
Malam harinya diadakan acara tahlilan untuk mengirimkan doa untuk Mang Aa. Warga sekitar lingkungan tempat Mang Aa tinggal berdatangan memenuhi undangan dari Tante Kurnia. Beberapa sahabat Mang Aa pun turut hadir.
Bagas, Doni dan Ahmad ikut membantu Tante Kurnia menyiapkan tempat tambahan karena tamu undangan yang datang melebihi kapasitas. Untungnya rumah peninggalan kakek Sari cukup luas hingga bisa menampung kelebihan tamu yang datang.
"Gila ni banyak bener yang dateng Gas, berasa kek ngurusin kondangan pernikahan!" bisik Ahmad.
"Iya nih hebat Mang Aa, dia orang baik kelihatan dari banyaknya yang datang melayat dari pagi sampai malam begini." sahut Bagas sambil terus memperhatikan para tamu yang mulai memenuhi tempat yang disediakan.
"Don, gimana ada yang kurang lagi nggak tikar ma kursinya?" tanya Bagas pada Doni yang datang mendekatinya.
"Cukup kok, eh Gas Sari mana nih dari pagi dia belum makan khawatir gue?!" Doni tidak menyadari perkataannya membuat Bagas menatap dirinya tajam.
Ahmad yang tak kalah terkejutnya langsung mengedikkan kepalanya pada Doni membuatnya tersadar.
"Astaghfirullah, lupa gue Gas!" Doni menepuk jidatnya sendiri menyadari kekonyolan yang baru saja dibuatnya.
"Khilafnya kebanyakan ya Don? Lo terus terusin aja khilafnya Don, mumpung gue masih sabar ini!"
"Yaelah Gas, timbang nanya doang Sari dah makan belum? Gitu aja marah, pan hati Sari juga cuma buat Lo doang! 85% Lo 15% gue, lumayanlah kebagian dikit!" sahut Doni dengan menaikkan alisnya sebelah menggoda Bagas.
Bagas yang kesal hanya bisa mengelus dada mengingat banyak orang yang datang tidak memungkinkan dirinya melampiaskan amarah pada Doni.
Sebuah mobil bernomor polisi Jakarta datang memasuki halaman rumah Tante Kurnia. Sepasang suami istri dan dua orang lainnya turun dari mobil. Doni langsung menyambut mereka dengan ramah. Mereka adalah orang tua Sari, Barend Janssen Van Leeuwen dan Adeline Van Leeuwen.
"Goedenavond oom en tante." sapa Doni dengan ramah.
(Selamat malam om dan tante)
"Doni ook goedenacht, wah udah bisa bahasa Belanda sekarang? " balas mom Adeline membuat Doni tersipu.
(selamat malam juga Doni)
"Cuma dikit Tante, selamat malam doang lainnya belum bisa." jawab Doni cengengesan.
__ADS_1
"Sedikit juga lumayan. Tante masuk dulu ya, nanti kita ngobrol lagi. Banyak yang mau Tante bicarakan sama kamu?!"
"Siap Tante."
Mom Adeline dan suaminya Barend Janssen masuk ke dalam menemui Sari putrinya dan keluarga besar lainnya.
"Sari." Mom Adeline menyapa Sari yang sedang duduk bersama Tante Kurnia, ia terlihat senang sekali mendapati Mom Adeline datang tepat waktu.
"Mom, Sari mis je, bedankt voor je komst zo snel mogelijk!"
(Mom, Sari kangen … makasih udah datang secepatnya.)
"Mama mis je ook lieverd. Wij boeken direct de snelste vlucht naar Jakarta."
(Mom juga kangen kamu sayang. Kami langsung pesan penerbangan tercepat ke Jakarta.)
"Mom, maafin Sari ya …"
Ia menenangkan Sari yang masih terguncang. Dad Barend langsung bergabung dengan yang lain karena acara akan segera dimulai, begitu juga dengan kedua orang Belanda yang turut bersamanya.
Acara tahlilan berlangsung lancar, Tante Eka masih terisak disela pembacaan doa begitu juga dengan Tante Kurnia. Mom Adeline menguatkan Tante Eka dengan tetap mendampinginya selama acara.
Satu persatu para tamu undangan pulang meninggalkan ruangan kosong yang tampak suram dengan kesedihan penghuninya. Ditinggalkan orang terkasih bukan perkara mudah, butuh kekuatan dan keikhlasan untuk menerimanya. Apalagi kepergian Mang Aa terjadi mendadak dan sangat tragis.
Mereka berkumpul di pendopo duduk bersama sekedar melepas lelah dan mengobrol ringan bersama kedua orangtua Sari yang lama tidak pulang ke Indonesia.
"Maaf mbak nggak sempat nyambut mbak Adel tadi." Tante Eka membuka obrolan dengan mom Adeline dengan suara lemah, ia masih shock dengan kematian Mang Aa.
"Kamu ini memang saya pejabat harus disambut? Kamu yang ikhlas ya, harus sabar dan kuat. Ade udah tenang disana."
Mom Adeline berusaha menenangkan iparnya yang tampak kuyu dan bermata sembab.
Di keluarga Abah Ibrahim, mom Adeline adalah putri tertua disusul Tante Kurnia dan Mang Aa sebagai anak bungsu. Sebagai putra satu satunya dari keluarga Ibrahim mang Aa sering dijadikan pelindung bagi kedua kakak perempuannya. Hubungan mereka yang sangat dekat tetap terjaga bahkan setelah mereka menikah dan terpisah oleh jarak.
__ADS_1
"Mbak dapat kabar dari siapa kalo Ade nggak ada?" tanya Tante Kurnia
"Hendra, untungnya kami dapat penerbangan tercepat dan nggak ada kendala cuaca."
"Mbak pasti jetlag istirahat aja dulu mbak, besok kita bisa ngobrol lagi." saran Tante Kurnia pada mom Adeline.
"Lumayan, sebentar lagi masih kangen sama Sari." sahut wanita cantik paruh baya itu sambil memeluk putri semata wayangnya.
Dad Barend yang duduk disebelah Sari pun ikut mengusap lembut kepala putrinya. "Papa mis je zo erg."
( Dad sangat merindukan kamu.)
"Sari ook, ik hou van papa." Sari berganti memeluk Dad Barend dengan erat.
(Sari juga, aku sayang Dad)
Melihat Sari yang sedang melepaskan rindu pada kedua orangtuanya membuat Doni kembali bertingkah,
"Hadeh Sar, Lo main peluk peluk gitu gue kan juga pengen dipeluk. Mom Adeline boleh Doni minta pelukan, kangen emak di kampung?!"
"Heem, cari kesempatan dalam kesempitan ni anak." Bagas menyindir dengan nada sarkasnya.
"Salah Gas, kesempatan dalam dana umum biar dapetnya banyakan dikit. Mumpung calon mertua dateng!" sahut Doni sambil menjulurkan lidahnya membuat Bagas geram.
Mom Adeline tertawa mendengar ucapan Doni begitu juga dengan yang lainnya. Tapi tawa mereka terhenti dengan kedatangan seseorang yang tidak terduga.
"Bu, ada tamu diluar katanya penting?!" Salah satu asisten rumah tangga Tante Kurnia memberitahukan padanya.
"Siapa bi?"
"Katanya namanya Pak Adit, mau ketemu sama neng Sari juga Mang Aa."
" … "
__ADS_1