Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 48


__ADS_3

Pak Koswara berdiri tidak jauh dari sang pawang. Ratih yang dalam posisi terikat duduk bersila, nampan yang berisi pakaian, make up dan perlengkapannya lainnya diletakkan di atas pahanya.


Sang pawang melakukan ritual pembacaan doa dengan posisi tangan kanan memegang kepala sang penari dan tangan kiri menyentuh pundaknya.


Ratih kemudian ditutup dengan ranggap, sang pawang berkeliling memutari ranggap sambil membacakan mantra. Acara sintren pun dimulai. Pesinden kembali menembangkan syair mengiringi masuknya penari dalam ranggap,


...Sih Solasih Sulandana...


...Menyan putih pengundang dewa...


...Ala dewa saking sukma...


...Widadari temurunan...


Sembari menunggu kesiapan penari sintren dalam ranggap, para penari bodoran lain melakukan tarian dengan sesekali bergerak memutari ranggap, diiringi syair lagu lain dari pesinden.


Tiba waktunya ranggap dibuka, Pak Koswara menunjukkan raut wajah terkejut dan rasa tidak sukanya. Sang pawang beserta pendamping pun terkejut melihat penari sintren belum berubah sama sekali. Seketika ia berpaling memandang ke arah Al dan si kecil Pandji. 


Sari yang memperhatikan hal itu dari jauh menyadari ada sesuatu yang tidak beres.


"Gas, liat deh kayaknya ada sesuatu yang gak beres." Kata Sari pada Bagas


"Iya, aku juga merasa gitu." Sahut Bagas

__ADS_1


Sari yang memperhatikan ke arah mana pandangan Pak Koswara mulai menyadari apa yang terjadi. Pandji kecil terlihat ketakutan dan bersembunyi dibalik ibundanya, 


"Mas Pandji … mas Pandji, itu pasti ulah kamu." Gumam Sari


"Kamu bilang apa Sar?" Tanya Bagas


"Sepertinya penarinya gagal tampil gegara mas Pandji, Gas." Jawab Sari 


"Hah, kok bisa dia kan masih kecil Sar sehebat itu apa dia?" Tanya Bagas tidak percaya


"Ehm, aura Pandji kuat banget Gas  aku bisa ngerasain itu. Suatu hari nanti Pandji bakalan jadi ksatria yang hebat bahkan Al ayahnya bakalan kalah pamor sama anaknya." Jawab Sari 


Ia melihat Al berlari mendekati Pak Koswara entah apa yang dibicarakan mereka berdua yang jelas tampak penyesalan yang terbaca dari raut wajah Al selaku ayah Pandji. 


"Iya juga ya, keren juga tu bocah bisa bikin kacau acara semistis ini lho. Mesti berguru ini saya ma dia!" Sahut Bagas.


"Hush, ngawur kamu Gas mo kamu belajar ke guru terhebat sekalipun kalo kamu gak bakat yo mpe jenggot mu memutih nda bakalan bisa Gas." Ujar Sari sambil tertawa kecil mendengar keinginan Bagas.


Tak lama setelah Al berbicara dengan Pak Koswara, ranggap kembali ditutup dengan Ratih masih berada di dalamnya. Al masih berada di sisi Pak Koswara. 


Dari kejauhan tampaknya seperti tidak melakukan apapun dan hanya berdiri menemani Pak Koswara. Bagi yang mengetahui, Al sebenarnya sedang menghapus jejak aura Pandji anaknya yang berhasil menghalangi proses pemanggilan roh.


Ia juga memanggil Danyang desa untuk meminta maaf atas apa yang telah dilakukan putranya. Sehingga prosesi ritual sintren kembali dilakukan ulang.

__ADS_1


Pak Koswara menatap tajam ke arah Sari, ia menatap dengan rasa tidak sukanya.


"Haduh, alamat iki Gas triple apes aku?!" Ujar Sari nelangsa


"Eh triple apes pie to, nda mudeng aku Sar?" Tanya Bagas keheranan


"Nti aku jelasin deh, duh Gusti luput … luput aku kena meneh judule, semoga lima jutanya nda nambah Gas bisa bangkrut aku?!" Keluh Sari


"Lima juta apaan lagi sih, yang jelas Napa ngomongnya?" 


"Uang ganti rugi semalem Gas, Pak Koswara minta lima juta tunai?!"


"Astaghfirullah, terus kamu mau bayar?" Tanya Bagas dengan ekspresi tidak percaya


"Lha pie meneh, ketimbang aku suruh jadi penari sintren sak lawase yo wegah no." Jawab Sari


"Gila tu orang maksa namanya, lagian kamu mau aja buat ganti Sar?" 


"Demi kelancaran liputan Gas, lagipula itu salahku juga kok biarlah anggap aja sedekah buat paguyuban mereka." Jawab Sari santai.


"Asal jangan merasa terpaksa sedekahnya." Ujar Bagas sambil tertawa 


Mereka berdua saling berpandangan, tertawa dan kemudian mengatakan secara bersamaan

__ADS_1


"Gara-gara hantu,"


__ADS_2