
Mang Usep mengeluarkan satu keris kecil dari rangkanya, dan meletakkan di dekat tumpeng.
"Apa masih ada yang kurang, Bah?" tanya Arjuna tak sabar.
"Udah cukup, tinggal nunggu waktunya, beberapa menit lagi." Mang Usep membakar rokok dan menghisapnya dalam, menghembuskan ke atas seraya terpejam.
Selarik kata keluar dari bibir tebalnya, ia kembali menanyakan hal yang sama seperti sore tadi pada Arjuna.
"Eta si neng geulis henteu resep ka maneh?!"
(Apa gadis cantik itu nggak tertarik ke kamu?!)
"Juna sudah berusaha, Bah. Tapi … maung bodas itu melindungi Sari dan itu jadi perisai utamanya." jawab Arjuna sedikit gemetar.
"Maung bodas ... dia penjaga yang kuat. Hanya orang tertentu yang bisa memiliki pelindung seperti itu. Abah juga tertarik buat dapetin maung bodas milik Sari!"
Mang Usep terdiam dan kembali menghisap rokoknya,
"Éta budak awéwé bahaya, dia tahu terlalu banyak tentang kita. Kalau dia memang tidak tertarik ka maneh Abah kudu béréskeun wengi ayeuna oge!"
(gadis itu berbahaya .... kalau dia tidak tertarik ke kamu Abah harus membereskannya malam ini juga!)
Arjuna hanya terdiam dan menunduk menunggu ayahnya bertindak. Mang Usep meletakkan rokoknya di atas asbak, duduk bersila dan memejamkan matanya. Ritual pun dimulai.
Mulutnya berkomat-kamit merapalkan mantra, tangannya mengambil keris kecil dan menciumnya. Keris hitam luk lima itu lalu diletakkan di atas parupuyan yang penuh dengan bau wangi menyan.
__ADS_1
Mang Usep kemudian bergumam pelan,
"Ulah balik ka imah saméméh mawa korban!"
(jangan pulang sebelum membawa korban!)
Keris kecil itu kemudian bergerak aneh di dalam asap, berdiri sebentar lalu terbang menembus dinding melesat cepat ke arah tujuan.
...----------------...
Sementara itu di rumah Tante Kurnia, Sari dan timnya masih disibukkan dengan hasil liputan sore tadi. Sesekali mereka berdiskusi untuk memilih gambar terbaik dari berbagai sudut. Perdebatan kecil pun tak terelakkan mewarnai jalannya diskusi.
"Gas, coba deh Lo liat yang gambar pas di aula. Cahayanya kurang bagus kalo kita pake yang ini, gue ganti dari sisi lain gimana biar efeknya juga bagus?" Ahmad meminta pendapat dari Bagas, tangannya tidak lepas dari mouse untuk memilih gambar terbaik.
Bagas melihat hasil pilihan Ahmad, dia pun setuju dengan pendapat Ahmad. Visualisasi akhir hampir selesai dikerjakan ketika Doni mengatakan sesuatu yang membuat mereka harus berdebat.
Bagas dan Ahmad saling berpandangan, Ahmad melakukan preview ulang dan ternyata video yang dimaksud Doni hilang, hingga terdapat slot waktu yang berbeda.
"Eh kok nggak ada, perasaan tadi nggak gue hapus lho. Duh kan jadi nggak indah bener, liat deh perpindahannya cepet banget!" kata Ahmad pada Bagas.
"Kok bisa, ya udah coba kamu masukin lagi dibuat ulang!" Bagas yang juga terkejut akhirnya meminta Ahmad kembali melakukan editing.
"Sori Mad, gue tadi kayaknya nggak sengaja deh cut itu video." kata Doni cengengesan.
"Cckk, sialan Lo! Nambahin kerjaan gue aja sih, dah malem ini capek tau nggak!" kata Ahmad kesal.
__ADS_1
"Sori, gue kan nggak sengaja Mad. Plus kelupaan." Doni meminta maaf pada Ahmad sambil menggaruk rambut keritingnya.
Sari dan Rara hanya bisa menggelengkan kepala. Tubuh yang letih membuat konsentrasi mereka buyar. Jam di dinding menunjukkan pukul duabelas malam, ketika Sari mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi.
Suhu udara naik dengan cepat membuat Sari dan yang lainnya merasa gerah.
"Ni malam panas bener sih, apa memang begini ya cuaca di Cirebon?" tanya Doni
"Ya begini inilah namanya juga dekat pantai Don, mau hujan kali?!" jawab Sari
"Mungkin, tapi kok panasnya beda ya Sar? Lo ngerasain nggak sih?!" tanya Doni lagi yang mulai gelisah.
Sari sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan Doni tapi ia tidak ingin yang lainnya merasa panik. Sari hanya bisa menunggu. Ia yakin sesuatu akan terjadi. Kenaikan suhu seperti ini pernah ia rasakan sebelumnya saat berada di Indramayu.
"Jangan lebay deh, ini panas mau hujan. Kayaknya bakalan deres ni hujannya." sahut Sari
"Ya kalau hujan air Alhamdulillah … apalagi kalo hujan uang, atau hujan cinta? Kagak nolak gue Sar! Tapi, kalau …." Doni yang peka dengan perubahan suasana tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kalo apa ni? Lebay ih si Doni!" Rara ikut berkomentar sambil asyik mengetik.
Doni masih terdiam, ia menatap Sari berharap Sari mengatakan sesuatu. Tapi Sari hanya membalas tatapannya dengan senyuman singkat. Mata Sari jelas menunjukkan kegelisahan.
"Lo kalau mau ngomong yang jelas, Don! Jangan bikin takut orang!" geram Bagas yang masih kesal karena Doni membuat pekerjaan mereka semakin lama.
"Sori, lupain dah! Lanjut lagi yuk, biar cepet kelar?!" sahut Doni berusaha mengindahkan perasaannya.
__ADS_1
Sari masih terdiam, ia mulai mengamati keadaan sekitar. Sesuatu memang sedang datang menuju ke rumah Tante Kurnia. Ia bisa merasakan aura jahat yang semakin mendekat.