Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 23


__ADS_3

Keesokan harinya Sari dan tim sudah berkemas dari pagi. Menurut rencana mereka akan berangkat ke lokasi liputan pada jam lima sore nanti. Sari masih asyik memainkan ponselnya ketika Mom Adeline menghubunginya,


" Dag lieverd... hoe gaat het met je?


( Pagi sayang...apa kabarmu?)


"Oke mom,"


" Hoe was de dekking, verliep alles soepel?


( Bagaimana liputannya, apa semua berjalan lancar?)


" Tot zover goede mom, maak je geen zorgen


( Sejauh ini berjalan lancar mom, jangan khawatir)


" Yakin?" tanya Mom Adeline


" Ya, Sari yakin mom."


" Mang Aa sudah cerita semuanya pada mom sayang, apa kamu yakin mau meneruskan liputan ini?" tanya Mom Adeline sekali lagi


" Tenang mom, semua baik-baik saja jangan terlalu khawatir." jawab Sari


" Kapan berangkat ke lokasi sayang?" tanya Mom Adeline


" Sore ini jam lima," jawab Sari


" Apa Mang Aa ikut?" tanya Mom Adeline

__ADS_1


"Nee...cuma Mas Hendra sama Mbak Diah aja yang antar kita mom." jawab Sari


" Baiklah, mom hanya bisa mendoakan kamu dari jauh sayang."


" Bedankt, mom ik houd van je,"


( Terimakasih, mom aku sayang padamu)


" Oke, selamat menikmati perjalananmu nanti sayang... hati-hati ya," pesan mom Adeline


" Salam untuk Daddy, mom...ik hou van jullie,"


(aku sayang kalian)


Sari menutup ponselnya, dia menghela nafas panjang membayangkan perjalanan yang akan dimulai nya bersama tim. Semoga semua berjalan lancar.


" Bagaimana persiapan hari ini?" tanyanya pada Bagas


" Tujuh puluh persen bahan siap pak tinggal kita gali saja besok di lapangan." jawab Bagas


" Bagus kalo gitu, apa kita sudah punya koneksi disana?" tanya nya lagi


" Sudah pak, kebetulan sepupu Sari orang sana nanti juga mereka ikut mengantar kita sampai tujuan." sahut Bagas sambil terus memainkan jarinya diatas keyboard


Pak Adit hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat beberapa file yang sudah disiapkan Bagas sebelumnya dari Semarang. Matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian, sebuah buku tua diatas meja.


Rasa penasaran membuatnya mengambil buku itu dan membukanya. Bagas dan Doni saling berpandangan, dengan santai Pak Adit membuka halaman demi halaman. Dan ketika sampai pada salah satu halaman, ia menunjukkan ekspresi terkejut.


Doni memperhatikan tingkah Pak Adit, namun ia enggan bertanya. Sesekali ia melirik kan matanya mencuri pandang dengan rasa penasaran apa yang sebenarnya Pak Adit baca.

__ADS_1


Pak Adit trus membaca buku tua itu dengan intens, seolah ada sesuatu yang menariknya. Doni memberi kode pada Bagas tentang Pak Adit, dengan menyenggol tangannya. Bagas hanya melihat ke arah Pak Adit sebentar dan berpura - pura tidak melihatnya.


" Boleh tahu ini buku siapa?" tanya Pak Adit


" Buku saya pak, ada apa?" jawab Sari yang tiba-tiba muncul dibelakang Pak Adit.


Sari membawa kue dan beberapa gelas es jeruk buatan Tante Kurnia. Sari kemudian duduk di sebelah Pak Adit, dan meminta buku yang ada ditangannya.


" Jadi ini buku kamu?" tanyanya lagi


" Iya pak, ada apa sepertinya Pak Adit tertarik?" tanya Sari menatap Pak Adit


Pak Adit tidak menjawab pertanyaan Sari, ia justru memandangi Sari tanpa berkedip seolah tidak percaya. Sari yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Pak Adit mengalihkan pandangannya ke arah buku tua.


" Berapa umur mu sekarang?" tanya Pak Adit


" Eeits, Pak Adit kok nanya umur ke Sari, minat ya ke dia...masih muda dia pak, baru aja 18 tahun tapi jiwanya tua pak," sahut Doni tertawa kecil


" Nyamber aja lu kayak bensin," ujar Bagas


" Kenapa nanya umur saya pak, mo ngasih kado?" tanya Sari yang juga ikut tertawa kecil


" Saya serius ini nanya kamu, berapa umur kau sekarang?" tanya Pak Adit lagi


" Bulan ini genap 27 tahun, kenapa gitu pak?" jawab Sari


Pak Adit menunjukkan ekspresi terkejut, seolah tidak percaya. Ia terdiam membuat Sari dan yang lainnya bertanya tanya dengan sikap aneh yang ditunjukkan Pak Adit setelah membaca buku milik Sari.


Bagas, Sari, dan Doni saling berpandangan dengan penuh tanya. Ada apa sebenarnya dengan Pak Adit.

__ADS_1


__ADS_2