Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 152


__ADS_3

Kejadian di rumah itu membuat sedikit keributan di lingkungan sekitar. Sirine mobil polisi memecahkan kesunyian kampung yang biasanya lengang. Sari dimintai keterangan berkaitan dengan laporannya. 


Mom Adeline panik begitu juga dengan Dad Barend. Mas Hendra pun diutus untuk segera membantu Sari.


"Deeh, anak satu ini bikin heboh keluarga aja. Kamu ngapain sih Sar?" Mas Hendra tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Sari.


Sari yang baru saja keluar dari ruang pengaduan, menghentikan langkahnya dan menatap tajam mas Hendra.


"Dia tahu dimana Tante Danique dimakamkan mas!" Jawab Sari.


"Terus?" 


"Ya Sari cari dia, dan sekarang Sari minta mas Hendra bantu Sari lah emang ngapain lagi?"


Mas Hendra mengacak rambutnya, jika saja Mang Aa tidak menitipkan Sari sebagai tanggung jawabnya pastilah ia tidak mau membantu keponakan cantiknya itu.


"Kamu dah laporin Andi kan?" tanya mas Hendra.


Sari mengangguk, "Kamu tahu dimana si Juna kuburin Danique?" 


Sari kembali mengangguk, "Yakin Andi yang bantu?" tanya Mas Hendra sekali lagi.


"Cckk, ni mas Hendra mau bantu nggak sih!" Sari kesal dengan sikap mas Hendra.


"Deee … gitu aja marah, neng geulis … mas cuma harus memastikan kebenarannya dulu. Ya udah tunggu bentar?!"

__ADS_1


Mas Hendra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia berjalan menjauhi Sari dan berhenti di sebuah pohon rindang. Cukup lama Sari menunggu bersama kedua sahabatnya dan Seno.


Mas Hendra selesai berbicara dan menatap ke arah Sari sejenak. Ia kembali menghampiri Sari yang menunggunya dengan harap-harap cemas.


"Kita tunggu di kantin sana dulu!" Mas Hendra mengajak Sari dan yang lainnya.


"Ngapain kesana?" tanya Sari heran.


"Ngopilah, mas ngantuk!" sahut mas Hendra santai.


Dengan rasa dongkol Sari terpaksa mengikuti mas Hendra, ia tahu pasti mas Hendra sedang merencanakan sesuatu untuk membantu Sari.


"Sar, mas udah minta bantuan salah satu kenalan buat bantuan kita. Bentar lagi dia datang kok." kata Mas Hendra menyesap kopinya.


"Thanks." jawab Sari singkat


"Terus?" Sari sibuk memainkan ponselnya tanpa memperhatikan mas Hendra.


"Kamu siapin yang lainnya dong Sar, hhhmm … ni anak minta dijitak juga ni kayak nya!"


"Maksudnya gimana ni!" Sari mulai memperhatikan mas Hendra.


"Nggak ada yang gratis Sar disini, kita butuh tenaga mereka otomatis sarana dan prasarana kita harus siapin juga." mas Hendra menjelaskan pada Sari.


Sari berpikir sejenak, "Kembang setaman butuh juga nggak?" 

__ADS_1


Mas Hendra terperangah mendengarnya, dengan kesal ia menjawab pertanyaan Sari.


"Buat apa setaman, kurang?! Sekebon, kalo perlu satu hektar sekalian!"


Sontak Bagas, Doni dan Seno tertawa mendengar jawaban mas Hendra.


"Yaelah Sari, otak lo miring nih kayaknya abis berantem ma nyi Sekar Arum. Itu orang Sar, bukan demit yang doyan kembang!" sahut Doni.


"Nah tu, si Doni yang otaknya kurang satu ons aja paham Sar. Masa kamu nggak?!" ujar mas Hendra tertawa kecil.


"Paham kok, pura-pura aja biar pada ketawa. Dari tadi tegang bener, yang harusnya tegang kan Sari kenapa semuanya ikutan tegang begitu?!" tanya Sari dengan wajah konyolnya.


"Astaghfirullah, dosa apa gue punya ponakan model begini! Bikin darah tinggi kumat!" Mas Hendra menatap Sari dengan kesal.


Beberapa saat kemudian sebuah mobil SUV hitam datang dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka menunggu. Dari dalam mobil keluar dua orang lelaki. Satu orang berseragam tentara dan satu lagi berpakaian rapi dengan lencana tergantung di depan dadanya


"Nah tu dia mereka datang." Wajah mas Hendra berubah sumringah.


Bagas dan Doni saling berpandangan, "Siapa lagi tuh?" tanya Bagas ke Doni.


"Tau dah, Sar mereka siapa tuh?" tanya Doni ke Sari.


Sari yang sedari tadi menatap takjub ke arah kedua lelaki itu tidak menjawab. Senyumnya mengembang dan spontan berlari ke arah kedua lelaki berseragam itu.


"Kang Yana … Kang Yani!" Sari berteriak kegirangan.

__ADS_1


Bagas dan Doni kembali saling menatap, "Kembar?!" ujar mereka bersamaan.


 


__ADS_2