
Melihat Arjuna pergi Sari hanya tersenyum. Sari merasa puas sudah berhasil mengintimidasi Arjuna. Meski ia pun tahu resiko yang Sari hadapi tidak main-main. Arjuna bisa menyerangnya kapan saja, dan itu bisa membahayakan dirinya.
Doni menghampiri Sari, ia sengaja memperhatikan Arjuna dan Sari dari kejauhan. Sesuai pesan Mang Aa, Doni hanya akan mengawasi Sari dari kejauhan selebihnya biar Sari yang mengurus.
"Gimana, dapat hasilnya?" tanya Doni
"Hhmm, hasil dan bonusnya malah!"
"Baguslah, bagi permen dong mulut gue asem!" Doni meminta permen karet yang sedang dikeluarkan Sari sambil menatap Arjuna dari kejauhan.
"Don, makasih udah bantuin aku."
"Iya, apa sih yang nggak buat Lo. Semuanya dah gue kasih, termasuk hati gue. Eh, ada Bagas kagak ni. Berabe kalo dia mpe denger, bisa dikirim ke kutub Utara gue?!" tanya Doni sambil celingukan mencari keberadaan Bagas.
Sari tertawa melihat tingkah Doni, "Aman kali, tuh si Bagas lagi wawancara lagi ma Mang Usep."
"Heran, sensian banget tuh anak! Mana seharian mukanya asem bener kayak jeruk purut!"
"Cemburu kali dia ke kamu, makanya jangan suka jahilin temen sendiri. Kasian kan dia, giliran dia marah beneran dimutasi rasain kamu lho!"
"Heeem, enaknya ada yang mengasihani! Kapan giliran gue Sar?!" tanya Doni dengan gaya kocaknya membuat Sari tertawa.
"Nunggu jadwal dari pak RT!" jawabnya asal.
"Heeem, apes nunggu jadwal die kagak dapat apa-apa gue Sar!"
__ADS_1
"Ada, jatah makan ma ngeronda ngedit video nti malam!"
"Itu namanya kerja Sar! Yuuklah gabung ma mereka, dah sore keburu malem kita selesainya?!" ajak Doni pada Sari untuk ikut bergabung di saung tempat mereka makan siang tadi.
Sari menjaga jarak dengan Mang Usep dan Arjuna yang telah duduk kembali di samping ayahnya. Sesekali Arjuna mencuri pandang ke arah Sari, tapi Sari mengindahkannya.
****
Rangkaian liputan akhirnya selesai. Bagas berterima kasih pada Mang Usep juga Arjuna yang sudah berkenan menjadi narasumber mereka. Mang Usep meminta mereka untuk berfoto bersama sebelum pergi. Ia memilih berdiri di dekat Sari.
"Kieu, Néng, caket ka Abah!"
(Sini neng dekatan sama Abah!)
Andai dulu aku nggak keburu emosi, kamu sekarang jadi keponakan aku …, batin Arjuna.
Setelah sesi foto bersama dan membereskan semua peralatan, mereka semua berpamitan karena hari beranjak malam.
"Kami pulang dulu pak, terimakasih untuk hari ini." pamit Bagas dengan sopan.
"Silakan mas, kalo masih ada yang kurang jangan sungkan-sungkan untuk kembali lagi kesini." sahut Arjuna.
"Siap mas!"
Bagas melambaikan tangan pada Arjuna dan Mang usep sebagai tanda perpisahan. Mereka pun pergi meninggalkan galeri seni Dewangga.
__ADS_1
"Kumaha Sari katarik ku maneh?" tanya Mang Usep.
(Gimana apakah Sari tertarik padamu?)
"Hapunten Bah, abdi teu tiasa. Élmu pelet Arjuna ngancik kana awakna sorangan!"
(Maaf Bah, saya nggak bisa.
Ilmu pelet Arjuna malah berbalik ke badan sendiri!)
"Belegug sia! éta kumaha maneh teu bisa!"
(Bodoh kamu! Gitu aja kamu nggak bisa!)
Arjuna hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia begitu takut dengan kemarahan ayahnya. Mang Usep tak habis pikir pada Arjuna anaknya yang tidak bisa membuat Sari tertarik ataupun jatuh hati padanya.
"Sari mah sanes jalma sembarangan Bah."
(Sari bukan orang sembarangan Bah)
Arjuna berusaha membela dirinya, meski ia tahu usahanya akan sia-sia. Ayahnya bukan orang yang suka menerima kegagalan. Jika target sudah ditentukan maka ia harus mendapatkannya. Mang Usep menatap tajam Arjuna,
"Urang béréskeun wengi ayeuna!"
(Kita selesaikan malam ini!)
__ADS_1