Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 157


__ADS_3

Sari telah kembali ke raganya, perlahan ia membuka mata. Doni dan Bagas serta pak Ujang tampak asik mengobrol. Luka di leher yang didapatkan dari Andi belum juga sembuh masih ditambah dengan luka souvenir dari makhluk jelek menyeramkan tadi. Sari menyentuh lehernya yang nyeri, begitu juga dengan tangan dan kakinya.


"Masih jauh pak?" tanya Sari


"Kalo dari alamatnya sih neng sekitar dua atau tiga kilo lagi dah kita nyampe di villa." jawab Pak Ujang.


"Pak, kita mampir di warkop depan deh. Kayaknya rame tuh orang ngumpul disitu." pinta Sari menunjuk ke arah warung di depan mereka.


"Ide bagus, gue ngantuk butuh kopi Sar." kata Doni mengamini permintaan Sari.


Pak Ujang mengarahkan mobilnya ke warung yang ditunjuk Sari. Ia juga merasakan lelah karena belum beristirahat sejak siang tadi. Sari turun dari mobil dengan menahan sakit di kakinya.


"Ya ampun Sar, kamu kenapa?" tanya Bagas, ia segera membantu Sari berjalan.


"Nggak apa kok cuma kram aja." elak Sari.


Mereka mencari meja kosong yang sedikit menjauh dari keramaian. Sari menaikkan celana panjang untuk melihat luka di kakinya, tampak memar parah di betisnya begitu juga dengan lengan.


"Luka lagi Sar?" tanya Doni.


Sari mengangguk, Doni mendekat dan menempel kan botol air mineral dingin di memar Sari. Bagas yang datang membawa segelas cappucino panas terkejut melihat memar di tubuh Sari.


"Astaghfirullah, luka lagi kamu Sar? Abis berantem lagi, kok aku nggak tahu?"


"Emang kalau tahu kamu mau bantuin Gas?" tanya Sari.


"Bantuin doa doang Sar, kamu kan tahu aku nggak bisa begituan kayak kalian berdua?!"


Sari tersenyum masam, ia sesekali meringis merasakan ngilu di tubuhnya. Pak Ujang yang datang menyusul Bagas dengan segelas kopi hitamnya juga dibuat tercengang dengan memar di tubuh Sari.


"Neng, naha leungeun, suku jeung beuheungna kitu? Tadi kan nggak apa-apa neng?" 

__ADS_1


(Neng, kenapa itu lengan, kaki sama lehernya begitu?)


"Ooh, tadi ketabrak laron lewat pak." jawab Sari santai.


"Laron? Hhmm laronna ageung pisan, ya neng." (Laronnya besar banget)


"Iya, segede gaban tadi pak makanya begini." sahut Sari.


Mereka beristirahat sejenak. Sari meminta waktu satu jam untuk memulihkan tubuhnya. Ia tertidur di dalam mobil, sementara yang memilih merebahkan diri di kursi warung.


Suara adzan subuh membangunkan Sari, kelelahan membuatnya terlelap dalam tidur. Pak Ujang rupanya sudah membawa mereka ke sebuah masjid dekat villa milik Mang Usep.


"Eh, dimana kita?" tanya Sari.


"Masjid, subuhan dulu Sar. Villa nya dah deket." kata Bagas seraya keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Sari.


Mereka menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah bersama warga sekitar. Usai sholat Sari menyapa beberapa warga yang masih duduk di teras masjid.


"Wa'alaikumussalam, villa mang Usep? Oh, palih ditu teh." jawab salah seorang warga.


Yang lainnya menunjukkan letak villa mang Usep dan memberikan arah. Salah satu warga yang penasaran bertanya pada Sari.


"Ada perlu apa neng cari villa itu?"


"Saya mau lihat-lihat aja katanya dijual jadi saya penasaran." jawab Sari berbohong.


"Mau dijual? Syukurlah, ikut seneng saya teh."


"Naon Kitu mang?"


Mereka saling berpandangan, dengan ekspresi yang rumit mereka berbisik pada Sari.

__ADS_1


"Itu villa horor teh, ini mah bukannya mau nakut nakutin si teteh. Tapi, itu villa wingit loba lelembutna!"


Sari tersenyum, ia kembali menanyakan hal lain berkaitan dengan Kania dan Tante Danique.


"Bapak pernah lihat ada bule disitu nggak atau anak kecil … ehm, Kania namanya?"


"Bule? Dulu mah kita pernah lihat, katanya tamu dari Belanda tapi jarang keluar dari villa. Tau-tau aja udah pergi gitu. Kalo Kania, teu terang teh?" jawab salah satu warga yang memakai sarung berwarna merah dan peci putih.


Sari terdiam, rasanya sudah cukup informasi dari warga yang ia dapatkan. Saatnya ia menuju ke villa itu dan mencari dimana makam Tante Danique.


"Makasih pak informasinya, saya permisi dulu mau lihat kesana." pamit Sari


"Sok atuh teh, ati-ati."


Sari pergi meninggalkan mereka dan bergegas masuk ke dalam mobil. Bagas dan Doni telah menantinya.


"Ayo pak kita ke villa sekarang!"


Mereka tiba di villa yang tak jauh dari masjid. Villa itu tampak tidak terawat, sepertinya memang jarang digunakan lagi. Untungnya pintu gerbang tidak terkunci, suara derit besi berkarat membuat telinga sakit. Sari berjalan memasuki villa kosong itu. Suara berisik seperti orang bergumam menyapanya saat melangkahkan kaki memasuki halaman villa.


Rumput liar tampak tumbuh menghiasi disana sini. Villa itu sepertinya memang telah lama tidak berpenghuni. Daun-daun kering tampak berserakan mengotori halaman. Sari memutuskan menghubungi Seno melalui panggilan video call.


"Mas Seno, ini bener rumahnya?" tanya Sari dengan mengarahkan kamera ke villa.


Seno memperhatikan villa dan area sekitarnya untuk memastikannya. "Iya mbak Sari betul itu villanya."


"Siapa yang pegang kunci mas? Saya harus masuk ke dalam." 


Seno memberitahukan siapa yang memegang kunci villa. Seorang pesuruh yang menjadi kepercayaan Mang Usep tinggal tak jauh dari villa. Seno akan menghubunginya dan meminta Sari untuk menunggu.


Sari menutup pembicaraan. Ia kembali berjalan memutari villa, halaman belakang itu cukup luas. Sari ngeri membayangkan banyaknya jasad yang kemungkinan terkubur di bawah tanah. Suara gumaman kembali terdengar ditelinga Sari. Satu persatu arwah gentayangan menunjukkan diri dihadapan Sari.

__ADS_1


__ADS_2