalam mobil. Wak Usep masih bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Heran saya pak, padahal kan terasa ya kita nabrak?" Tanyanya masih tidak percaya
" Iya, tau deh Wak barang halus mungkin," jawab mas Hendra
" Barang halus gimana pah?" Tanya mbak Diah
__ADS_1
Mas Hendra menghela nafas dan menghadap ke arah Sari yang duduk di tengah bersama Mbak Diah
" Kamu mimpi sesuatu?" Tanya mas Hendra pada Sari
" Eh siapa, saya?" Tanya balik Sari dengan sedikit bingung
" Ya masa mas Hendra Sar?" Katanya sedikit kesal
Sari mengembangkan senyumnya, ia sendiri bingung harus mengatakan apa pada mas Hendra. Apa mungkin mas Hendra percaya jika ia mengatakan mimpinya.
" Kamu tadi teriak manggil Tante Danique kenapa?" Tanya mas Hendra
Mbak Diah pun beralih memandang Sari, ia juga mengharap jawaban dari Sari.
" I-itu mimpi aja, kan bukan berarti apa-apa mas," jawab Sari
Mas Hendra menatap tajam pada Sari, tapi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan. Mas Hendra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia bingung.
" Sari... Sari, mas bingung mo bilang apa ma kamu dah nda usah dipikirin lagi cukup kamu rasakan mana yang kamu yakini benar atau cuma khayalan." Ujar mas Hendra membuat Sari bingung
Sejujurnya Sari juga bingung dengan mimpinya barusan. Mimpi yang selalu saja sama yang selalu menghantuinya beberapa hari belakangan ini.
__ADS_1