Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 112


__ADS_3

Bagas berusaha menenangkan Sari yang semakin terbawa emosi. Meski Sari mengatakan bahwa ia hanya berpura-pura, tapi pada kenyataannya Sari telah berhasil memancing emosi Arjuna dan juga Mang Usep. Ia bahkan mengaktifkan sang penjaga, si maung bodas.


Doni melihat ketegangan yang terjadi diantara mereka segera mendekati Sari. Ia meminta Bagas untuk menjauhi Sari sejenak.


"Sar, Lo yakin?" tanya Doni. Disentuhnya bahu Sari untuk sedikit menenangkannya.


Sari menatap Doni, mata indah Sari seolah bukan lagi dirinya. Amarah telah menguasai gadis cantik berdarah Belanda itu. Doni kembali mengatakan sesuatu pada Sari,  "Belum waktunya, tenang!" 


"Tapi … "


Doni menggelengkan kepalanya pelan memberi jawaban pada Sari. Ia pun mengalah.


"Maaf mas Juna, lain kali jangan ulang lagi ya. Bisa kita lanjutin liputan kali ini?" Sari akhirnya meminta maaf pada Arjuna.


"Iya mbak Sari, saya juga minta maaf. Saya yang salah, silahkan lanjut lagi saya pergi dulu. Maaf nih suasananya jadi nggak enak." Arjuna berpamitan pada Doni dan Bagas. 


Arjuna berbalik dan meninggalkan Sari, tangannya mengepal kuat menahan amarah. Ia kalah telak, sesuatu yang belum pernah terjadi. Arjuna menatap sekilas Mang Usep sebelum berlalu meninggalkan aula pertunjukan.


Doni menghela nafas panjang, ia menepuk bahu sahabatnya dengan lembut.


"Lo dah buka peperangan tanpa Lo sengaja Sar!"


"Iya, aku tahu. Emosi aku, dia kurang ajar banget Don!"


"Gue tahu Sar, itu karena dia lagi cari mangsa. Sekarang musuh dah tahu Lo datang, siap-siap aja mereka ngincar Lo dan juga kucing itu!" jawab Doni sambil menatap kucing besar yang kini asyik melingkar di dekat Sari.


"Eh, Don kamu ternyata diem-diem tau beginian? Gila nggak nyangka lho aku, hebat bener nyembunyiin. Bertahun tahun jadi teman kamu, baru tahu aku?!"

__ADS_1


Doni hanya tersenyum, bukan ia tidak ingin memberitahu pada Sari hanya saja menurut Doni hal semacam itu tidak perlu diumbar ke orang lain cukup dirinya dan Yang Kuasa saja yang tahu.


"Dah kerja lagi, kita ngobrol nanti dirumah! Noooh si Bagas dah ngeliatin gue terus, asem bener tu muka!" 


Sari tergelak memandang Bagas yang sedari tadi menekuk wajah melihat kedekatan Doni dan Sari. 


Sari melirik ke arah maung bodas yang sedang asyik menjilati bulu-bulunya yang putih bersih, sesekali suaranya terdengar menggeram lirih seiring dengan mulutnya yang terbuka lebar.


Makasih sudah jagain aku disini …, batinnya mengajak maung bodas bicara.


Seolah memahami perkataan tuannya, maung bodas menatap Sari dan sedikit menggeram. Ia kembali menjilati bulunya tapi sejurus kemudian mengambil posisi siaga. Ia menatap Mang Usep, Sari mengikuti arah tatapannya dan tersenyum sinis pada pria paruh baya berikat kepala Singa Ali itu. Si penjaga seolah mengingatkan Sari bahaya yang mengincar ada di depannya.


Pertunjukan tari topeng telah usai. Mang Usep pun mengucapkan terimakasih pada para wisatawan dan mahasiswa seni yang telah menyempatkan diri jauh-jauh datang ke galeri miliknya. 


Sari memperhatikan Mang Usep dari kejauhan. Aura hitam yang menyelimuti Mang Usep tampak begitu pekat di matanya. Sesekali mereka tampak beradu pandang, saling mengintimidasi satu sama lain. Mang Usep memaksakan tersenyum pada Sari, berusaha mengurai ketegangan. 


"Mas, silahkan istirahat dulu sebelum lanjutin liputan. Makan siang sudah disediakan pihak galeri untuk menjamu mas dan kru." kata Dika memberitahukan pada Bagas.


"Ohya mas, makasih ini malah kita dikasih makan siang juga. Jadi ngerepotin ya?!"


"Ah nggak kok, cm makan siang biasa biar akrab." ahut Dika dengan ramah.


"Oke, kita beberes dulu ya mas." 


"Kami tunggu disana ya mas?!" kata Dika sambil menunjuk ke arah saung cukup besar yang berada tak jauh dari tempat mereka.


Bagas memberitahukan pada yang lain untuk break sejenak sebelum lanjut ke wawancara dengan mang Usep.

__ADS_1


"Mad, gimana dapet gambar bagus?" bisik Bagas pada Ahmad sambil membereskan gulungan kabel yang melintang di depannya.


"Liputan sip, our mission sip juga!"


"Konfirm ke Rara, apa semua clear? Kasih tau suruh break juga!" perintah Bagas.


"Siap bos!"


Ahmad segera menghubungi Rara untuk mengkonfirmasi tangkapan kamera tersembunyi miliknya. 


"Everything is clear!" Ahmad memberitahukan pada Bagas tentang hasil hidden coverage mereka.


"Bagus, yuuk kita makan siang dulu nggak enak bikin mereka nunggu!" ajak Bagas.


Mereka berjalan beriringan menuju saung yang sudah disiapkan. Sari sengaja berjalan paling belakang. Ia berjalan santai diikuti sang penjaga yang masih setia menemaninya. 


Mang Usep dan Arjuna menyambut kedatangan mereka. 


"Gimana, apa belum berhasil?" tanya Mang Usep pada Arjuna.


"Belum Bah, dia lawan yang tangguh saya salah pilih target. Lihat itu penjaganya nggak main-main!" jawab Arjuna


"Coba terus, dia tumbal yang bagus bahkan mereka juga milih dia! Kalo nggak berhasil juga, kita pakai cara seperti biasa!"


"Anjeunna mangrupikeun pangorbanan anu pangsaéna!"


(Dia memang tumbal terbaik!)

__ADS_1


__ADS_2