Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 162


__ADS_3

Berita ditemukannya puluhan kerangka manusia tentu saja menggegerkan warga sekitar villa. Warga sekitar bergunjing dan menghembuskan berbagai macam rumor yang simpang siur. Pihak kepolisian dari tiga wilayah juga bergabung turut menangani kasus itu. 


Laporan kehilangan orang selama sepuluh tahun terakhir kembali dibuka. Dan khusus untuk kasus Danique Van Leeuwen, mereka harus berkonsultasi dulu dengan pihak kedutaan besar Belanda karena menyangkut keberadaan warga negaranya yang diduga terbunuh di Indonesia.


Kang Yana sudah menghandle semua prosedur yang berkaitan dengan kedutaan dan yang lainnya. Sari masih duduk terpaku tak jauh dari lubang milik Danique, semua lubang yang telah tergali diberi label dan nama khusus dari INAFIS. Sari diminta menjauh dari lokasi oleh Kang Yani. Bagas dan Doni menemaninya sembari memperhatikan kinerja kepolisian.


Tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa menunggu dan menunggu. 


"Sar, kamu kan sudah saya bilangin buat nunggu kabar kenapa nekat datang sendiri kesini?" Tegur kang Yani pada Sari yang masih terus menatap lubang tempat tulang belulang tantenya berada.


"Kelamaan, Sari dah nggak tahan aja!" 


"Cckk, kamu ini … semua kan ada prosesnya Sar, nggak semudah itu!"


"Keburu mom sama dad pulang ke Amsterdam kang! Tante Danique sudah cukup lama menderita, kang Yani nggak tau sih gimana susahnya Sari untuk …"


"Stooop! Nggak usah dilanjutin, kang Yani dah denger ceritanya dari Hendra." 


Sari pun mengunci mulutnya kembali. Kang Yani menggelengkan kepalanya, ia menatap Sari yang sesekali masih mengusap air matanya. Ia bisa merasakan kesedihan Sari. Kang Yani sudah mengetahui tentang apa yang Sari lakukan demi menemukan jasad Danique.


"Kalian bawa Sari pulang aja ke Cirebon, serahkan urusan Danique ke kami!" Perintah Kang Yani pada Bagas dan Doni.


"Sar, tolong percaya kan ini sama kami ok?! Kang Yani janji dalam waktu kurang dari sebulan tes DNA sudah keluar." Kang Yani mengusap bahu Sari dan terus memintanya bersabar.


"Beib, kita pulang dulu. Istirahat, kamu sudah cukup berusaha mencari Tante kamu. Sekarang waktunya pulihkan tenaga kamu." Bagas berusaha membujuk Sari yang masih tidak bergeming.


Sari kembali menatap nanar ke arah lubang itu. Ia memang sudah cukup lelah. Demi tantenya, demi dad Barend, Sari berjuang melawan maut. Bertarung dengan makhluk-makhluk aneh yang baru saja ia kenal dan yang paling menyedihkan kehilangan sosok Mang Aa.

__ADS_1


Danique Van Leeuwen muncul di sebelah Sari, ia membelai lembut rambut Sari dan tersenyum padanya. Sari menoleh, mereka saling bertatapan.


"Tante …"


Danique Van Leeuwen mengangguk padanya, "Kom naar huis, ik zal wachten."


(Pulanglah, aku akan menunggu.)


Sari mengangguk, ia menghela nafas sejenak lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Yuk, kita balik. Aku capek." 


"Eh, buset ni anak main hayuk hayuk aja! Tadi ditanya diem aja sekarang main ngacir aja dia. Derita Lo Gas punya calon makmum model begituan?!" ujar Doni pada Bagas yang juga dibuat bingung dengan kelakuan Sari.


"Tau dah Don, bakalan sabar bener gue ngadepinnya."


"Ada apa lagi Kang?" 


"Saya butuh keterangan kamu, mungkin besok atau lusa kamu bisa kan datang ke kantor?" tanya Kang Yani.


"Ok, insyaallah Sari datang."


"Sip, besok kang Yani hubungi kami. Pulang deh, istirahat! Salam buat mommy kamu?!"


Setelah berpamitan ala kadarnya, mereka pun kembali menuju kota Cirebon. Sari terlalu lelah. Tugasnya telah selesai. Ia merindukan Mang Aa, andai Mang Aa masih hidup ia akan menceritakan padanya dengan penuh suka cita. 


Tentang petualangan barunya di alam gaib, keseruannya bermain dengan keempat penjaganya, pertarungannya dengan Nyi Sekar Arum dan bagaimana ia menjalin pertemanan dengan Bayu. Dalam diamnya Sari menangis.

__ADS_1


Bagas yang sedari tadi berada disamping Sari hanya bisa mengusap tangan Sari dengan lembut dan memberinya ketenangan. Sesekali Bagas menyeka air mata dipipi Sari. Badan Sari terlalu letih, ia pun terlelap dalam tidurnya.


Perjalanan pulang menuju Cirebon terasa begitu cepat. Mereka tiba dirumah Tante Kurnia, mom Adeline langsung menghambur keluar begitu juga dengan dad Barend.


"Sari …" mom Adeline langsung memeluk Sari saat ia keluar dari mobil.


"Dank je schat, je hebt Danique gevonden


(Terimakasih sayang, kamu sudah menemukan Danique.) Dad Barend mengusap rambut Sari.


"Sari doet alleen het beste voor ons gezin."


(Sari cuma melakukan yang terbaik untuk keluarga kita.)


"Mom bangga sama kamu sayang, Dank lieveling." (makasih sayang.)


Mereka bertiga saling berpelukan erat. Beban selama lima belas tahun terangkat begitu saja. Akhirnya semua usai, tinggal selangkah lagi untuk membawa sisa -sisa jenazah Danique Van Leeuwen kembali ke Amsterdam.


Kedua orang tua Sari tidak sabar untuk mendengar cerita dari putri semata wayangnya. Sari memulai ceritanya dari awal mula datangnya buku tua milik Tante Danique yang datang secara misterius, hingga kenyataan bahwa Danique tewas secara mengenaskan oleh Arjuna.


"Danique yang malang …" mom Adeline menangis.


"Siapa sangka, nasibnya bakal seburuk itu. Padahal dia sama Imran sudah mau nikah. Mom senang banget waktu itu, tapi nasib berkata lain."


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Tante Danique, mom. Semoga hasil tes DNA bisa segera keluar dan kita bisa bawa Tante pulang." Kata Sari menenangkan mom Adeline.


"Jangan lupakan Kania sayang. Jika benar Kania putri Danique, mom akan bawa dia juga ke Belanda. Ia juga punya hak untuk mengetahui siapa ibunya." 

__ADS_1


Mom benar, tinggal menunggu berita Kania. Anak siapa dia ya? Si Juna apa mas Imran?


__ADS_2