
Sari merasa lega setelah ritual penarikan pusaka itu usai. Meski masih belum percaya dengan apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Ini kali pertama Sari melihat pusaka yang bernama kujang Cakrabuana itu.
Sari memperhatikan Al dan Selia, ia cukup dibuat heran dengan pasangan milenial itu.
Kok bisa ya suami isteri klop gitu masalah mistis… ngeliatnya ngeri-ngeri sedap deh belum lagi anak-anak mereka, weird...batinnya sendiri.
Meski dia mengatakan mulai percaya pada hal-hal gaib tapi batin Sari masih enggan mengakui hal itu. Maung bodas, penari berwajah menyeramkan, dan buku tua itu masih Sari refleksikan dengan logika.
Al membangunkan Cakra yang masih tertidur lelap. Cakra terkejut dan bangun dengan tergagap.
"Kamu katanya mau lihat pusaka terbang kok malah tidur?" Tanya Al pada Cakra
"Mana … mana? Itu ya Mas?" Tanya Cakra spontan sambil membetulkan posisi duduknya.
Selia dan Sari tertawa geli melihat Cakra memperhatikan serangga yang terbang di dekat lampu, "Itu bukan keris, Mas! Itu laron …."
"Lah yang ngomong itu keris siapa?!"
__ADS_1
Tawa Al meledak melihat Cakra memaki dirinya sendiri. "Saya ketinggalan acara utama ya, Mas?"
Sari hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat wajah Cakra yang terlihat konyol di mata Sari.
"Ayo balik ke hotel, Sari mau istirahat. Besok aja mampir lagi lihat Sintren sebelum pulang ke Yogya," ajak Al masih dengan mimik jenaka.
"Sari nggak diajak aja, Mas? Saya kan tidur sendirian di hotel. Setelah lihat penampakan tadi kayaknya saya butuh teman tidur. Sumpah saya masih takut," kata Cakra hiperbola.
Eeh, ni orang apa-apaan yak … lha dikira saya guling kali jadi teman tidur …. Hadeeh untung cakep mas kalo nda melayang ni kursi… gerutu Sari dalam hati
Aku menimpali, "Halah modus tok kamu itu!"
"Mbak, saya masih bujangan. Umur saya juga baru 27 tahun, Mbak Sari nggak pingin kenal serius dengan saya. Saya anak baik-baik dan sedang cari istri," ujar Cakra menghampiri Raksa yang masih tidur, dan menggendongnya.
"Mas nya pede banget yaa, saya ndak pengen kenalan tuuh … hati saya sudah diambil orang, maaf ya?!" Jawab Sari sambil tersenyum
Cakra hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Sari.
__ADS_1
"Cakra … Cakra, kamu beneran sales handal. Bahkan dirimu sendiri juga kamu tawar-tawarkan, nggak salah istriku pilih kamu jadi kepala marketing," sahut Al seraya mengangguk pamit pada Sari.
Selia berpamitan pada Sari, "Sari mau ikut ke hotel?"
Sari tertawa ramah,
"Eeh, ngapain ikut kesana mbak nemenin Cakra? Bahaya nanti urusannya mbak, bisa digelandang ke KUA langsung!"
Selia pun tertawa mendengarnya, Sari melanjutkan perkataannya.
"Saya harus kembali ke rumah Pak Koswara, takut dicariin sama yang lain."
"Kamu nggak trauma kan?" Tanya Selia sedikit khawatir pada Sari
Sari menggeleng ringan, "Saya mulai terbiasa, saya banyak belajar dari Ibu sekeluarga. Mungkin memang ada hal yang harus saya selesaikan di sini."
Selia tersenyum lembut dan melambaikan tangan pada Sari tidak lupa ia menitipkan pesan untuk Mbak Diah dan Mas Hendra yang masih terlelap tidur karena mantra sirep Al.
__ADS_1
Sari malam itu tidak kembali ke rumah Pak Koswara, ia memilih segera tidur dirumah Abah Hadi karena kelelahan setelah penarikan kujang. Sebelumnya ia mengirimkan pesan singkat pada Bagas, agar tidak membuat khawatir rekan satu timnya.
***"