Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 22


__ADS_3

Sari terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara gaduh diluar. Dengan penuh rasa penasaran ia pun keluar dari kamar untuk mencari tahu ada apa gerangan.


Begitu terkejutnya ia mendapati Bagas bagai tercekik sesuatu yang tak terlihat. Suaranya tercekat dan matanya terpejam membuat Sari kebingungan.


"Astaghfirullah...Bagas, kamu kenapa?"


Beberapa buku berserakan di lantai, termasuk buku tua misterius milik Sari. Terlintas rasa curiga di benak Sari tapi ia berusaha menepis perasaan itu. Sari menepuk nepuk pipi Bagas dengan sedikit keras berusaha menyadarkannya,


" Gas, sadar...nyebut Gas, hei bangun." serunya


" Don... Doni, bangun tolongin Bagas nii!" teriak Sari pada Doni yang masih tertidur


Doni yang mendengar teriakan Sari langsung terbangun, ia terkejut melihat kondisi Bagas.


" Eh, Sar kenapa tu anak...kayak kesurupan?" tanya Doni panik


" Cepet panggilin Mang Aa!" perintah Sari sambil terus berusaha.mengembalikan kesadaran Bagas.


Doni tanpa berpikir panjang langsung menuju rumah Mang Aa untuk meminta bantuan. Tante Kurnia yang mendengar teriakan Sari pun terbangun dari tidurnya.


" Astaghfirullah...kenapa dia mbak Sari?" tanya Tante Kurnia


" Nda tau Tan, Sari bangun Bagas dah begini...duh mana nda sadar lagi dia...Bagas, bangun Gas!"


" Panggil Mang Aa," seru Tante Kurnia


" Udah, tu orangnya dah dateng,"


Mang Aa datang dengan tergesa gesa diikuti Doni dibelakangnya. Ia kemudian membacakan doa ditelapak tangannya dan menyapukan perlahan pada Bagas dari puncak kepala sampai dada. Tangannya seolah menarik sesuatu keluar, Bagas perlahan tenang dan mulai membuka matanya.


Sari dan yang lainnya lega melihat Bagas mulai tersadar. Sari membantu Bagas meminum air yang telah didoakan Mang Aa. Ia tampak kebingungan melihat kami semua berkumpul mengerumuni dirinya.


" Gimana, dah enakan?" tanya Mang Aa

__ADS_1


" Iya mang lumayan cuma deg-degan banget ini." jawab Bagas


" Lu kenapa Gas, merem melek gitu mata lu kayak orang kena ayan?" tanya Doni


" Don...itu mulut ampun dah, gue lakban juga nih," sahut Sari kesal


" Abisnya bikin kaget gue Sar, baru juga mimpiin yayang Scarlett Johansson eeh kebangun gegara lu Sar...batal kan gue mimpi indah," celetuk Doni tanpa salah membuatnya mendapatkan jitakan manja dari Tante Kurnia


" Iiish...Tante lama-lama gemes bener ma Doni," ujarnya


" Udah ah kasian ni Bagas, tambah puyeng dia denger kita ribut." kata Sari


Sari membantu Bagas untuk duduk di kursi, sepertinya dia masih shock dengan apa yang dialaminya.


" Kamu kenapa teriak-teriak Gas, liat hantu?" tanya Sari tanpa basa basi


Bagas tidak menjawab tapi dari sorot matanya Sari dapat menyimpulkan Bagas mengatakan iya, ada ketakutan teramat sangat di matanya. Sari beralih menatap Mang Aa tapi sebelum Sari bertanya Mang Aa sudah menjawab rasa penasaran Sari


" Bener Gas?" tanya Sari memastikan


Bagas masih diam seribu bahasa. Sari memakluminya mungkin dia masih sangat ketakutan dengan hal yang baru saja menimpanya.


Jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, Sari masih menemani Bagas begitu juga dengan Doni. Mang Aa memberikan pijatan ringan di punggung dan kepala Bagas agar sedikit rileks.


" Dibawa istirahat aja dulu biar nda tegang, Mamang tinggal dulu ya," pesan Mang Aa sebelum pergi meninggalkan mereka.


" Makasih mang," sahut Sari


Bagas mengurut kepalanya yang sedikit pusing, ia beralih menatap buku tua yang masih tergeletak di lantai. Sari dan Doni masih menemaninya. Mereka membereskan meja dan membereskan kertas yang berceceran dilantai.


Bagas berjalan mendekati buku tua itu, dan mengambilnya. Diperhatikannya buku itu dengan seksama, berkali kali ia membolak balikkan buku dengan serius. Sari dan Doni saling berpandangan mereka heran dengan sikap Bagas.


" Tu buku dibolak balik trus biar kagak gosong Gas?" celetuk Doni

__ADS_1


" Lu kata ni buku gorengan Don?" sahut Bagas kesal


" Lha trus ngapain lu bolak balik trus tu buku?" tanya Doni balik


Bagas diam dan menatap ke arah Sari dan Doni,


" Ini buku bener-bener aneh, gegara buku ini tu hantu datengin gue," kata Bagas


" Maksud kamu Gas?" tanya Sari


Bagas tidak menjawab dia mendekati ke arah Doni dan Sari lalu duduk diantara mereka. Diletakkannya buku itu dimeja.


" Tadi aku didatangi hantu wanita pakai baju penari, serem banget...dia kayak marah gitu ke aku tapi anehnya waktu buku ini keluar dari tas dia langsung berhenti ngejar aku,"


" Serius, kamu didatangin hantu penari?" tanya Sari


" Iya serem banget Sar, mpe sekarang masih kebayang mukanya." jawab Bagas


" Waduh...kenapa serem amat sih, kemarin Sari liat hantu penari di toilet rest area sekarang lu Gas...jangan-jangan bentar lagi gue ni, hiiii amit-amit dah," sahut Doni sambil merapatkan tubuhnya ke Bagas


" Kamu juga didatengin Sar, kok bisa sama?" tanya Bagas keheranan.


Sari hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Bagas. Pikirannya melayang pada rentetan kejadian yang dialaminya.


" Buku ini kayak nuntun kita ke arah sesuatu Sar, apa kamu berpikir yang sama ma aku?" tanya Bagas


" Aku juga berpikiran gitu, jadi gimana kita selidiki bareng-bareng or just forget it?" tanya Sari pada Bagas dan Doni


" Kita selidiki sama-sama, gimana menurut lu Don?" tanya Bagas pada Doni


" Gue manut aja dah ma kalian, gimana baiknya...kalo bareng-bareng kali aja horornya kagak kerasa ya kan?" sahut Doni


Bagas, Sari, dan Doni memandang ke arah buku misterius yang tergeletak di depan mereka. Entah misteri apalagi yang akan mereka hadapi, tapi mereka bertekad untuk dapat mengungkapkannya.

__ADS_1


__ADS_2