
Sari duduk diantara Mang Aa dan Mas Hendra. Mereka tampak serius untuk mengajak Sari bicara.
"Kamu nemuin Pak Adit?"tanya Mas Hendra serius
"Nggak kok, tadi diajak jalan bentar ma Bagas." elak Sari.
"Sari, dengar ya Mamang saranin jangan terbawa emosi menghadapi situasi seperti ini. Lebih baik kamu legowo aja menghadapi situasi seperti ini." Mang Aa berusaha meredam emosi Sari meski ia tahu Sari sudah bisa mengatasinya.
"Iya Mang Sari juga tahu kok. Tadi memang Sari mau nemuin Pak Adit tapi Bagas juga Doni kasih masukan ke Sari."
"Bagus kalo gitu, kedepannya bakal banyak rintangan buat kamu Mamang cuma bisa berharap kamu menghadapinya dengan tenang." pesan Mang Aa pada Sari
"Iya mang insyaallah."
"Mamang juga mas Hendra nggak bisa selalu menjaga kamu, jadi berhati-hatilah jangan memancing di air keruh tetap waspada!" katanya mengingatkan Sari lagi.
"Apa mungkin mereka bakal mencoba lagi Mang?"tanya Sari was-was
"Kemungkinan itu ada Sar, makanya kamu juga waspada. Sholat kamu jangan ditinggalin, amalan dzikir seperti yang Mamang ajarin terus dilakuin. Jangan lupa minta perlindungan Gusti Allah karena cuma Dia yang bisa menolong kamu!"
"Satu lagi kalo kamu bisa dan kuat puasa di hari tertentu jauhin makanan dari yang bernyawa!" saran Mas Hendra
"Vegetarian?"tanya Sari bingung
"Iya, tapi kalo kamu nggak kuat ya lakuin di hari tertentu aja nanti mamang kasih harinya apa aja sesuai perhitungan hari kelahiran kamu." jawab Mang Aa
Kenapa berasa latihan jadi dukun saya, harus begini yaa …, batin Sari
"Besok Mamang juga Mas Hendra mau balik ke Cirebon kamu kapan nyusul?"
__ADS_1
"Sepertinya lusa Mang, ada yang mau diselesaikan dulu disini."
"Hati-hati Sar, inget pesan Mamang ya."
Sari mengangguk tanda mengerti. Mang Aa menyerahkan sesuatu pada Sari dalam bungkusan kain putih.
"Pakai ini! Mamang khusus buat ini untuk kamu?!"
Sari menerima bungkusan putih yang berbau wangi, lalu membukanya. Cincin emas bermata merah delima dengan ukiran manis di sekelilingnya.
"Cincin?"
"Iya, pake itu buat jagain kamu. Mamang sudah isi itu cincin!"
"Isi apa mang, keju apa coklat?"kata Sari dengan cueknya sambil memutar dan menimang cincin bermata indah itu.
Jujur dalam hatinya Sari menolak memakai cincin dengan kekuatan seperti itu tapi demi menghormati Mang Aa akhirnya cincin itu disematkan pada jari manisnya.
"Kalo dibilangin orang tua jangan ngebanyol mulu dosa! Mang boleh saya jitak lagi nggak tu kepala, biar otaknya bener nggak geser?!" tanya Mas Hendra kesal pada Mang Aa.
Sari mengejek dan menjulurkan lidahnya pada mas Hendra, membuat Mang Aa tertawa kecil.
"Hadeeh, Adeline anakmu bikin darah tinggi ma gulaku naik ini. Untung Mamang mu ini sabar Sar!"
...----------------...
Malamnya, Sari diantar Bagas dan Doni menemui Seno kekasih Ratih. Melalui pesan singkat Seno meminta bertemu Sari di rumah Ratih bada isya.
Mereka tiba di rumah Ratih yang letaknya persis di belakang rumah pak Koswara. Tidak terlalu sulit mencarinya karena Seno memberikan arah dan patokan yang jelas.
__ADS_1
"Assalamualaikum …" sapa Sari
"Wa'alaikumussalam …" jawab seseorang dari dalam rumah.
Seno rupanya sudah menunggu Sari di dalam. Begitu juga dengan Ratih dan ibunya. Ratih mempersilakan Sari dan yang lainnya untuk masuk, tapi Sari menolak dengan alasan kegerahan. Cuaca memang sedikit panas malam itu. Namun ada alasan lain Sari menolak untuk bicara di dalam rumah Ratih. Privasi.
"Maaf, mas Seno bisa kita bicara 4 mata aja diluar?!"
"I-iya mbak."
Seno mengikuti Sari dan duduk di teras depan yang sedikit lapang. Raut wajah tegang tampak jelas ditunjukkan Seno, mungkin dia takut jika Sari membicarakan kejadian sore tadi.
"Mas Seno takut?"
Dengan ragu Seno menganggukkan kepalanya, matanya melihat ke kanan dan ke kiri seolah memindai keadaan. Sari tersenyum melihatnya.
"Saya nggak akan mengungkit itu. Saya kesini mau nanya sesuatu dan itu penting buat saya."
"Sesuatu apa ya mbak?"
"Mas Seno tahu dimana saya bisa menemukan sanggar penari topeng di Cirebon?" Sari bertanya dengan penuh selidik. Ia tidak ingin mengajukan pertanyaan langsung pada Seno.
"Tari topeng maksud mbak Sari?"
"Mungkin, apa penarinya wanita semua memakai topeng merah dan kostumnya berselempang batik dengan corak Mega Mendung?"
"Topeng merah? Topeng Kelana maksud mbak Sari? Itu ada di galeri seni saya Mbak. Selain galeri kami juga membuka sanggar tari untuk umum maupun kalangan tertentu."jawab Seno
"Maksudnya periset seni budaya?"
__ADS_1
"Iya, termasuk itu mba. Kami terkadang menerima kedatangan orang dari luar negeri yang ingin belajar dan melakukan riset seni budaya."
Dapat, mungkin ini petunjuk baru …,