
Sari dan Bagas saling berpandangan, mereka bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Maaf, tapi ada apa dulu ya pak? Kenapa kita harus ikut, apa ada masalah?"tanya Bagas.
"Kalian saya jadikan saksi?!"jawab Pak Koswara
"Eeh, saksi apa ni pak kita nggak paham ini?" tanya Bagas lagi.
Pak Koswara tidak menjawab lagi, hanya memberikan kode dengan kepala agar Bagas dan Sari mengikutinya.
"Ada apa ini Gas?"bisik Sari
"Tau dah, apa lagi sih perasaan semuanya dah clear kan Sar?"
"Jangan-jangan, …" Sari berusaha menduga apa yang terjadi,
"Ratih …" sahut Bagas yang diikuti dengan anggukan kepala Sari.
"Tunggu, gue ikut!" seru Doni
Doni bergegas menyusul kedua sahabatnya. Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Pak Koswara. Ahmad dan Rara beserta kedua sopir diminta Bagas untuk menunggu sejenak.
Benar dugaan mereka, pak Koswara menemui Ratih dirumahnya. Amarah tampak terlihat di raut wajah pak Koswara.
Wajah Ratih tampak sembab sepertinya semalaman menangis. Kedua orang tua Ratih juga Seno kekasihnya duduk termangu di teras depan rumah.
__ADS_1
"Gawat Sar, sepertinya panjang ni urusan!" bisik Doni
"Iya, bodo amat dah yang penting bukan kita kan yang laporin mereka." jawab Sari
"Dah kita pura-pura kagak ngerti aja cari aman!" sahut Doni lagi.
Bagas hanya diam memperhatikan situasi yang terjadi. Pak Koswara menghampiri Ratih dan Seno, tanpa basa basi tiba-tiba saja,
PLAAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ratih dengan mulusnya. Sari terkejut hendak mendekati Ratih tapi tangannya segera ditarik Bagas, ia memberikan isyarat dengan gelengan kepala.
"Jangan, itu urusan mereka!" bisiknya pelan pada Sari.
Kedua orang tua Ratih pun hanya menunduk malu atas perbuatan putrinya. Umpatan dan makian keluar dari mulut pedas Pak Koswara. Sari merasa kecewa dengan sikap Pak Koswara, orang yang dituakan di padepokan Seca Branti harusnya bisa lebih bijak dalam bersikap dan bertindak.
"Gas, aku nggak bisa diam aja Pak Koswara sudah keterlaluan!" kata Sari geram.
"Ini bukan ranah kita Sar, dah biarin aja nggak usah ikut campur!" Kata Bagas dengan sedikit penekanan.
"No, kita sama aja biarin Ratih dituduh sebagai wanita murahan. Kamu nggak denger apa tadi Pak Koswara bilang apa, p****** itu penghinaan buat wanita!" seru Sari dengan menahan amarahnya.
Bagas gagal meraih tangan Sari ketika ia hendak beranjak mendekati. Doni yang juga kesal dengan perkataan Pak Koswara hanya bisa mendukung tindakan Sari.
"Heem, wis angel … angel Gas, pacarmu kuwi nek wis duwe karep wes ora iso dikandani neh!"
__ADS_1
( Heem, sudah susah … susah Gas, pacarmu itu kalo sudah punya keinginan sudah sudah dibilangin!)
Sari mendekati Pak Koswara, ia berusaha meredam emosi Pak Koswara agar tidak semakin menjadi.
"Maaf pak, boleh saya bicara sebentar?"
Pak Koswara diam dan hanya mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan.
"Nggak adil kalo bapak menyalahkan Ratih, ia punya hak buat menjalankan hidupnya sendiri. Mbak Ratih sudah cukup dewasa untuk memikirkan semua akibat dari tindakannya!"
"Tapi perbuatannya sudah mencoreng nama Seca Branti! Nama baik yang sudah saya bangun sejak lama!"
"Saya tahu itu pak, tapi apa Pak Koswara juga tidak memikirkan keinginan mbak Ratih untuk berumah tangga? Mungkin selama ini mbak Ratih tertekan dengan aturan yang Bapak terapkan di padepokan. Usia mbak Ratih juga cukup matang kan pak untuk menikah. Ini hidupnya, dan itu pilihannya!" Sari berusaha membela Ratih.
"Seorang penari sintren harus bisa menjaga kesucian dirinya juga tingkah lakunya, saya malu memiliki anak buah seperti dia! Bertahun tahun saya jaga padepokan ini supaya sintren bisa bertahan dengan baik, tapi dia sudah menghancurkan apa yang selama ini saya jaga mbak!" kata Pak Koswara masih dengan nada tinggi.
"Saya mengerti dan memahami kekecewaan bapak, tapi apa bapak lupa mbak Ratih juga bertahun-tahun mengikuti aturan bapak menahan rasa dan keinginan dirinya untuk mengakhiri masa lajang atau bahkan dari dulu menahan rasa ingin memiliki kekasih seperti halnya anak seusianya!" Sari terus berusaha menjelaskan pada pak Koswara dari sisi Ratih.
"Dia punya hak dan jangan hakimi dia!" seru Sari lagi.
"Ini bukan urusan mbak Sari, saya hanya ingin mbak Sari jadi saksi karena saya tahu mbak juga melihat mereka kemarin kan?!"
Sari hanya bisa terdiam, memang benar mereka bertiga melihatnya tapi Sari heran kenapa mereka diminta pak Koswara menjadi saksi. Karena menurutnya hal itu adalah urusan intern Seca Branti. Ia mulai curiga dengan gelagat pak Koswara.
Aneh, kenapa kita harus jadi saksi … ini urusan mereka mas iya kita mau dijadikan saksi nikah si Ratih? Nggak mungkin juga kan, ada apa dengan pak Koswara nih curiga saya …,
__ADS_1