Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 45


__ADS_3

Selepas sholat Subuh Sari segera bersiap kembali ke rumah Pak Koswara. Rara dan Bagas semalam juga ikut pulang ke rumah Abah Hadi. 


"Lho Sar, mas Al sama keluarganya sudah pulang?" Tanya Mbak Diah


"Iya mbak, samalam mereka langsung balik ke hotel … kasihan juga sama anak-anak nya kalau harus menginap disini kan?" Jawab Sari


"Sampai jam berapa kalian semalam?" Tanya mas Hendra penasaran


"Sekitar jam 2 jam 3 an." Jawab Sari sambil minum kopi buatan Mbak Diah.


" Trus gimana hasilnya, dapat pusaka itu?" Tanya Mas Hendra lagi


Dapetlah, mereka sakti lho mas … Sari amazing waktu lihat itu kujang ada ditangan." Kata Sari mencoba mengingat perasaan yang dialaminya semalam.


"Heeem … baru percaya kamu sekarang kalo kamu punya linuwih?" Tanya mas Hendra pada Sari.


"Entah, tapi anak kecil bernama Pandji itu cukup membuat Sari terkejut mas." Jawab Sari


"Kenapa?" 


"Bayangin deh mas, anak sekecil itu selucu itu bisa lihat juga mengusir hantu yang gangguin Sari di rumah Pak Koswara lho … buat anak seumuran dia, its amazing!"


Belum lagi dia dengan santainya mainan ma macan putih mas, hiiii Sari geli liat nya." Kata Sari lagi


"Ya baguslah anak itu bisa memanfaatkan kemampuannya buat nolongin orang lain, nda kayak kamu malah ngeyel Bae … coba kamu nerima kemampuan dan buka mata batin kamu Sar, kamu bisa jadi seperti anak itu bahkan lebih hebat karena kamu ada dalam trah Siliwangi." Kata mas Hendra panjang lebar pada Sari


Sari hanya mengangguk sambil memikirkan tentang perkataan mas Hendra.


"Beneran Sari bisa mas?" Tanya Sari masih tidak percaya

__ADS_1


"Iiiish... Sari harus ku apakan kamu Nok, perlu digetok kepalamu ni kayaknya gemes ndiri mas ke kamu!" Ujar mas Hendra kesal


Sari dan mbak Diah tertawa melihat tingkah mas Hendra yang memukul meja dengan spontan saking gemesnya.


Bagas dan Rara bergabung setelah mereka bersiap,


"Sarapan dulu baru berangkat." Kata mbak Diah pada mereka berdua


"Sar, semalem gimana kamu gak kenapa-kenapa?" Tanya Bagas


"Gak apa-apa kok Gas, mereka bantuin aku nyelamatin dari hantu penari semalam." Jawab Sari


"Hah, hantu?!" 


Mbak Diah, mas Hendra, Rara, dan Bagas teriak bersamaan membuat Sari terlonjak kaget,


"Astaghfirullah, bisa nda sih nda teriak mpe budeg ni telinga?" Keluh Sari


"Tunggu, maksud kalian apa mas nda paham ni … hantu penari gimana Sar, jelasin?!" Pinta mas Hendra


"Buku tua itu mas, sejak buku itu ada ditangan Sari kita semua diteror secara bergantian … siapa pun yang baca tu buku Ndak lama didatengin ma hantu penari." Jelas Sari singkat


"Semalam Sari sempat tanya tentang hal ini sama Mas Al, katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan ke Sari tapi Sari nda paham maksudnya." 


"Trus?" Mas Hendra menyuruh Sari melanjutkan ceritanya


"Ya, mas Al bilang Sari harus selesaikan misterinya dan itu dimulai dari buku tua itu." Jawab Sari


Mas Hendra berpikir sejenak, lalu berkata

__ADS_1


"Mas mau telepon Mang Aa dulu Sar, kalian lanjutin dah sarapannya."


"Sepertinya kita punya kerjaan tambahan ni Sar,"kata Bagas sambil menyantap nasi goreng buatan Mbak Diah.


"Assalamualaikum … " 


"Waalaikumusaalam ..."


Terdengar suara Doni dan Ahmad yang datang dari kediaman Pak Koswara. Mereka hendak membersihkan diri dan bersiap kembali menjelang acara kirab sintren.


"Sarapan dulu gih, baru mandi." Kata Sari


"Wuuiiih, cakep niii nasi goreng pake telor ceplok plus kerupuk enak tenan … ada teh manis anget kagak, bosen gue disini minum teh tawar mulu, anyeb." Ujar Doni sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Namanya juga Sunda Don, ya gitu itu ciri khasnya teh tawar anget." Kata Sari


"Gitu ya, yah yang penting tidak seanyeb hidupku Sar." Sahut Doni


"Hidup Lo nda anyeb tapi yang jadi pacar Lo sepa Don." Timpal Ahmad


"Diem Lo Mad bikin sarapan gue hambar aja nih." Ujar Doni kesal


"Ohya Sar, Lo dicariin ma Pak Koswara tuh." Kata Doni dengan ekspresi serius


"Eh kenapa emang Don?" Tanya Sari penasaran


"Kagak tau gue, yang jelas kayaknya dia mau lo minta maaf deh ke dia."


 Sari pun hanya bisa terdiam sambil membatin, 

__ADS_1


Mimpi apa saya mpe harus ketiban apes semaleman … hadeeh, nasib dah.


__ADS_2