
Keesokan harinya Sari bangun pagi sekali, kejadian semalam membuat nya tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Usai menunaikan sholat subuh berjamaah dengan yang lainnya, Sari dan timnya berkumpul di ruang tengah sambil menikmati sarapan.
Mbak Diah dibantu pembantunya memang terbiasa untuk memasak dipagi buta jadi selepas sholat subuh mereka bisa langsung menikmati sarapan.
"Gimana Sar, dah baikan?" Tanya Mas Hendra
"Udah."
"Semalem Lo liat apaan Sar, penasaran gue?" Tanya Doni sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Yang jelas bukan liat kamu Don!" Jawab Sari sedikit malas.
"Yaelah Sar, mang kalo liat gue kenapa kan ngarep ini jadi lelaki dalam impian Lo?" Sahut Doni tertawa menggoda Bagas
Bagas yang melihat tingkah Doni hanya bisa tersenyum masam.
"Liat kamu? Iiissh … bisa sepa hidup aku Don." Ujar Sari geli
"Jahat bener Lo pada ma gue, temen macam apa siih kalian semua?!"
Mereka pun tertawa bersama. Bagas segera menanyakan kembali pada Sari perihal kejadian semalam.
"Bener kamu nggak liat apa-apa Sar?"
"Ehm, itu … nanti dah aku ceritain, makan dulu aja kita keburu dingin nda enak ntar!" Elak Sari.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Sari menolak untuk bercerita tapi karena Pak Adit dan dua asistennya mendekat dan bergabung untuk sarapan dengan mereka.
"Lancar semalam?" Tanya Pak Adit pada Bagas
"Lancar pak, besok kita liputan Sintren lagi buat melengkapi yang pertama." Jawab Bagas
"Oh gitu baguslah, saya harap hasilnya memuaskan ya biar bisa nutup kerugian saya tempo hari!" Kata Pak Adit sambil memandang ke arah Sari.
Tatapan Pak Adit seolah hendak membelah tubuh Sari menjadi dua, begitu tajam dan menyakiti Sari. Membuat Sari merasa tidak nyaman.
Mas Hendra rupanya memperhatikan perubahan sikap Sari, sesuatu mengusik hatinya. Namun ada hal lain yang harus dipastikan sebelum bertindak. Sesuatu yang berhubungan dengan Sari dan Pak Adit. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Sari.
...----------------...
"Gas, temenin jalan yuk ada yang mau aku omongin." Ajak Sari pada Bagas.
"Pikiranmu itu lho, iya emang mau ajak dia juga … yuk buruan keburu siang!"
"Siiiap, bos!"
Mereka bertiga pergi setelah sebelumnya minta ijin pada mas Hendra. Bagas memberikan tugas pada Ahmad dan Rara untuk membuat preview sementara hasil liputan yang telah didapat.
"Mo kemana kita Sar?" Tanya Bagas
"Keliling desa aja deh, sekalian mau cerita semalem." Jawab Sari
__ADS_1
"Naah ini nih yang gue tunggu tadi kenapa Lo nda nerusin cerita?" Tanya Doni
"Kamu nggak liat Pak Adit, aku nggak nyaman ada didekatnya. Nggak taulah feels bad aja kalo ada didekatnya!"
"Iya juga sih, ya udah cerita gih ada apa semalem penasaran gue?!" Pinta Doni
"Semalem penari bertopeng itu datang lagi, tapi anehnya aku justru liat sesuatu semacam visi lah tentang peristiwa gitu."
Sari mulai menceritakan apa yang ia lihat dalam visinya. Tentang para penari bertopeng, pertengkaran yang membuat salah satu penari tidak sadar kan diri, serta bisikan gaib yang melarangnya bicara pada Pak Koswara.
Juga tentang temuannya di buku tua, kenyataan bahwa buku itu benar milik Tante Danique yang menghilang 15 tahun lalu, dan teror gaib yang dialaminya setelah membaca buku tua.
"Gila, lo nekat baca buku tua itu ndirian? Nggak takut demit Lo Sar?" Tanya Doni terkejut mendengar cerita Sari
"Aku penasaran aja Don, aku merasa ini ada hubungannya. Tante Danique pasti ingin menyampaikan sesuatu ke aku!" Jawab Sari membela dirinya.
"Tunggu, lo yakin Tante Danique dah meninggal … kan bisa jadi tu hantu bukan Tante Lo Sar, bisa jadi itu hantu penari lain yang gentayangan karena dibunuh kekasihnya kan atau mungkin beneran hantu yang nggak ada hubungannya dengan tu buku?!" Kata Doni berargumen.
Bagas yang sedari tadi diam sambil mendengarkan pembicaraan Sari dan Doni akhirnya angkat bicara.
"Menurutku Sari bener juga deh, coba inget dari awal buku itu datang secara misterius, aku ma Sari diteror abis baca buku … lalu dateng deh hantu penari bertopeng, dan sekali lagi aku ma Sari juga yang diteror."
"Aneh nggak sih?" Tanya Bagas pada Sari dan Doni.
Mereka bertiga saling berpandangan. Dalam pikiran mereka, hanya ada satu pertanyaan.
__ADS_1
What next?