Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 37


__ADS_3

Rombongan ibu-ibu setempat mulai berdatangan ke rumah Pak Koswara. Beberapa dari mereka bahkan ada yang membawa beberapa bahan makanan yang diperlukan dalam pembuatan tumpeng. 


Ada juga yang datang karena diutus oleh Juragan Agah Engkus guna membantu persiapan pelaksanaan sintren besok. Juragan Agah Engkus adalah orang terpandang yang sangat disegani di desa Ini jadi wajar jika ia ingin semua persiapan sempurna tanpa cela.


Sari dan Bagas memperhatikan kegiatan para ibu dari dekat. Sesekali Bagas mengambil gambar yang diperlukan untuk liputan. Sari pun turun tangan membantu para ibu untuk menyiapkan sesaji. 


Para ibu akan membuat tumpeng alus yang terdiri dari nasi putih yang dibentuk kerucut beserta lauk pauknya seperti urap, mie goreng, ayam goreng, sambal goreng, telur, perkedel, capcay, atau bisa juga lauk lainnya sesuai ketersediaan bahan dari pemilik acara. Tumpeng ini melambangkan kesucian, ketulusan dan penghormatan dari sang pemilik acara.


Hari beranjak sore, Bagas dan Sari telah menyelesaikan liputan awal dan mendapatkan beberapa gambar bagus sebagai bahan liputan. Doni dan yang lainnya pun telah kembali dan menyiapkan peralatan serta kamera pendukung untuk liputan malam.


Bagas dan Sari kembali ke rumah Abah Hadi untuk membersihkan diri berganti pakaian dan menyiapkan beberapa keperluan pribadi. 


"Lumayan hari ini capek juga ya?" Kata Bagas 


"Iya, tapi seneng bisa liat persiapan mereka. Ternyata liputan mistis nda selalu harus menyeramkan." Sahut Sari


"Iya sih nda nyeremin yang nyeremin buku kamu tuh, heran saya mpe nyata banget gitu hantunya. Masih kebayang lho Sar rasanya." Kata Bagas


"Iya juga sih, kemarin aku didatengin hantu lagi Gas, tapi bukan penari wujudnya." 


"Hah, lagi… ampun dah tu buku, mistis bener sih trus gimana Sar?" Tanya Bagas


"Hantu itu malah kayak kasih clue deh ke aku, dan itu ada hubungannya sama Tante Danique." Kata Sari menjelaskan


"Tante Danique yang pernah ku lihat fotonya dalam buku ya, yang malah aku meluk kamu itu?" Tanya Bagas lagi


"Heeem, inget aja kalo peluk-peluk… iya yang waktu itu dirumah." Jawab Sari


"Ya gimana nda inget Sar, lumayan kan sekali kali meluk kamu mumpung lagi khilaf." Goda Bagas pada Sari

__ADS_1


Perkataan Bagas spontan mendapat pukulan ringan di tangannya dari Sari.


"Aku penasaran ada misteri apa dari buku tua kamu itu Sar, nanti kalo kita dah mulai legaan kita liat bareng ya tu buku. Inget jangan sendiri, aku nda mau kamu kenapa-kenapa lagi." Kata Bagas mengingatkan Sari


"Iya, siap pak Ketua." Jawab Sari


Mereka pun tiba di kediaman Abah Hadi. Mereka disambut Mbak Diah yang memang sudah menunggu sedari tadi.


"Gimana Sar, lancar kan?" Tanya nya


"Alhamdulillah mbak lancar semua."


"Syukur deh, kamu sudah makan belum disana?" Tanya Mbak Diah lagi


"Sudah mbak tadi dijamu sama tuan rumahnya." Jawab Sari


nungguin kamu dari tadi." Kata Mbak Diah


"Eh, ada apa nungguin Sari?"


"Gak tau, dah mandi dulu aja nti Bagas nungguin malah." Perintah mbak Diah


Sari pun berlalu dan segera mempersiapkan diri untuk liputan berikutnya. 


Dia menatap ke atas meja rias dalam kamarnya, tempat Sari meletakkan buku tua nan misterius itu. Ia menghela nafas panjang saat menatapnya,


Ni buku pasti ada maksud nya bisa sampai di aku, sepertinya berhubungan sama Tante Danique… tapi kenapa semuanya seperti menutupi sesuatu yaa, aneh… batin Sari 


Setelah semuanya siap, Sari segera keluar dan benar saja mas Hendra sudah menunggu di ruang tengah.

__ADS_1


"Sari, kesini dulu bentaran oh ya mana Bagas?" Tanya mas Hendra


"Masih dikamarnya mungkin, mana Sari tau mas kita kan nda sekamar." Protes Sari


"Oya mas lupa, sini duduk dulu ada yang mau mas sampaikan ke kamu." Kata Mas Hendra


"Wiih serius ni kayaknya." Sahut Sari


Bagas yang baru saja selesai menyiapkan keperluannya ikut bergabung dengan Sari,


"Bagas, Sari, mas cuma mau ngingetin ke kalian tolong hati-hati ya… kalian mau liputan malam kan apalagi di rumah Mang Koswara, disana terkenal wingit karena kleniknya apalagi kamu Sar banyakin dzikir jangan kosong itu pikiran." Kata Mas Hendra.


"Iya sih, Sari juga ngerasa gitu disana tempat itu sedikit aneh buat Sari." Sahut Sari.


"Nah kan kamu tahu sendiri, kamu wangi Sari mas takut kamu kenapa-kenapa disana. Gas, mas titip Sari ya tolong jagain jangan jauh-jauh dari dia." Pesan Mas Hendra pada Bagas.


"Siap mas, saya jagain dah luar dalem." Sahut Bagas


"Hush, luar aja dalem nggak usah." Seru Sari


"Lah, calon imam ini harus jagain kamu dong luar dalem Sar, kalau kamu kenapa-kenapa disana rugi saya Sar." Goda Bagas lagi


Mas Hendra dan mbak Diah yang mendengarnya pun tertawa kecil melihat mereka.


"Sebelum pergi ni pake air ini buat wudhu, pesan dari Mang Aa." Kata Mas Hendra


Mereka berdua pun menuruti perkataan mas Hendra dan memakai air yang diberikan mas Hendra dalam gentong air untuk wudhu.


Bagas dan Sari pun kembali menuju kediaman Pak Koswara untuk memulai liputan malam.

__ADS_1


__ADS_2