
Bagas bingung, siapa Bayu?
Sari tidak pernah menceritakan lelaki bernama Bayu kepadanya. Ia mulai berpikir macam-macam.
Bayu … apa dia sainganku? Kayaknya bukan deh, Sari nggak pernah ngenalin cowok namanya Bayu ke aku …, katanya dalam hati
"Temenin aku kembali ke Keraton Kasepuhan Gas, semoga waktunya cukup."
"Bayu? Siapa lagi itu, kok kamu nggak pernah ngenalin ke aku?"tanya Bagas sedikit cemburu.
Sari tertawa melihat tingkah Bagas, ia sudah bisa menebak jika Bagas akan menanyakan jati diri Bayu.
"Dia … teman." Sari menjawabnya dengan singkat.
"Sejak kapan kamu punya temen namanya Bayu, aku kok nggak tahu Sar?"
"Dia, teman istimewa!" Sari kembali tersenyum dengan penuh misterius.
"Ooh, gitu jadi ada yang lebih istimewa dari aku nih ceritanya?!" Bagas terlihat semakin kesal pada Sari.
"Dah, nggak usah dibahas lagi balik yuk nanti keburu siang sampai di Cirebon." ajak Sari.
Bagas menanggapinya dengan malas, ia berjalan gontai di belakang Sari. Sari tersenyum melihat kelakuan Bagas yang seperti anak kecil, ia pun berhenti menunggu Bagas dan menarik tangannya.
"Dia nggak lebih istimewa dari kamu. Cuma itu aja yang bisa aku kasih tahu."
"Ah masa sih, tega kamu Sar aku dah ngarep kamu lho?" rajuk Bagas pada Sari.
__ADS_1
Sari mulai sedikit kesal dengan tingkah Bagas, ia lalu menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"It's oke kalo kamu nggak percaya, aku cm mau nanya kamu mau saingan ma demit?!"
Bagas terkejut dan seketika menjawab, "Eh, demit?!"
"Iya karena Bayu itu salah satu penunggu Keraton yang aku temuin tempo hari!" Kata Sari menegaskan perkataannya.
" … " Bagas speechless, (tidak bisa berkata-kata)
"Cepetan jalannya, aku nggak mau yang lain nungguin kita!"
Bagas masih bingung dengan perkataan Sari, tapi ia tidak ingin lagi berdebat dengan wanita cantik di depannya. Ia pun menurut dan mengikuti kemauan Sari.
Benar saja anggota tim lainnya sudah menunggu mereka untuk berangkat. Rombongan mereka berangkat terpisah dengan Mang Aa dan Mas Hendra. Ini karena Bagas dan yang lain akan berpamitan terlebih dahulu dengan Pak Koswara.
Pak Koswara menyambutnya dengan wajah ramah.
"Assalamualaikum …" Bagas menyapa.
" Wa'alaikumussalam …." Jawab Pak Koswara dengan senyuman di wajah tuanya.
"Lho kok rombongan, ada apa ini … apa mau pulang sekarang?"tanya Pak Koswara.
"Iya pak, kami mau kembali ke Cirebon dulu. Terimakasih atas kebaikan bapak selama kami meliputi disini. Maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan kami selama menjadi tamu di Seca Branti." Bagas mengucapkan kata perpisahan kepada Pak Koswara dengan sopan.
"Saya kira masih lama mau disini. Sama-sama mas Bagas dan juga yang lainnya saya juga mengucapkan banyak terima kasih sudah diberi kesempatan untuk ngenalin budaya sintren lewat liputan mas Bagas."
__ADS_1
Jangan lupain bagian saya harus bayar kerugian bapak 5 juta yaa … kata Sari dalam hati dengan sedikit kesal.
Pak Koswara seperti mengetahui apa yang dipikirkan Sari, ia tersenyum padanya lalu berkata, "Mbak Sari jangan kapok ya berurusan dengan saya!"
Sari langsung membulatkan matanya dan tersenyum masam, "Bapak bisa aja nih."
Kapok dah, triplet apes saya disini … umpatnya dalam hati.
Seorang pria tiba-tiba datang menghampiri Pak Koswara dengan tergesa-gesa.
"Mang …?!"
"Eh, kenapa kamu Dang?"
Pria itu bingung, sepertinya ada hal gawat yang terjadi tapi ia urung mengatakannya karena Pak Koswara sedang menerima Bagas dan timnya sebagai tamu.
"Ehm, gini …. "
Ia langsung berbisik, pada Pak Koswara. Sesuatu memang benar terjadi dan itu sepertinya penting.
Pak Koswara seperti menahan amarah, ia mengepalkan tangannya berusaha mengontrol emosinya.
"Kurang ajar!"
Bagas dan yang lainnya terkejut. Pak Koswara menatap tajam Sari dan Bagas membuat mereka salah tingkah.
"Bisa kalian ikut saya sebentar?!"pinta Pak Koswara sambil menahan emosinya.
__ADS_1