
Sari kembali merapalkan mantra rahasia milik trah Siliwangi, pedangnya semakin berpendar kemerahan. Energinya menguat membuat tangan Sari kebas dan tersengat hawa panas yang ikut keluar dari gagang pedang. Nafasnya memburu mengikuti tambahan energi yang juga mengaliri tubuhnya.
Wanita tua itu terkejut, nyalinya benar-benar ciut ia tidak menyangka gadis yang dianggapnya remeh itu memiliki energi luar biasa milik sang Prabu.
"Waktunya kembali ke neraka wanita jelek!"
Sari mengayunkan pedangnya kearah wanita tua jelek itu tanpa berpindah tempat, pedang milik Sari mengeluarkan energi kemerahan yang melesat dengan cepat menebas tubuh wanita tua itu tanpa ampun.
Mata wanita tua itu melotot, ia bahkan tidak bisa menghindar dari tebasan pedang Sari. Tubuhnya terbelah miring menjadi dua, dan seketika terurai berubah menjadi debu. Sari menang.
Ia beralih menatap keempat maung bodas miliknya. Mereka masih menghadapi dua orang yang tersisa. Yang lain sudah mati dengan tubuh yang tercabik-cabik tidak karuan. Dua maung mengitari mereka sementara dua lainnya hanya melihat sambil menjilati bulu yang terkena percikan darah lawan.
Sari merasakan aura jahat kembali mendekat dari kegelapan dimensi. Aura itu semakin menguat.
Siapa yang datang, mereka mengawasiku daritadi … satu, oh tidak dua makhluk lain mendekat!
Sar, bersiaplah! Mereka lawanmu yang sesungguhnya! ..., kata sang pemimpin maung mengingatkan Sari.
Sari mengeratkan genggaman pedangnya yang masih berpendar kemerahan. Dari balik kegelapan muncul dua pasang mata yang merah menyala berjalan dengan anggun. Mereka keluar dari kegelapan menampakkan dirinya. Sepasang pria dan wanita tua mengembangkan senyuman iblis.
"Ada tamu dari jauh rupanya!" Si Nini menyapa Sari
"Saya tidak menyangka kamu bisa mengalahkan nyai Sekar Arum, sungguh diluar dugaan kami!" kata si Aki
"Surprise huh?!" jawab Sari.
__ADS_1
"Anak jaman sekarang memang tidak tahu sopan santun!" sahut si Nini tertawa sinis
"Maaf, tapi saya kemari bukan untuk beramah tamah dan silaturahmi bersama kalian!" kata Sari lagi.
Ia melirik pada keempat maungnya yang rupanya telah selesai membinasakan pengawal Nyai Sekar Arum. Mereka mendekati Sari dan berubah wujud menjadi empat kesatria. Bersiap kembali melindungi Sari, tuannya.
Nini dan Aki yang belum terlihat tua itu melirik ke arah penjaga Sari, mereka saling menatap. Dilihat dari kemampuan, mereka berdua lebih unggul jika dibandingkan dengan keempat maung milik Sari tapi jika ditambah dengan kekuatan milik Sari, mereka bisa saja terluka.
"Saya kemari hanya ingin melepaskan roh yang ditahan disini. Mereka harus disempurnakan kematiannya, tidak lebih." kata Sari berusaha melakukan negosiasi.
"Mereka yang sudah terlibat perjanjian tidak bisa kembali dengan mudah kecuali … ada pertukaran yang layak!" sahut si Nini
"Tapi mereka hanya korban, bukankah saya sudah membunuh Usep dan Arjuna? Jadi perjanjian itu batal kan?"
Si Aki tertawa, ia berjalan membelakangi Nini dan mendekati Sari.
Sari mundur, keempat penjaganya mengambil posisi melindungi Sari.
"Saya tidak sedang bernegosiasi dengan kalian!"
"Kalau begitu cah ayu, kalahkan kami! Satu luka untuk satu nyawa, bagaimana?" tanya si Aki
"Aku bilang tidak ada negosiasi!" seru Sari sambil mengayunkan pedangnya ke arah mereka berdua. Mereka bergerak terlalu cepat, sabetan energi dari pedang Sari bisa dihindari.
Nini dan Aki itu berubah wujud menjadi sepasang harimau loreng yang cukup besar. Mereka berkelit dengan gesit, melompat dan bersiap menerkam Sari.
__ADS_1
Dengan sigap dua orang kesatria tampan pun berubah wujud menjadi maung dan meloncat ke arah kedua macan loreng yang mengancam Sari. Pergumulan antara mereka pun berlangsung sengit saling gigit dan mencakar diantara mereka.
"Bantu mereka kawan, jangan sampai kita kalah!" perintah Sari.
Terjadilah pertarungan sengit antara pasangan Aki dan Nini juga keempat penjaga Sari. Sari memperhatikan dari kejauhan, mencari celah kelemahan pasangan harimau bermata satu. Tak butuh waktu lama, Sari melihat kesempatan bagus untuk menyerang.
Mantra kembali diucapkan, pedang Sari memendarkan cahaya kemerahan. Tubuh Sari terasa seringan kapas, ia berlari diantara bebatuan, dengan segera melompat kearah salah satu harimau dan menebas kepalanya. Harimau itu ambruk. Meski kepalanya belum terlepas dari tubuhnya, ia masih bernafas.
Pasangannya mengaum dengan keras, ia marah dan menerkam Sari dari belakang. Salah satu maung segera menerkam macan loreng dan bergumul, saling menggigit dan mencakar.
Sari berbalik dan memerintahkan maungnya menyingkir. Ia mengaliri pedangnya dengan energi baru, kemudian melompat memutari sang loreng dan duduk tepat diatas punggung nya.
Tanpa membuang waktu Sari menancapkan pedangnya dikepala sang loreng hingga menembus tulang tengkoraknya. Sang loreng mengaum lirih dan ambruk. Dia mati seketika.
Harimau itu perlahan berubah kembali menjadi manusia. Si Aki tewas dengan pedang yang masih menancap di kepalanya, sementara si Nini menghembuskan nafas terakhirnya setelah melihat pasangannya mati.
Tubuh keduanya lebur seperti kertas yang terbakar api, perlahan menghilang. Sari mengambil pedangnya yang tergeletak diatas abu si Aki. Pertarungan telah usai.
Tangan Sari yang terluka sedikit gemetar, tapi ia baik-baik saja. Keempat maungnya membawa Sari kembali ke gua. Altar batu telah terbelah menjadi dua. Sari yang geram mengayunkan pedangnya ke pecahan altar dan membuatnya hancur berkeping keping.
"Akhirnya semua selesai juga!" gumam Sari
Tiba-tiba Sari merasakan nyeri yang sangat hebat dipunggungnya, ia bisa merasakan sesuatu mengalir membasahi punggung. Sari meraba punggungnya dengan tangan dan mendapati cairan kental berwarna merah menempel di telapak tangannya.
Sari berbalik ke belakang dan kembali merasakan nyeri di perutnya. Sebuah belati menancap tepat diatas pusarnya. Sari terkejut, mendapati seseorang didepannya menyeringai licik.
__ADS_1
"Dika …"