Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 145


__ADS_3

Dika berjalan mengendap endap dalam gelap. Malam ini adalah malam dimana ia seharusnya memberikan tumbal pada nyai Sekar Arum. Setelah Mang Usep dan Arjuna tewas ditangan Sari kewajiban mereka beralih pada Dika. 


Dika selalu dipercaya oleh Mang Usep dan Arjuna untuk membantu mereka menyiapkan dan mengurus jenazah para tumbal mereka. Awalnya ia menolak tapi Mang Usep dan Arjuna menjanjikan imbalan yang setimpal membuat Dika justru ketagihan dan bersemangat membantu Mang Usep dan Arjuna.


Dika mendengar rencana Sari yang akan datang ke gua nyai Sekar Arum dari curi dengar pembicaraan Pak Koswara dan Seno. Ia geram dan ingin membalas dendam kematian Mang Usep dan Arjuna pada Sari. 


 Dika bertemu dengan keduanya saat ia menjadi korban tabrak lari. Dika yang hidup sebatang kara dan tidak berdaya saat itu ditolong oleh Mang Usep dan Arjuna. Ia juga diberikan pekerjaan dan tempat tinggal gratis oleh Mang Usep. Bagi Dika mereka adalah penyelamat hidupnya.


Dika yang juga diajarkan Mang Usep ilmu hitam segera melakukan ritual dan menyelinap dalam gelap menunggu kesempatan emas untuk menyerang Sari. Dika sengaja menunggu Sari lengah dan terluka.


 Kesabarannya menanti dalam gelap berbuah manis, Sari kembali bersama keempat penjaganya. Ia bisa melihat tangan Sari yang terluka. Dika hendak menyerang saat Sari mengayunkan pedangnya, membuat nyalinya ciut sejenak. Tapi tekadnya sudah bulat, ia harus membunuh Sari dan membalaskan dendam Mang Usep dan Arjuna.


Sari yang lengah setelah menghancurkan altar batu tidak menyadari Dika yang berjalan cepat dan menusuknya dari belakang. Keempat penjaga Sari juga kecolongan karena tidak menyangka ada manusia lain yang bisa menyelinap dalam gelap.


"Dika …" 


"Hadiah kecil untukmu mbak!" Seringai Dika pada Sari.


Sari menatap Dika yang tersenyum puas karena berhasil melukai Sari. Dika menarik belatinya dari perut Sari. Rasa nyeri yang teramat sangat harus Sari rasakan. Ia meraba perutnya, darah kental keluar dari lukanya yang menganga.

__ADS_1


"Sakitkah? Belum seberapa dibandingkan kematian Mang Usep dan kang Juna yang lebih mengerikan!" 


Dika kembali menusukkan belati yang dipegangnya saat Sari berhasil mengendalikan kesadarannya. Ia menangkis serangan Dika dengan pedangnya dan berhasil menendang perut Dika hingga terjatuh.


"Kenapa Dika? Aku pikir kamu orang baik ternyata kamu juga sama seperti mereka!" tanya Sari geram.


Dika berdiri dan kembali menyerang Sari, ia mengabaikan para penjaga Sari yang telah bersiap menerkamnya. Dendam yang menyelimuti hatinya membuat Dika tidak peduli dengan apa pun. Baginya membunuh Sari dengan tangannya sendiri adalah kehormatan terbesar untuk membalas kebaikan Mang Usep dan Arjuna.


"Kamu sudah membunuh orang-orang yang menganggapku ada, orang-orang yang telah menolongku dan memberiku kehidupan kedua!" 


Sari berhasil mengelak dari serangan Dika, ia berkelit memutari punggung Dika dan berhasil melayangkan pukulan keras dengan sikunya.


Perkataan Sari membuat Dika meradang, ia kembali menyerang Sari, menendang dan memukul membuat Sari kewalahan. Sebuah pukulan keras dari Dika berhasil mendarat di perut Sari yang terluka. Ia pun limbung dan bertumpu pada pedangnya.


Sari mulai kehilangan kesadaran, karena luka yang dideritanya.


"Apa kau puas sekarang?" tanya Sari pada Dika.


"Sebelum melihatmu mati di tanganku, aku belum puas!" jawabnya 

__ADS_1


"Baiklah sudah cukup bermainnya, sudah cukup untukku tahu bahwa kau pun layak untuk mati. Maaf jika ini sedikit menyakitkan!" Sari merapalkan mantra rahasia, pedangnya kembali mengeluarkan cahaya kemerahan.


Dengan susah payah Sari berdiri, menyeringai pada Dika yang telah bersiap menyerangnya. Dika melompat ke arah Sari dengan menghunuskan belatinya, bersamaan dengan itu Sari mengayunkan pedangnya dan menebas tubuh Dika yang bahkan belum mendarat ke bumi.Tubuh Dika terbagi menjadi dua, ia mati seketika.


Nafas Sari mulai terasa berat, ia menatap tubuh tak bernyawa yang terbagi secara mengerikan karena pedangnya. 


"Musuh yang tersembunyi … Dika, maaf jika harus berakhir seperti ini!"


Sari limbung dan jatuh, pertarungan usai. Sari kembali menjadi Dewi Kematian bagi siapa pun yang menentang kehendak alam. Malam itu menjadi saksi bisu kehebatan Sari menumpas salah satu musuh manusia. Hati manusia yang berubah menjadi iblis lebih menakutkan ketimbang iblis itu sendiri.


Keempat maung Sari segera membawa Sari melintasi dimensi. Sang pemimpin membawa Sari di punggungnya. Secepat kilat ia membawa Sari kembali ke raganya agar bisa terselamatkan.


Doni yang sedari tadi menunggu kembalinya Sari terkejut melihat kondisi Sari yang tiba-tiba berubah. Sari terkulai lemas, darah segar keluar dari mulutnya.


"Sar … Sari, astaghfirullah!"


Doni meraih tubuh Sari dan terkejut mendapati luka memar yang muncul di tubuhnya. Doni yakin ini karena pertarungan Sari di dimensi lain. Salah satu penjaga Sari menampakkan dirinya pada Doni, mereka berkomunikasi sejenak dan membuat Doni mengerti.


Ayo Sar, Lo pasti kuat! Bertahanlah Beib!

__ADS_1


__ADS_2