Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 96


__ADS_3

Sari mengusulkan pada Bagas dan rekan satu timnya untuk mencari bahan liputan di galeri seni milik Mang Usep. Bagas yang ragu dengan usulan Sari memutuskan untuk berkonsultasi dengan Mang Aa. Kebetulan Mang Aa baru saja keluar dari rumahnya dan hendak bergabung dengan Sari dan yang lainnya.


"Mang, bisa bicara sebentar?" pinta Bagas 


"Kayaknya penting nih, Sari kenapa?" tanya Mang Aa pada Bagas sambil melirikkan mata ke arah keponakan cantiknya itu.


"Eh udah tau aja ni Mamang, saya belum kasih tahu dah paham." sahut Bagas dengan senyum mengembang.


"Ya tahulah, apa lagi kalo bukan dia?!" Mang Aa tertawa kecil melihat ekspresi Sari yang menatapnya dengan wajah masam.


"Kita mau ke galeri seni milik Mang Usep menurut Mang Aa gimana?" tanya Bagas


Mang Aa mengerutkan keningnya dan menatap Sari meminta penjelasan.


"Sari harus kesana Mang, Sari penasaran dan harus cari tahu tentang Tante Danique!" Sari menjawab tatapan Mang Aa


"Kamu siap? Nggak mudah buat ketemu dia langsung. Selain itu kamu juga harus siap buat hadapi kemungkinan terburuk!" 


"Sari siap Mang!"

__ADS_1


Mang Aa duduk berseberangan dengan Sari, ia menatap satu persatu rekan tim dari keponakannya itu.


"Mamang setuju aja sama Sari, tapi kita perlu rencana untuk itu. Jangan sembarangan, kalo kita salah langkah nyawa taruhannya." kata Mang Aa dengan serius.


Mereka mendengarkan Mang Aa dengan seksama. Sebelumnya Mang Aa memastikan terlebih dahulu kesiapan Bagas dan timnya, baik secara materi maupun mental mereka.


Galeri seni milik Mang Usep tidak begitu tampak dilihat dari luar. Mang Usep menyamarkan galeri seni miliknya seperti rumah biasa. Hanya ada papan nama bertuliskan Sanggar Seni Dewangga yang terpampang jelas di depan rumahnya. Sebagai pemilik ia tidak akan menemui para tamunya langsung. Biasanya semua urusan diserahkan pada Arjuna, putranya.


Mang Aa rupanya telah menyelidiki tentang Mang Usep dan juga Juna. Kebetulan salah satu teman Mang Aa mengetahui galeri seni itu. Nama Mang Usep memang dikenal di dunia ilmu hitam, hanya saja seperti sudah menjadi kode etik diantara para pelakunya mereka tidak mau saling bersinggungan dan mencampuri satu sama lain.


Mang Aa juga menceritakan rumor yang beredar tentang Mang Usep, persis seperti yang diceritakan Pak Koswara. Bagas dan yang lainnya saling berpandangan. Ada keraguan di hati mereka untuk melakukan liputan di galeri seni itu.


Mang Aa menghela nafas panjang, ia dan Sari saling bertatapan. "Kamu yakin?!" tanya Mang Aa sekali lagi.


Sari mengangguk tanpa menjawab apa pun. Mang Aa menatap Bagas dan yang lainnya.


"Mamang terserah kalian, mau maju atau nggak?"


Bagas bingung, ia harus memilih antara pekerjaan dan keselamatan timnya atau membantu Sari memecahkan misteri. Sari memahami kegalauan Bagas, ia pun angkat bicara.

__ADS_1


"Gas, kamu nggak usah bingung kalau kalian memang ragu jangan ikuti saranku. Pilih galeri seni lain! Tapi aku minta ijin untuk keluar dari tim, ada yang harus aku selesaikan disini dan itu penting!"


"Yang lain gimana, apa pilihan kalian?" tanya Bagas pada Ahmad, Rara, dan Doni yang saling berpandangan satu sama lain.


"Gue ikut Sari, nggak mungkin gue tinggalin dia sendirian!" jawab Doni


"Kalian berdua gimana?" tanya Bagas


"Gue juga sama, kan kemarin dah bilang ke Lo … kita bantu Sari sampai tuntas!" jawab Ahmad.


"Aku juga ikut, Sari temen terbaikku. Kita susah seneng dari nol sama-sama, jadi aku ikut!" jawab Rara.


"Good, jadi kita sepakat pergi ke galeri itu?!" tanya Bagas sekali lagi disambut anggukan dari semua tim.


Sari terharu pada sikap teman-temannya ia pun mengucapkan rasa terimakasihnya pada semua anggota tim.


"Thank you, maaf merepotkan kalian."


"Jadi kalian sudah sepakat?" tanya Mang Aa sekali lagi untuk memastikan sikap mereka, dan dijawab dengan anggukan kepala serempak.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kita butuh strategi untuk menghadapi si Usep!"


__ADS_2