
Sari yang kegerahan berniat mengambil air dingin di dapur bersamaan dengan Mang Aa yang keluar dari rumahnya. Mereka saling berpandangan seolah berbicara dalam diam. Sari mendekati Mang Aa dan berkata,
"Mang, ada tamu sebentar lagi!"
"Iya, siap-siap aja Sar! Mamang mau nyiapin sesuatu dulu, kamu jagain mereka di depan!"
Sari mengangguk dan kembali ke ruang tamu setelah menyegarkan tenggorokannya dengan air dingin. Ketika kembali ke ruang tamu Sari dikejutkan dengan keadaan rekan satu timnya yang telah tertidur pulas.
"Lho kok … padahal nggak ada lima belas menit aku tinggalin mereka." gumam Sari.
Sari merasakan kesunyian yang berbeda dari biasanya. Sirep telah dikirimkan sebagai penghantar datangnya malapetaka. Menidurkan siapapun yang menghalangi untuk memuluskan tujuan
Kegelisahan mulai melanda Sari. Bukan hanya karena merasakan senyap tanpa suara, tapi juga kulitnya yang terasa sakit dan meremang. Bulu-bulu di tubuhnya berdiri dan telinganya mulai berdenging aneh.
Sementara itu, Mang Aa bersholawat mengelilingi rumah, menyiramkan air yang sudah diberi doa sebagai pagar gaib supaya tidak ada mata gelap yang coba melihat ke dalam.
Sari tegang … dia menunggu Mang Aa di ruang tamu sendirian. Seluruh penghuni rumah telah terlelap oleh sirep yang dikirimkan. Yang tersisa hanya suara dengkuran Doni dan Ahmad yang saling bersahutan.
Suara jam dinding yang berdetak terasa begitu keras terdengar menghiasi ruang tamu yang sunyi senyap menambah rasa horor yang dirasakan Sari. Ia kembali berjaga mengawasi sekitar. Sari duduk bersila bersiap melakukan meditasi
__ADS_1
Baru saja Sari memejamkan mata untuk berkonsentrasi tiba-tiba terdengar suara aneh dari atap rumah tepat di atas Sari. Awalnya terdengar seperti kerikil yang dilempar di atas genting, lama-lama menjadi suara pasir yang disiram dengan keras dan jatuh hingga ke dalam ruang tamu.
Sari menjerit melihat penampakan laki-laki dengan wajah menyeramkan yang mengacungkan keris kecil padanya.
"Astaghfirullah … siapa kamu!"
Pria dengan wajah menyeramkan itu hanya menyeringai pada Sari menampakkan barisan gigi tajam dan keempat taring yang menembus bibir, matanya yang merah seolah menantang Sari untuk menyerang.
Duh Gusti jelek banget siiih ni demit, mbok ya yang dateng gantengan dikit kayak oppa Korea gitu, kan berantemnya jadi bikin nagih! Eh, astaghfirullah Sari … sadar Sar! batin Sari sendiri.
Mang Aa yang mendengar suara teriakan Sari berlari menghampiri keponakan cantiknya, ia berusaha melindungi Sari dari serangan mematikan.
"Sar, awas!"
"Aaaarrrgh …"
Mang Aa menggelepar di lantai menahan sakit yang teramat sangat. Pusaka kecil itu masuk ke dalam tubuh Mang Aa bersama dengan makhluk halus yang membawanya.
Pria dengan wajah menyeramkan itu menghilang. Dialah jin jahat yang ditugaskan membawa pusaka kecil dan kini ia ikut masuk kedalam tubuh Mang Aa.
__ADS_1
"Mang Aa!"
Sari berteriak, ia membelalakkan mata melihat Mang Aa menggeliat dan kejang, mulutnya penuh dengan darah dan matanya melotot menahan rasa sakit.
"Mang … mang Aa, sadar Mang! Ya Allah gimana ini, Mas Hendra! Mas …"
Sari kebingungan melihat Mang Aa yang terus menggeliat, mengerang kesakitan. Mang Aa terus mengeluarkan darah segar dari mulutnya hingga membasahi sebagian tubuhnya dan lantai. Bau anyir darah yang membasahi lantai tidak dipedulikan Sari. Ia kalut, bingung, dan tidak tau harus berbuat apa.
Ia terus memanggil nama Mang Aa berusaha menyadarkannya. Mas Hendra yang diharapkan datang membantu pun tidak kunjung datang karena terlelap oleh sirep yang dikirimkan.
Mang Aa terus mengerang, nafasnya tersengal sengal. Sari menangis memanggil nama Mang Aa. Hingga akhirnya tubuh mang Aa melengkung dengan teriakan panjang yang memilukan Sari. Mang Aa tewas.
Serangan mendadak dari dalam tubuhnya membuat Mang Aa tak sempat membuat pertahanan dan menyelamatkan dirinya.
Keris dan lelembut itu keluar dari tubuh Mang Aa yang sudah tidak berdaya. Terbang keluar dan menghilang dalam kegelapan malam meninggalkan Sari yang masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Nggak ... nggak mungkin, Mang Aa bangun!
dengan tangan gemetar Sari memeriksa denyut nadi Mang Aa. Tanda-tanda kehidupan telah lenyap meninggalkan tubuh Mang Aa yang terbujur kaku dilantai. Sari menangis histeris.
__ADS_1
"Mang … Mamang bangun! Mang Aa, jangan tinggalin Sari Mang! Maafin Sari, mang … bangun!"
"Mang Aa!"