
Bagas dan Doni lega Sari kembali dengan selamat. Sari menyentuh bahunya, nyeri itu tidak lagi ia rasakan. Doni berhasil menyembuhkan luka Sari.
"Don, ini kamu yang sembuhin?" tanya Sari
"Bukan, orang lewat Sar!" jawab Doni
"Wah nggak nyangka bener, hebat juga kamu Don. Kalo gini nggak perlu repot panggil Bayu deh." puji Sari.
"Bayu lagi, hmmm saingan sama demit kalah dong saya." sahut Bagas sedikit kesal.
Sari hanya bisa menyeringai, ia segera mengalihkan pembicaraan. "Don, bisa ajak komunikasi mereka nggak. Suruh mereka tunjukkin tempatnya."
Doni melihat ke arah Sari menunjukkan tangannya. Beberapa roh wanita dengan wajah pucat menampakkan dirinya didepan Doni.
"Mereka korban juga?" tanya Doni menatap lekat mereka satu persatu.
Sari mengangguk. Setelah penguasa villa musnah mereka mulai berani berbicara dan mengatakan beberapa hal pada Sari. Keinginan mereka satu disempurnakan kematiannya. Doni mendekati beberapa roh wanita itu, ia mengambil batang kayu dari pohon mangga yang terjatuh.
Doni berkomunikasi dengan intens, ia perlahan mulai berjalan dan menggores tanah yang ditumbuhi ilalang. Doni menandai tempat-tempat yang ditunjukkan para roh itu sebagai lokasi penggalian.
"Sar, si Doni nandain apaan tuh?" tanya Bagas.
"Tempat jasad mereka dikuburin Gas. Ada banyak disini, bahkan ada yang bertumpuk."
Tante, dimana kamu? Kenapa menghilang, kasih saya petunjuk dimana jasadmu?!
"Mas Ucup, pinjam cangkul atau apa deh buat gali tanah." Sari meminta pertolongan pada Ucup.
__ADS_1
"Cangkul? Siap teh, tunggu disini saya ambilkan dulu di rumah." Ucup segera pergi meninggalkan mereka.
Tak lama kemudian ia datang setengah berlari bersama dua orang rekannya.
"Eh, dia kenapa bawa orang Sar?" Bagas heran dengan Ucup yang begitu tanggap memanggil bantuan.
"Biarlah, lumayan bisa bantu kita Gas!"
"Teh, saya bawa bantuan ini! Bolehkan?!" tanya Ucup dengan nafas tersengal karena berlari.
"Boleh mas kebetulan malah."
Sari mengarahkan Ucup dan kedua rekannya untuk menggali tanah yang sudah ditandai Doni. Sementara Doni masih asyik berkomunikasi dengan para roh. Ia terus menggoreskan tanda ke tanah disisi timur rumah. Semuanya masih berada di bagian belakang rumah. Satu … dua … tiga … empat … lima …,
Doni mengakhiri komunikasi. Ia terperanjat melihat banyaknya tanah yang ditandai olehnya.
"Hhmm, sekitar dua puluhan lebih. Aku yakin korbannya juga banyak. Ada yang tidak dikuburkan disini Don. Mereka punya beberapa lokasi." jawab Sari.
"Gimana sama Tante Danique?"
Sari menggelengkan kepalanya. Ia bingung kenapa setelah ia mengalahkan penguasa villa justru Danique tidak muncul. Ia berusaha mengingat ingat letak lubang yang ditunjukkan Tante Danique.
"Aneh, coba aku ingat lagi. Ada kebun disekitar, terus … diatasnya ditanam bibit mawar. Itu lima belas tahun lalu berarti harusnya pohon itu dah tua banget kalo tumbuh." gumamnya sendiri.
Sari berkeliling mencari petunjuk, sekecil apa pun petunjuk harus ia temukan segera. Ia sedang asyik mencari ketika Tante Danique muncul.
"Tante … akhirnya?! Tunjukin dimana tempat Tante?!" pinta Sari
__ADS_1
Arwah Tante Danique menunjukkan tanah tempat Sari berdiri. Sari melihat ketanah yang diinjak kakinya.
"Disini?"
Tante Danique mengangguk. Sari segera menandai tempat itu dan bergegas meminta Ucup untuk membantunya. Sari membantu membersihkan rumput yang menghalangi. Sesekali ia ikut mengeruk tanah yang sedang digali Ucup. Dikedalaman satu meter lebih cangkul Ucup terantuk sesuatu.
Ucup dan Sari saling berpandangan.
"Teh, ini …" Sari terperanjat melihatnya tapi kemudian ia berkata,
"Lanjutin aja mas gali terus!"
Ucup melanjutkan galiannya, cangkulnya kembali terantuk sesuatu. "Teh, mending pake tangan aja deh kita?!" sarannya pada Sari.
Sari turun ke dalam lubang dan mulai menggali dengan kedua tangan dan bantuan sekop. Bagas ikut membantu Sari sementara Ucup menggali tempat lain yang sudah ditandai Doni tadi.
Dengan hati-hati Sari menggali dan perlahan tulang belulang Tante Danique ditemukan. Sari menangis, "Akhirnya misiku selesai juga. Tante, waktunya pulang." kata Sari disela isak tangisnya, Bagas mengusap lembut punggung Sari.
"Kuat Sar, ayo kita selesaiin ini." Bagas menghibur Sari.
Dengan hati-hati, Sari menyingkirkan tanah yang menutupi tulang belulang milik Danique Van Leeuwen. Ia membayangkan betapa kejamnya Arjuna membunuh wanita yang juga telah menjadi istrinya. Danique bahkan dikuburkan begitu saja dengan pakaian penari yang masih menempel ditubuhnya.
"Sar, cukup deh biar pihak kepolisian yang urus ini." Bagas meminta Sari menghentikan penggaliannya setelah seluruh tulang belulang Danique ditemukan.
Sari tak bergeming, ia terus membersihkan tulang belulang itu sampai akhir. Hingga akhirnya Bagas memeluk Sari, menyadarkan dan membiarkannya menumpahkan kesedihan di bahu Bagas. Sari menangis sejadinya meluapkan rasa yang selama ini terpendam sedih, bahagia, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu membuat Sari sesak tapi juga lega karena misinya berhasil.
Bedankt Sari …,
__ADS_1
(Terimakasih Sari …,)