
Sari merasa mendapatkan angin segar, ia sangat berharap kali ini petunjuknya bisa menuntun dirinya untuk segera menemukan Tante Danique.
"Pernah ada periset dari Belanda datang nggak?"tanya Sari dengan harap-harap cemas.
Seno berusaha mengingat ingat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sari kecewa.
"Coba tolong diingat sekali lagi mas, saya mohon!"
Seno mengerutkan keningnya dan kembali menggeleng. Sari putus asa dan mengeluarkan selembar foto milik Tante Danique.
"Mas Seno pernah ketemu wanita dalam foto ini nggak, dia salah satu periset dari Belanda. Dia Tante saya?!"
Seno bingung, ia mencoba mengingat wanita dalam foto itu. Seketika ia terkejut, "I-ini …."
Seno menatap Sari dan foto lama itu bergantian. Sari tahu Seno pasti mengingat sesuatu.
"Mas ingat atau setidaknya pernah ketemu wanita itu?"
"M-maaf mbak saya lupa, saya nda kenal!"
Seno buru-buru menyerahkan foto itu pada Sari. Seno gugup tapi ia berusaha menutupinya. Sari semakin curiga dengan sikap Seno. Tapi Sari tidak kehilangan akal.
"Boleh saya tahu dimana galeri seni tempat mas Seno kerja? Kami butuh tambahan liputan untuk seni budaya sintren."
__ADS_1
"B-boleh mbak, tapi …" Seno seperti enggan memberitahukan dimana galeri seni tempatnya bekerja, ia benar-benar menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Galeri seni saya ada di wilayah sekitar keraton Kasepuhan, mbak bisa cari disana." kata Seno lagi seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Mas Seno, saya belum selesai bicara bisa saya minta waktunya lagi sebentar?"pinta Sari sambil menarik tangan Seno.
"Maaf mba, tapi saya ada perlu sama Ratih dan itu penting. Lebih baik mbak Sari cari saja sendiri ke Cirebon, saya nggak mau terlibat!" kata Seno sambil mengibaskan tangan Sari dengan kasar.
"Terlibat? Apa maksudnya dengan terlibat, mas kenal sama wanita dalam foto ini kan?!"tanya Sari lagi, kali ini dia bahkan menarik paksa tangan Seno hingga ia hampir terjatuh.
"Mbak jangan salah paham saya cuma asal bicara saja!" Teriak Seno kesal karena hampir saja ia terjatuh karena Sari.
Bagas, Doni dan Ratih bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Suara gertakan Seno cukup mengagetkan mereka. Mereka mendapati Sari dan Seni sedang beradu argumen.
"Mbak saya cuma nggak mau terlibat itu aja!"
"Berarti kamu tau kan siapa wanita itu. Sekarang gini deh mas cerita atau saya laporkan perbuatan kalian!" Sari mengancam Seno dengan serius, ia sebenarnya tidak ingin melakukan itu tapi tingkah Seno membuatnya kesal.
"Sar, ada apa sih kok malah kalian ribut. Malu kan sama tetangga lain dikiranya kenapa?"kata Bagas mengingatkan.
Sari diam, ia sedikit terbawa emosi. Ia terus menatap Seno dengan tajam sementara Seno tidak berani sedikit pun menatap mata Sari. Ia justru menatap Ratih, kekasihnya yang diliputi ketakutan akan perbuatan mereka.
Seno menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia kemudian menatap Sari yang masih belum beralih menatapnya.
__ADS_1
"Baik, saya akan cerita tapi ingat mbak saya nggak mau dibawa bawa dalam masalah ini!"
Sari mulai melunak, dan menunggu Seno bicara. Seno berusaha mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam.
"Saya lupa tepatnya kapan mbak, sudah lama banget kejadiannya."
Sari masih menunggu. Seno berjalan mendekati Sari dan mengambil foto Tante Danique yang masih digenggamnya.
"Perempuan ini datang bersama rekannya ke sanggar kami. Saya masih ingat karena cuma dia yang bisa fasih berbahasa Indonesia."
"Tante Danique?"tanya Sari
"Saya lupa namanya mbak, cuma ingat dia ramah berbeda dengan yang lainnya di samping pintar bahasa Indonesia."
"Terus apalagi yang mas Seno ingat?"
Seno menatap lekat Sari lagi lalu dengan berat hati ia mengatakan hal yang membuat Sari terkejut.
"Dia jatuh cinta sama anak pemilik sanggar, tapi … secara tidak wajar, aneh menurut saya?!"
Sari diam dan hanya bisa menebak apa maksudnya. Seno kembali berkata,
"Dia dijadikan tumbal mbak!"
__ADS_1
" … "