Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 43


__ADS_3

Sari memutuskan untuk berpamitan pada Bagas dan yang lainnya untuk kembali ke rumah Abah Hadi. Ia juga meminta ijin kepada Pak Koswara untuk undur diri sejenak.


Pertemuan dengan keluarga Alaric yang tak terduga sedikit membuatnya terusik. Rasa penasaran membuatnya memutuskan untuk membantu Al menarik pusaka yang akan diberikan pada istrinya Selia.


Dalam hati kecilnya ia masih tidak bisa mempercayai hal klenik seperti itu, tapi rupanya jalan nasib menemukan dirinya bertemu Al dan juga si kecil Pandji.


Sari berjalan kaki berdampingan dengan Cakra yang baru saja dia ketahui sebagai salah satu orang kepercayaan Al dan Selia.


"Mau saya bantu jalan, Mbak? Atau mungkin mau digendong ala bridal?" Tanya Cakra cengengesan.


Sari mendelik lucu, "Saya udah nggak apa-apa, Mas!"


Ni orang modus amat yak, Bagas gak gini gini amat lho... batin Sari


"Ya kali aja masih lemes, saya biar kurus gini full energi kok. Kalau Mbak nggak mau ya saya gendong ponakan aja," sahut Cakra seraya meraih Raksa dan jalan menuju mobil sambil senyum-senyum. 


"Diih, sapa juga yang mau kau gendong mas ... mas ... pede banget ni orang." gumamnya


"Om Cakra like you, Miss!" Kata Pandji sambil berlari mengejar adiknya, Raksa.


Sesampai di rumah Abah Hadi, mas Hendra dan Mbak Diah menjamu keluarga kecil itu sambil kami mengobrol ringan. Al masih menunggu kondisi Sari stabil terlebih dahulu sebelum menarik pusaka itu.


Selia berbisik pada Al,


"Kangmas, kenapa belum juga dilakukan penarikan pusaka hari sudah semakin larut?" 


"Kujang Cakrabuana tuahnya sangat besar, Diajeng. Walaupun Sari hanya sebagai perantara penerima kalau dia tidak kuat dia bisa pingsan," jelas Al ketika Selia bertanya padanya


"Apa perlu ritual juga, Kangmas?"


"Pusaka itu sudah diberikan oleh pemiliknya padamu, kita hanya perlu mengambilnya. Tidak ada syarat yang harus kita penuhi lagi."


Sari yang mendengar pembicaraan Al dan Selia hanya menghela nafas panjang. Ini sesuatu yang baru baginya dan terasa sangat aneh. Sesuatu yang masih belum dijangkau dengan akal sehatnya meski sudah berkali kali diingatkan oleh Mang Aa dan Mas Hendra.

__ADS_1


"Mas, saya mau pandangan yang tadi sampeyan buka ditutup lagi saja! Saya pusing dan mual …," keluh Cakra.


"Ya wes sini!"


"Tapi saya masih penasaran, saya belum pernah lihat pusaka terbang," ujar Cakra bimbang.


"Duh … kamu ini bikin repot aja! Kamu tau kunang-kunang? Ya seperti itu pusaka kalau lagi terbang," jawab Al asal.


Sari dan yang lainnya tertawa melihat kekonyolan Cakra dan jawaban asal khas dari Alaric. Sari tidak habis pikir masih saja ada orang yang ingin melihat hal-hal ghaib padahal dirinya sendiri malah berharap tidak bisa.melihat hal-hal aneh seperti itu.


"Ya gini ini nasib orang nggak tau apa-apa, dikerjain juga nggak sadar." Cakra menggerutu seraya menyeruput kopinya. 


Setelah lewat tengah malam, Al keluar sebentar untuk melihat cuaca katanya. Tapi itu hanya alasannya saja, sebenarnya Al sedang memasang rangket di luar.


Kubah pelindung terbentuk berlapis menyelubungi rumah ini, mengamankan dari mata gelap dan telinga makhluk halus yang usil ingin ikut mencampuri urusan penarikan pusaka.


Tidak ada suara angin, binatang malam atau apapun dari luar rumah. Suara yang ada hanya dari obrolan mereka. Pandji dan Raksa juga sudah ditidurkan pada lelap terdalam.


"Tiduro … nanti aku bangunkan kalau pusakanya sudah datang," sahut Al dengan nada rendah penuh perintah.


Sari heran, Al mengatakan sesuatu yang merupakan sugesti diri biasanya nada-nada seperti itu digunakan untuk memberikan hipnotis bagi pasien psikoterapi.


Woow...is he a psychotherapist? batin Sari


Cakra menguap sekali lagi dan menyandarkan kepalanya, dia sudah kehilangan kesadaran di sofa tempat dia duduk, nyenyak dan mendengkur.


Sari tak bisa menyimpan rasa kagetnya, "Kok bisa langsung tidur itu si Cakra? Aneh."


Selia hanya tersenyum tipis, Al membutuhkan privasi hingga harus menidurkan semua orang kecuali Sari dan Selia.


"Dia memang tukang tidur," jawab Al tanpa merasa bersalah. "Kita mulai sekarang aja ritualnya, Mbak!"


Oke ... ini waktunya, percaya gak percaya aku dah niat buat bantu mereka semoga gak mati duduk aku, Gusti paringono kuat aku...batinnya dengan sedikit rasa sesal.

__ADS_1


Sari mengantarkan Al dan Selia untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat hajat. Selanjutnya Al meminta Selia untuk duduk di belakang Sari dan menyentuh punggungnya sebagai pondasi kekuatan penerima barang gaib yang akan menyeberang alam.


Selia mengatur konsentrasi dan mulai memejamkan mata, fokus pada sesuatu yang akan datang. Sari juga ikut memejamkan mata dan bernafas dengan gugup.


Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah deg-degan aku, Bagas kalo aku nda selamat malam ini aku cuma mau bilang I love you Gas...batin Sari


Hening dan sangat sepi, yang terdengar hanya suara nafas mereka dan suara Al yang sedang berbisik membaca doa dan mantra pemanggil pusaka. 


Meski Sari tidak memahami apa yang ditampakkan Al tapi dia bisa merasakan aura kuat dari mantra yang membuatnya dirinya sedikit gelisah. Sesuatu seolah menyakiti dirinya. Rasanya menusuk, dingin dan panas bercampur jadi satu dalam diri Sari.


Dari luar selubung pelindung samar-samar terdengar beberapa suara yang ikut menanti kedatangan pusaka keramat itu. Bangsa halus yang juga mencari peruntungan untuk menguasai kujang bertuah itu.


Detik-detik kujang Cakrabuana datang suasana makin mencekam, suhu naik beberapa derajat dan panas melingkupi ruangan tempat mereka duduk dalam meditasi.


BLARRR


Selia melonjak kaget merasakan suara letusan keras memekakkan telinga dan guncangan tanah seperti lindu sesaat. Energinya seperti tersedot sepenuhnya masuk kedalam tubuh Sari yang bergetar hebat. Beberapa waktu yang membuat tenaga dan energi Selia terkuras habis.


Sari membelalakkan mata karena di tangannya ada pusaka sejengkal tangan yang mulai padam cahayanya. Kujang keramat itu berwarna hitam pekat dengan aura panas dan angker yang membuat orang bergidik ngeri.


Ya Allah .... tenanan to Iki, inikah kujang yang dimaksud Al dan Selia? Unbelieveble tenan... amazing... batin Sari


Dengan nafas terengah-engah dan tangan gemetar dia menyerahkan kujang itu pada Al.


Setelah mengamatinya sebentar, Al memasukkan kujang itu ke dalam wadahnya yang hanya terbuat dari kayu berbau wangi magis dengan ukiran kuno yang indah.


Al mendekati Selia dan memberikan kujang Cakrabuana itu padanya  "Ini milikmu, Diajeng."


Kujang Cakrabuana dan empat kucing penjaga yang dititipkan pada Selia sudah berpindah tangan kepada mereka. Sari lega, meski dia masih bingung menghadapi apa yang baru saja terjadi padanya.


Is this over...or is there something else?


***

__ADS_1


__ADS_2