
Pagi-pagi sekali selepas adzan subuh berkumandang, Bagas dan timnya telah bersiap kembali ke kota Cirebon. Mbak Diah sejak kemarin sudah menyiapkan semua keperluan Abah Hadi sebelum ia meninggalkannya. Seperti biasa Abah Hadi masih tidak mau diajak tinggal bersama putri tunggalnya itu.
Ahmad dibantu Doni memasukkan beberapa peralatan ke mobil. Hanya butuh kurang dari 1 jam semuanya sudah siap. Dua orang pembantu mbak Diah sudah menyiapkan sarapan. Setelah semua selesai mereka pun berkumpul untuk mengisi perut kosong sebelum melakukan perjalanan.
"Kalian sudah pamitan sama pak Koswara belum?"tanya Mas Hendra.
"Nanti sekalian berangkat rencananya mas." jawab Bagas.
"Sudah di pack semua belum nih, jangan ada yang ketinggalan repot nanti kalo harus bolak balik!" Mas Hendra mengingatkan Bagas dan yang lainnya untuk kembali mengecek barang bawaan masing-masing.
"Insyaallah dah beres semua mas."
"Eh pak Adit gimana itu? Dari kemarin mas sama sekali nggak lihat dia lho?"tanya Mas Hendra keheranan.
Meski Mas Hendra tahu yang sebenarnya terjadi tapi ia berusaha bersikap normal di depan yang lain. Bagas dan Doni saling berpandangan.
"Saya sudah kasih tau dia, kami pulang ke Cirebon hari ini lewat pesan singkat tapi nggak ada respon."kata Bagas
"Nggak ada respon? Asistennya gimana, kalian bisa hubungi mereka?"tanya Mas Hendra lagi
__ADS_1
"Udah, sama aja. Tau deh mas, yang penting kita udah kasih tau ke dia rencana kita. Dia yang punya duit dia yang punya kuasa terserah dia mau ngikutin kita apa nggak. Tanggung jawab kita cuma ke kantor aja." Bagas menjelaskan pada mas Hendra juga yang lainnya.
Sarapan pagi itu mereka lalui tanpa banyak bicara. Sari sendiri masih shock dengan kejadian semalam, ia lebih banyak diam dan memilih menghabiskan makannya dengan cepat.
"Sari ke depan dulu mas, mumpung masih pagi udaranya seger kayaknya diluar." pamitnya pada mas Hendra.
Mas Hendra hanya memperhatikan Sari dan tidak menjawab. Bagas mengikuti Sari, ia khawatir dengan keadaan Sari setelah kejadian semalam.
"Sar, kamu nggak apa-apa?"
"Ehm, I'm fine." jawabnya singkat
"Apa rencana kamu setelah kita di Cirebon, kita masih punya waktu sampai besok sebelum kembali ke Semarang?!"
"Ke galeri itu Gas, aku mau ketemu pemiliknya!"
"Kamu yakin? Dari cerita Seno pemilik sanggar itu bahaya lho Sar. Kalo memang benar mereka suka dan masih menumbalkan orang lain buat kesuksesan mereka, kita harus waspada dan hati-hati terlalu berisiko untuk bicara langsung dengan mereka!"
"Kamu benar Gas, itu terlalu berisiko. Tapi aku tetap mau nemuin dia. Aku bakal cari informasi tentang Tante Danique dengan caraku sendiri. Kamu jangan khawatir aku nggak bakal frontal nanya kok. Menghadapi orang seperti itu harus dengan cara anti mainstream."jelas Sari pada Bagas dengan senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Anti mainstream? Maksudnya gimana nih?" tanya Bagas kebingungan.
"You'll see it later … tapi sebelumnya kamu temenin aku nemuin seseorang. Entah gimana aku yakin dialah yang bawa buku itu ke aku?!" Sari mengatakannya dengan yakin pada Bagas tentang firasatnya.
"Lho kamu sudah tahu siapa yang bawa buku itu ke kamu?"
"Ehm, sepertinya begitu feeling aja Gas dan sepertinya dia memang mau aku kembali kesana!"jawab Sari penuh misteri.
Bagas hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terkadang memahami Sari begitu sulit baginya terlebih akhir-akhir ini setelah Sari banyak terlibat dengan hal-hal gaib.
"Hadeh Sar, omonganmu itu lho penuh dengan misteri bikin aku pusing buat mencerna. To the point aja nda bisa ya?"keluh Bagas yang membuat Sari tertawa.
"Bukannya yang misterius itu lebih menarik Gas, lebih menantang gitu?"
"Iya siih bikin orang penasaran, tapi juga bikin ngeselin! Tinggal jawab aja siapa yang kasih buku pake acara muterin pasar dulu?!"kata Bagas lagi menahan rasa kesalnya. Sari kembali tertawa melihat ekspresi Bagas yang menggemaskan baginya.
"Bayu … aku harus ketemu dia, Gas!"
" … "
__ADS_1