
Sari tersenyum geli, dia sepertinya melupakan shocknya sebentar karena harus menyambut uluran tangan kecil Pandji.
"Hai boy, I am okay, don't worry!"
"Be patient, Miss … I'll be right back with my Daddy. Just a minute!"
Anak kecil yang bernama Pandji itu berlari menuju Ayahnya yang belum berpindah dari tempatnya semula, ia masih bersama dengan seorang pria dan seorang anak kecil lainnya. Sari hanya menebak bahwa itu adik Pandji.
Sari menganggukkan kepalanya, lalu beralih memandang wanita cantik yang membantunya tadi.
"Itu anak Ibu? Apa dia indigo? Bagaimana dia tidak punya rasa takut pada makhluk seram yang dilihatnya?" Tanya Sari
"Iya Pandji anak indigo. Mungkin sudah terbiasa, Mbak." Jawab wanita itu
"Oh ya, saya Selia ibunda Pandji." Kata wanita itu mengenalkan dirinya
"Saya Sari."
Selia membantu Sari untuk berdiri dan pindah duduk ke kursi. Sementara itu Pak Koswara memerintahkan timnya untuk bubar dan membereskan kekacauan, juga membuat persiapan untuk mengulang ritual.
Teman-teman satu tim Sari mulai mendekat dengan wajah khawatir,
__ADS_1
"Sar, lo kenapa baru aja gue tinggal bentaran kenapa ngglangsar begini sih?" Tanya Doni.
"Kenapa kamu Sar, ada yang luka gak?" Bagas pun tak ketinggalan untuk bertanya.
Tapi Sari tidak menjawab dan memberi tanda dengan tangan untuk mereka agar meninggalkannya. Bagas, Doni dan yang lainnya pun memberi ruang bagi Sari untuk menenangkan diri dan berbicara dengan wanita cantik yang telah menolongnya.
Sari memutuskan untuk mengobrol dengan Selia sembari menunggu Pandji dan Ayahnya bergabung.
"Kenapa Pandji berbicara bahasa Inggris dan memanggil saya Miss? Saya merasa lucu saat mendengarnya," tanya Sari mulai menguasai dirinya.
"Ya karena dia mengira Mbak bukan orang Indonesia," jawab Selia
"Dia selalu ramah pada turis saat di tempat wisata." Katanya lagi
"Pak Koswara mengatakan kalau Ibu ada perlu dengan saya. Maaf kalau saya minta menunggu, karena saya tidak bisa meninggalkan tim yang sedang membuat liputan. Tapi saya akan minta break sebentar, saya tidak konsentrasi untuk melanjutkan liputan."
"Sepertinya saya juga harus minta maaf pada Pak Koswara dan mengganti kerugian karena harus mengulang ritual dan menyediakan sesaji lagi." Kata Sari pada Selia
Sari menatap ke arah Pak Koswara dan timnya yang kembali disibukkan untuk menyiapkan ulang sesaji dan ranggap yang rusak. Sudah bisa dipastikan Pak Koswara pasti sangat kesal, apalagi hari semakin larut.
"Iya, saya dituntun untuk menemui keturunan Siliwangi berdasarkan mimpi yang saya terima." Kata Selia
__ADS_1
Sari menatap Selia skeptis, dia masih tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis.
Pandji datang bersama ayahnya dan seorang pria lain. Ayah Pandji yang bernama Alaric itu menyapa Sari dengan ramah,
"Maaf kedatangan kami mengganggu dan merepotkan, Mbak Sari!"
"Jujur saja saya bingung, sebenarnya ada apa?" Tanya Sari dengan ekspresi penasaran.
"Saya butuh bantuan dari Mbak Sari," ucap Al datar dan langsung pada pokok permasalahan.
"Bantuan apa, Mas?" Tanya Sari dengan nada rendah.
“Menarik benda pusaka, benda keramat itu nanti akan jatuh ke tangan Mbak Sari dan selanjutnya Mbak tinggal memberikannya pada istri saya, Selia!" Jawab Al menjelaskan pada Sari
"Pusaka?" Tanya Sari lagi
Ya Tuhan … hari gini masih ada juga yang percaya benda-benda pusaka? Mimpi apa aku semalam bertemu dengan keluarga mistis begini…, batin Sari keheranan
"Iya, kujang Cakrabuana."
Oh my God...
__ADS_1
***