
Setibanya dirumah Tante Kurnia, Sari meminta izin kepada mom Adeline untuk pergi ke galeri seni yang sekarang di pimpin pak Koswara.
"Mom, ada yang mau Sari urus sebentar. Sari pergi dulu ya?!" katanya berpamitan.
"Eh mau kemana kamu, belum ada lima menit kita sampai udah mau pergi?" tanya Mom Adeline
"Ini penting mom, please?!" jawab Sari.
"Nee, ik wil je niet laten gaan!"
( Nggak, mom nggak izinin kamu pergi!)
" Please, ini tentang Tante Danique?!"
"Masih ada hari besok Sari, kamu harus pulihkan tenaga kamu dulu!"
"Nggak ada waktu lagi mom, semuanya harus selesai segera. Sari pergi Mom!" Sari begitu keras kepala dan memilih tetap pergi membuat Mom Adeline hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kita temenin Sari deh Tan, yuk Don cabut lagi!" kata Bagas mengajak Doni ikut bersamanya.
"Tolong jaga Sari, boys!"
"Siap Tante, kita dah pengalaman kok jadi bodyguardnya Sari!" sahut Bagas sambil berlalu.
Sari menunggu kedua sahabatnya di mobil. Ia yakin keduanya akan mengikuti dirinya. Bagas dan Doni masuk ke mobil dan langsung memberondong Sari dengan pertanyaan.
"Lo ngapain sih Sar pake acara ngotot gitu ke mommy?" tanya Doni
"Iya nih, aneh kamu? Emang ada apaan sampai sepenting itu Beib?!" Bagas tidak kalah bertanya.
Sari menatap mereka bergantian, dia masih diam membisu.
"Jawab dong Sar jangan diem aja?!" Bagas mulai kesal dengan sikap Sari.
"Yah ni anak malah diem aja, napa sih Lo?" tanya Doni menimpali Bagas.
"Kita ke galeri sekarang, nggak ada waktu buat jelasin!" Akhirnya Sari mau membuka suara.
__ADS_1
"Hhm, mulai dah ni anak! Kirain baru sembuh agak insyafan dikit ternyata sami mawon!" sahut Doni menyalakan mesin mobil.
Mereka tiba di galeri seni. Suasana tampak berbeda kali ini. Galeri tampak berbeda, lebih cerah tidak suram seperti sebelumnya. Suara Gending gamelan mulai terdengar mengiringi para penari yang mulai beraktivitas lagi setelah seminggu berkabung. Sari juga merasakan aura negatif mulai menipis, pak Koswara sepertinya mulai membersihkan galeri dari hal-hal negatif sisa dari Mang Usep dan Arjuna.
Seno menyambut kedatangan mereka bertiga.
"Selamat datang kembali mbak Sari." sapanya ramah.
"Apa kabar mas Seno, pak Koswara ada?"
"Alhamdulillah baik mbak, ada didalam sedang mengawasi anak-anak latihan." jawab Seno dengan senyum sumringah.
"Oh ya, gimana kabar mbak Ratih?" tanya Sari tiba-tiba membuat Seno tersipu.
"Eh, ehm … baik mbak, Ratih juga saya boyong kemari."
"Ohya, sekalian bulan madu ya mas?" Pertanyaan Sari yang konyol berhasil membuat Seno semakin salah tingkah.
"Yaelah Sar, pake nanya bulan madu segala … mang kudu die jelasin?!" sahut Doni dengan santainya.
"Eh, anu … iya mbak." jawab Seno malu-malu.
Seno mengantarkan mereka bertiga ke aula pertunjukan. Disana pak Koswara terlihat sedang memberikan arahan pada para penarinya. Melihat Sari datang, pak Koswara pun menghentikan kegiatan dan segera mendekati Sari.
"Ada angin apa nih mbak Sari datang kemari?" tanyanya langsung.
"Saya mencari salah satu karyawan galeri, bisa nggak bapak bantu?"
Pak Koswara mengerutkan keningnya, "Karyawan yang mana mbak?"
"Dia membantu Dika mengurus jenasah tante saya! Saya mau ketemu orang itu!" jawab Sari.
"Dika? Dia sudah berapa hari ini nggak kelihatan. Ponselnya juga mati." jawab Pak Koswara dengan ekspresi bingung.
Sari tersenyum dengan sinis, ia lupa memberitahu Pak Koswara bahwa Dika adalah musuh dalam selimut.
"Dika sudah mati. Maaf tapi saya harus kasih tahu ini ke bapak?"
__ADS_1
"Mati?!" Pak Koswara, Bagas, Doni dan juga Seno terkejut mendengarnya.
"Eh, gimana ceritanya tu orang mati Sar?" tanya Doni
"Kenapa mbak Sari bisa bilang gitu?!" tanya pak Koswara penasaran.
Sari menatap mereka bergantian dan mulai bercerita tentang pertarungannya di gunung Ciremai. Dika yang ternyata adalah kaki tangan Usep dan Arjuna telah membuatnya terluka parah. Sari terpaksa membunuh Dika dengan berbagai pertimbangan.
Pak Koswara menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mengira jika Dika yang dikenal santun dan baik adalah salah satu kaki tangan Usep dan Arjuna.
"Jadi apa yang bisa saya bantu sekarang?" tanya pak Koswara.
Sari menatap Seno yang sedari tadi menunduk, "Mas Seno tahu sesuatu? Siapa karyawan yang membantu Dika selama ini?"
Seno mengangkat kepalanya dan menjawab, "Namanya Andi, dia tinggal nggak jauh dari sini. Sayangnya dia juga menghilang bersama Dika."
"Bisa tunjukkan dimana rumahnya?" pinta Sari diiringi anggukan Seno.
Mereka bertiga didampingi Seno pergi menuju rumah Andi. Pak Koswara tidak bisa menemani karena harus melanjutkan kegiatannya.
Rumah Andi memang tidak jauh dari galeri, tapi ketika mereka sampai disana Andi tidak ditemukan. Kedua orang tua Andi juga tidak mengetahui keberadaan anaknya.
Sari memperhatikan jalan yang ia lalui, itu adalah jalan yang sama ketika tadi Tante Danique muncul. Sari tergerak untuk mencari rumah tadi. Seolah ada yang menuntun, Sari terus berjalan dan sampai di depan rumah dengan tulisan dikontrakkan.
"Sar, ngapain kita kesini?" tanya Bagas dengan nafas tersengal menyusul Sari.
"Dia ada disini!"
"Siapa?!" tanya Bagas lagi.
Sari menatap Bagas, "Andi!"
Bagas bingung, tapi ia percaya Sari pasti tahu sesuatu. Doni dan Seno yang menyusul mereka pun ikut bingung dengan perkataan Sari.
Sosok Tante Danique muncul di halaman rumah itu, dia menunjuk ke arah dalam rumah. Sari pun memahaminya, ia mengangguk dan membuka pintu gerbang rumah. Mata Sari berkilat penuh amarah.
Andi kita harus bicara, pilihanmu hanya dua … bicara atau menemui ajalmu!
__ADS_1