
Sari tidak sadarkan diri. Ia terkulai lemas diatas ranjang. Tanpa tenaga dengan nafas lemah. Mas Hendra datang dengan terburu buru setelah mendengar kabar dari Annisa. Sari masih tidak sadarkan diri, tapi suara rintihan lemah masih terdengar keluar dari mulutnya.
Tante Kurnia memberitahukan pada mas Hendra tentang kondisi Sari. Ia kemudian menunjukkan material asing yang keluar dari tubuh Sari. Mas Hendra membuka kain putih yang membungkusnya, dan ia terkejut. Lempengan besi berwarna kehitaman dengan aneka ukuran, gulungan rambut, dan potongan bambu tipis. Semua itu berasal dari dalam tubuh Sari.
"Cckk, belum kapok juga itu orang! Dia nggak tahu berhadapan dengan siapa?!" gumam mas Hendra dengan kesal.
"Mang Aa kemana Bi?" tanya Mas Hendra pada Tante Kurnia.
"Dari semalam belum pulang, kata Bi Eka ada urusan sama temennya!" jawab Tante Kurnia.
"Pantesan kecolongan!"
"Sebenarnya ada apa sih Hen, kenapa sama Sari?" tanya Tante Kurnia bingung.
"Santet Bi, Sari kena kiriman orang lagi!"
"Lagi? Jadi ini yang kedua atau ke berapa Hen?" Tante Kurnia panik mendengarnya.
"Hendra nggak bisa jawab Bi, mang Aa sudah bisa dihubungi belum Bi?"
"Ni lagi dicobain lagi sama Nisa, kamu urus Sari deh kasian dia!" perintah Tante Kurnia pada mas Hendra.
__ADS_1
Mas Hendra mendekati Sari, ia mencoba melihat dengan mata batinnya. Memindai setiap bagian tubuh Sari dari energi negatif. Mas Hendra menghela nafas panjang lalu menatap Tante Kurnia.
"Gimana Hen?" Tante Kurnia membalas tatapan mas Hendra dengan cemas.
"Kita butuh Mang Aa Bi, dia yang bisa netralisir energi negatifnya. Saya belum kuat, cm bisa kasih Sari sedikit bantuan."
"Trus gimana ini Sari?" tanya Tante Kurnia
"Tunggu Mang Aa aja, Sari kuat kok hanya fisiknya memang semakin melemah."
Sari kembali mengerang kesakitan. Bagas dengan setia berjaga di sebelah Sari. Wajahnya yang pucat dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Tangannya terus memegangi perutnya, keningnya mengerut seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sari tidak menjawab, ia hanya kembali memegang erat lengan Bagas hingga menimbulkan jejak merah tangannya disana. Bagas meringis kesakitan tapi ia rela demi Sari pujaan hatinya.
Mang Aa akhirnya datang, ia segera mendekati Sari. Ia mengusap kepala Sari lembut dan membacakan sesuatu yang ditiupkan di ubun-ubun. Sari menggeliat, ia kembali merasakan sakit.
Dengan perlahan Mang Aa menyapukan tangannya dari arah leher ke perut Sari. Sari kembali mengerang kesakitan. Sesuatu seolah menusuk nusuk perutnya dan bergerak kesana kemari. Tangan Mang Aa bergetar, keringat membasahi tubuhnya.
Sari kembali memuntahkan isi perutnya. Kali ini hanya darah kental dengan beberapa darah beku yang menyerupai lintah kecil. Semua yang ada disana bergidik ngeri melihatnya. Sari kembali terkulai lemas. Kali ini dia benar-benar pingsan.
Mas Hendra membisikkan sesuatu pada Mang Aa. "Kang Malik dah kesini sama asistennya, bentar lagi nyampe."
__ADS_1
Mang Aa mengangguk, ia meminta air hangat pada Tante Kurnia untuk menyeka dan membersihkan Sari dari keringat. Sementara Bagas dan Doni membantu Annisa membersihkan darah yang tercecer di lantai. Tidak ada rasa jijik yang mereka rasakan. Ketakutan yang dirasakan mereka jauh mengalahkan rasa mual dan jijik pada darah yang menggenang.
Tidak lama kemudian, Kang Malik dan 2 asistennya datang. Aura menenangkan begitu terasa saat mereka bertiga memasuki rumah. Tante Kurnia menyambut kedatangan Kang Malik dan mengantarkannya ke dalam kamar dimana Sari berada.
Bagas dan Doni diminta untuk keluar kamar. Tante Kurnia dan Annisa menemani Sari yang masih lemas tak berdaya. Mang Aa dan Kang Malik tampak sedang berdiskusi sesuatu. Kang Malik diam dan memperhatikan dengan seksama kondisi Sari tanpa menyentuhnya.
"Hen, ambil Daun Bidara di belakang sama air sumur. Bidaranya ganjil ya." perintah Mang Aa
"Siap mang."
Mas Hendra langsung menuju ke arah pendopo. Disana memang tumbuh pohon Bidara yang cukup subur dan sering digunakan Mang Aa untuk pengobatan. Sebuah tembikar berukuran sedang diisi air dari sumur yang berada tak jauh dari pohon Bidara. Air sumur itu hanya digunakan untuk keperluan pengobatan saja.
Bagas membantu mas Hendra membawakan tembikar ke dalam kamar.
"Gimana Sari Mas?" tanya Bagas cemas.
"Doakan yang terbaik untuk Sari ya." Mas Hendra meminta Bagas dan yang lainnya menunggu dan berdoa untuk Sari, sebelum ia menutup pintu kamar.
Bagas menuruti permintaan mas Hendra dan hanya bisa duduk terdiam di ruang tengah bersama timnya. Kecemasan tampak di raut wajah mereka berempat.
Hari terasa sangat panjang, melelahkan dan menyakitkan bagi Sari. Semua berharap semoga Sari bisa bertahan dan kuat menghadapinya.
__ADS_1