
Rombongan Sari tiba di kediaman orang tua mbak Diah. Rumahnya cukup luas karena keluarga mbak Diah cukup terpandang di desa Kroya. Halamannya bahkan bisa menampung keempat mobil rombongan Sari bahkan masih lebih.
Letaknya yang berada tak jauh dari Balai Desa membuat halaman luas milik orang tua mbak Diah sering digunakan untuk berbagai kegiatan desa termasuk pagelaran kesenian sintren.
Kedatangan mbak Diah rupanya sudah dinantikan keluarganya. Abah Hadi, ayah mbak Diah langsung menyambutnya dengan bahagia. Pria yang telah berumur tujuh puluh tahun itu tampak bahagia kedatangan putri semata wayangnya. Ia tinggal sendiri karena ibu mbak Diah sudah meninggal empat tahun lalu.
Setiap seminggu sekali mbak Diah menengok Abah Hadi sambil membawa semua kebutuhan ayahandanya. Abah Hadi tidak mau diboyong ke Cirebon dengan alasan klasik, cinta rumahnya sendiri biarpun gubuk dan kecil.
Berkali-kali dibujuk tetap saja Abah Hadi menolak, akhirnya mbak Diah menyerah dan menyewa salah satu tetangganya untuk menjaga ayahandanya tercinta.
Sehari sebelumnya mbak Diah sudah memberi kabar pada pembantunya untuk menyiapkan kamar yang akan digunakan Sari dan rombongan menginap. Dia juga sudah memberikan kabar kepada kepala desa dan pengurus RT RW setempat tentang kedatangan Sari dan rombongan.
Karena itulah rumah Mbak Diah sekarang ramai karena didatangi beberapa perangkat desa.
" Wah tamunya sudah pada datang yaa, mari silahkan masuk?" Sambut salah satu dari perangkat desa
" Makasih pak, maaf sudah mengganggu waktu istirahat bapak-bapak sekalian." Jawab Bagas dengan sopan
" Oh nda kok mas, kita malah seneng kedatangan tamu dari jauh apalagi katanya mau meliput kegiatan seni disini ya?" Tanya pak kepala desa
__ADS_1
" Rencananya begitu pak, maaf dengan bapak siapa ya dari tadi belum kenalan ni?" Tanya Bagas
" Walah iya sampai lupa, kenalkan saya Pak Edi ketua RT disini...Abah Hadi minta tolong sama saya buat wakilin beliau nerima mas dan mbak disini, maklum beliau sudah tua mas." Jawab Pak Edi
" Saya Bagas pak, dan kenalkan ini Sari, Doni, Ahmad, Rara, serta sponsor kami Pak Adit." Kata Bagas memperkenalkan masing-masing sambil berjabat tangan
" Wah masih muda-muda semua, ganteng dan cantik salut saya sama kalian yang mau mengangkat seni budaya." Sahut Pak Edi
Mba Diah tampak sibuk mengurus Abah Hadi yang seolah enggan lepas dari putri semata wayangnya sementara mas Hendra setelah meletakkan barang bawaannya di dalam bergabung bersama Bagas dan yang lainnya di ruang tamu.
" Hen, Abah Hadi mana nda ikut gabung disini?" Tanya Pak Edi
" Biasa pak di dalam sama Diah, kangen ma anak nya." Jawab Mas Hendra
" Jadi rencana kalian mau berada disini berapa lama?"
" Target sih satu Minggu pak, tapi bisa lebih tergantung situasi di lapangan gimana." Jawab Bagas
" Satu Minggu ya, eh tunggu dulu...wah kebetulan kalo gitu lusa Pak Agah Engkus mau nikahin anaknya katanya mau nanggap sintren tuh buat hiburannya." Kata Pak Edi
__ADS_1
" Pas bener ya pak, bisa langsung liputan saya." Sahut Bagas
" Boleh mas, besok saya ajak mas dan yang lainnya ketemu sama Mang Koswara, dia ketua Paguyuban Seca Branti yang menaungi para penari Sintren dan yang lainnya." Kata Pak Edi
" Siap pak, saya atas nama tim berterima kasih sekali atas bantuan dari bapak-bapak." Sahut Bagas
Hujan masih terus mengguyur malam dan menyisakan hawa dingin malam yang menggigit. Bagas dan yang lainnya masih asyik beramah tamah dengan perangkat desa setempat. Mengutarakan niat dan rencana mereka selama berada di desa Kroya Kabupaten Indramayu.
Mbak Diah menemani ayahandanya hingga tertidur pulas sementara mas Hendra masih menemani mengobrol bersama yang lainnya di ruang tamu.
Sari sendiri mulai merasakan kantuk karena lelah menempuh perjalanan ditambah udara dingin membuatnya ingin segera tertidur. Tapi demi menghormati para perangkat desa yang hendak membantu liputan ia pun rela menahan kantuknya.
Sesekali ia melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari belum juga ada tanda-tanda obrolan itu akan selesai. Sari mengajak Rara untuk beristirahat di dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuk mereka.
"Ra, tidur yuk ngantuk banget ni?" Ajak Sari
"Sama aku juga, yuk ah kita duluan biarin aja mereka ngobrol urusan lelaki." Sahut Rara
Sari dan Rara pun pergi tidur, merebahkan tubuh letih mereka. Tak butuh berapa lama untuk membuat mereka terbuai dalam mimpi.
__ADS_1
Menyiapkan energi untuk memulai liputan misteri pertama mereka.
***